BolaSkor.com - Luciano Spalletti telah membesut AS Roma selama dua periode dalam karier kepelatihannya, pertama pada medio 2005-2009 dan yang kedua pada musim 2016-17. Dalam dua periode itu juga Spalletti melatih ikon Roma, Francesco Totti.

Kapten sekaligus legenda Il Giallorossi menjadi one man club yang bermain untuk Roma dari 1992 hingga 2017. Totti menorehkan 250 gol di Serie A dengan jumlah penampilan 785 laga di seluruh kompetisi. Totti meraih satu Scudetto, dua Coppa Italia, dan dua Piala Super Italia di sana serta satu titel Piala Dunia dengan Italia.

Dalam periode tersebut Totti menjalani hubungan yang berbeda dengan Spalletti. Pada periode kedua Totti menilai Spalletti menjadi alasan di balik keputusannya pensiun, sebab Totti jarang main dan pada akhirnya memilih gantung sepatu.

Namun hal tersebut dibantah Spalletti yang bersikeras memberi keputusan untuk kebaikan tim. Pelatih berkepala plontos itu pun hanya bisa memberikan doa terbaik untuk Totti di masa depan.

Baca Juga:

Kisah di Balik Penunjukan Francesco Totti sebagai Kapten Termuda AS Roma

James Pallotta Paksa Francesco Totti Abaikan Cintanya kepada Roma

Nostalgia - Derby della Capitale, Ketika Selebrasi Gol Francesco Totti Menjadi Viral

Francesco Totti dan Luciano Spalletti

"Saya pikir hubungan kami tetap sama, tetapi dua fase membutuhkan sikap yang berbeda," ucap Spalletti dikutip dari Goal.

"Hasil tim adalah hal yang paling penting bagi seorang pelatih dan saya harus mengusahakannya. Saya selalu sama, hanya saja hal-hal yang berbeda terjadi mengharuskan saya untuk berperilaku berbeda, tetapi selalu untuk kebaikan tim."

"Saya harap Totti memiliki karier yang hebat sebagai agen dan saya yakin kami akan berpapasan di masa depan karena pekerjaan kami berdua."

Hubungan keduanya berbeda ketika Spalletti melatih di periode pertama dan memberikan dua titel Coppa Italia. Spalletti menempatkan Totti dalam peran semu sebagai false 9 atau striker semu di lini depan dalam taktik 4-2-3-1.

Spalletti melihat formasi 4-2-3-1 itu menjadi 4-2-3-0 karena timnya tak punya penyerang murni di lini depan. Totti menempati posisi spesial itu karena kelebihannya membaca permainan, membuka ruang, dan memberikan operan.

Selain itu pada saat itu Roma memiliki pemain-pemain berkualitas yang dapat mengoper bola dengan visi bermain bagus dan operan yang akurat.

"Tim Roma pertama saya tersentuh oleh cahaya matahari Romawi, yang terdiri dari para pemain yang bisa mengoper bola tanpa pernah membuat kesulitan bagi rekan satu tim mereka," imbuh Spalletti.

“Dibutuhkan banyak kualitas untuk melakukan itu dan mereka memilikinya, karena gerakan-gerakan operan itu membuat perbedaan dan membentuk tim yang memainkan sepak bola yang indah."

“Yang saya lakukan adalah berbicara dengan para pemain, mencari tahu apa kekuatan mereka dan menjadikan mereka protagonis. Saya mencoba menemukan kemampuan tersembunyi para pemain ini."

“Pada saat itu, saya memiliki angka nol di depan, dia adalah Totti, yang menciptakan ruang dan memastikan dia selalu lolos dari para pemain-pemain bertahan