BolaSkor.com - Banyak jalan menuju Roma dan banyak cara menggapai kekuasaan. Satu di antaranya adalah melalui sepak bola. Apalagi, jika jalur yang dipilih adalah klub terbesar di Spanyol, Real Madrid.

Dewasa ini, sejumlah pihak menggunakan sepak bola untuk mencapai tujuan berkuasa. Sepak bola sering dipilih karena sudah mendarah daging di masyarakat dari akar rumput hingga kaum jetset. Apalagi, jumlahnya cukup banyak untuk menjadi mayoritas.

Jalan itu juga diambil pemimpin diktator dari Spanyol, Jenderal Francisco Franco. Jenderal yang memiliki pandangan ideologi sayap kanan dan dikenal memimpin dengan tangan besi itu menggunakan Real Madrid sebagai satu di antara kendaraan politiknya.

Pada masa kepemimpinannya dari 1936 hingga 1975, ada sejumlah halaman yang menceritakan bagaimana kedekatan sang jenderal dengan El Real.

Satu di antara yang paling mencolok adalah keberhasilan Real Madrid mendatangkan Alfredo Di Stefano. Padahal, sang pemain lebih condong memperkuat Barcelona.

Pada awal 1950-an, Di Stefano dilabeli sebagai satu di antara prospek paling cerah di dunia sepak bola. Barcelona dan Madrid yang sudah menjadi tim raksasa saat itu turut memburu tanda tangan Di Stefano.

Namun, transfer cukup rumit. Meskipun memperkuat klub Kolombia, Millonarios, tetapi tim sebelumnya, River Plate, mengklaim transfer tidak sah karena ada kesepakatan yang dilanggar. Jadi, jika ingin mendapatkan Di Stefano, klub peminat harus mengetuk pintu River Plate.

Baca Juga:

Tolak Tawaran Selangit Al Hilal, Mbappe Dikabarkan Pilih Real Madrid

Kylian Mbappe Akan Pindah ke Real Madrid pada Deadline Day

Jawaban Mauricio Pochettino Terkait Rumor Chelsea Incar Kylian Mbappe

Alfredo Di Stefano

Ketika itu, Di Stefano sangat dekat bergabung dengan Barcelona. Barca adalah kandidat terdepan dan sudah menyatakan minat. Bahkan, Di Stefano telah bermain untuk Blaugrana pada laga pramusim.

Namun, ketika Di Stefano terlihat ada di depan mata Barcelona, tetapi arah angin justru berubah ke Real Madrid. Kabarnya, ada andil Jenderal Franco pada alterasi tersebut.

Teori yang berkembang saat itu berbunyi jika orang yang terlibat dalam negosiasi antara Di Stefano dan Barcelona adalah anak buah sang diktator. Jenderal Franco kemudian memerintahkan untuk menggagalkan transfer ke Barcelona hingga Madrid jadi pemenang.

Sejak resmi hengkang ke Los Blancos pada 1953, Di Stefano menjelma menjadi pemain bintang dan tidak tergantikan. Ia membawa Madrid delapan kali juara LaLiga dan lima kali menjadi yang terbaik di kompetisi Eropa.

Real Madrid kembali dikaitkan dengan rezim Franco ketika menghadapi Barcelona pada semifinal Copa del Generalisimo 1943 atau yang sekarang disebut Copa del Rey.

Pada leg pertama, Barcelona meraih kemenangan meyakinkan dengan skor tiga gol tanpa balas. Tak pelak, kans Real Madrid melaju ke laga puncak sangat tipis.

Namun, keadaan berbalik setelah Jenderal Franco turun tangan. Bak Sinterklas, Jenderal Franco memberikan hadiah berupa kemenangan besar untuk Madrid.

Jenderal Franco

Sejumlah pemain dan staf Barcelona dikabarkan didatangi para kroni Franco. Mereka diancam dan diminta membiarkan Real Madrid membalikkan keadaan.

Akhirnya, pada leg kedua Madrid menang dengan skor telak 11-1. Los Merengues pun berhak melaju ke laga puncak.

Meskipun keterlibatan Jenderal Franco pada episode itu sulit dibuktikan, tetapi sejumlah pihak meyakini memang ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi, skor yang sangat mencolok menjadi sinyal jika terjadi sesuatu.

"Dalam pertandingan di Bernabeu, Barcelona dikalahkan oleh tekanan militer dan orang-orang yang dekat dengan Falange (partai politik fasis)," ujar sejarawan, Joan Barau, kepada Goal.

Laju Real Madrid pun mulai sulit dibendung. Madrid berada di bawah payung yang dibentangkan Franco ketika cuaca mulai mendung. Jadi, harap maklum kalau Los Galacticos terlihat bak anak kandung.

Pada masa kepemimpinan Jenderal Franco, Real Madrid meraih lima trofi Piala Champions secara beruntun dari 1955 hingga 1960 plus satu lainnya pada musim 1965-1966. Selain itu, El Real juga merengkuh 16 gelar LaLiga.

Setelah Franco tidak lagi berkuasa, Madrid baru bisa memenangi Liga Champions pada edisi 1997-1998.

"Real Madrid adalah sebuah gaya sportivitas. Madrid adalah kedutaan terbaik yang pernah kami miliki," ujar Menteri Luar Negeri Spanyol pada era pemerintahan Franco, Fernando Maria Castiella.

Jenderal Franco

Tidak hanya membuat Madrid menjadi superior, Jenderal Franco diyakini juga memberikan tekanan kepada para pesaing Madrid. Selain Barcelona yang mewakili Catalonia, Athletic Bilbao yang merupakan representasi Basque Country juga terkena imbasnya.

Contohnya, Athletic dipaksa mengganti nama menjadi Atletico pada 1941 karena Jenderal Franco melarang menggunakan bahasa apa pun selain Castellano yang menjadi bahasa resmi Spanyol.

Los Leones juga terpaksa meninggalkan kebijakan yang hanya memperbolehkan pemain kelahiran Basque bermain untuk klub. Padahal, itu merupakan bagian penting dari tradisi dan warisan klub.

Pertanyaan besar yang mencuat adalah apakah alasan Jenderal Franco memilih Real Madrid sebagai klub yang didukung? Apakah benar El Real adalah kendaraan politik terbaik saat itu?

Bagi Jenderal Franco, Real Madrid bukan hanya stroberi di atas keik. Namun, lebih jauh dari itu, Madrid adalah fondasi dari gedung yang sedang dibangun.

Ketika kekuasaannya baru seumur jagung, Jenderal Franco tidak terlalu menaruh atensi kepada sepak bola. Namun, lambat laun sang jenderal menilik sepak bola bisa disulap menjadi panggung promosi. Apalagi, ketika itu laga Piala Champions sudah disiarkan televisi di sebagian negara Eropa.

Dalam pandangan Jenderal Franco, Madrid ditafsirkan sebagai indentitas nasional Spanyol. Los Blancos melambangkan kekuatan sentralisasi, bahasa, dan budaya tradisional Spanyol. Apalagi, pada saat itu Jenderal Franco membangun pusat pemerintahan, ekonomi, dan politik di Madrid. Sang jenderal pun beberapa kali menonton pertandingan Madrid secara langsung.

Real Madrid juga menjadi alat diplomasi dan politik bagi sang diktator pada lebih dari satu agenda. Satu di antaranya adalah keberhasilan Madrid--khususnya di Eropa--menghadirkan pandangan tentang Spanyol sebagai negara sukses, kaya, bahagia, dan bersatu di bawah komando Franco.

Dalil lainnya adalah untuk melancarkan kritik kepada Catalonia plus Basque Country, yang menggunakan sepak bola sebagai cara mengekspresikan identitas budaya dan bahasa serta ketidakpuasan terhadap rezim. Bagi Franco, keberadaan Catalonia dan Basque Country adalah ancaman besar untuk persatuan Spanyol.

Jenderal Franco

Tak pelak, hingga saat ini Barcelona sebagai rival terbesar Madrid masih menunggangi kisah Jenderal Franco sebagai amunisi melancarkan serangan. Madrid dianggap sebagai tim yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaan sejak dulu.

"Real Madrid selalu dipandang sebagai tim kerajaan dan dekat dengan kekuasaan. Dalam tujuh dekade terakhir, para eksekutif komite wasit selalu menjadi anggota klub atau merupakan mantan anggota dewan di Real Madrid," ucap presiden Barcelona, Joan Laporta, ketika mengomentari kasus penyuapan wasit yang menyandung timnya.

Akan tetapi, Real Madrid tidak lantas diam. Rupanya, Madrid punya bukti Barca juga pernah berada di bawah ketiak sang jenderal.

"Barcelona memberikan anugerah lambang emas kepada Jenderal Francisco Franco. Barcelona menjadikan Franco sebagai anggota kehormatan pada 1965. Barca diselamatkan tiga kali dari kebangkrutan melalui reklasifikasi dari Franco," ungkap Madrid dalam sebuah video.

Penolakan Madrid yang dikaitkan dengan Jenderal Franco memang bisa dipahami. Sebab, Jenderal Franco dikenal sebagai pemimpin kejam yang tidak segan melakukan penindasan. Bahkan, Jenderal Franco dituding sebagai otak di balik perang saudara yang menyebabkan banyak orang meninggal dunia.

"Barca meraih delapan titel LaLiga dan 9 trofi Copa del Rey selama masa jabatan Franco. Selama perang saudara, para pemain Madrid dibunuh, ditahan, atau diasingkan."

"Ketika mendengar Real Madrid telah menjadi tim rezim itu membuat kami ingin mencela ayah dari orang yang mengatakannya," tegas Madrid.

Dari kisah di atas, Jenderal Franco memang terlihat memiliki sejarah dengan sepak bola Spanyol, khususnya Real Madrid. Ia dengan cerdik menggunakan Madrid untuk mencapai tujuan politik dan melanggengkan kekuasaan.

Tidak heran, cara Jenderal Franco ditiru sejumlah pihak hingga saat ini. Sebab, sepak bola adalah nama lain dari tiket berkuasa di dunia politik.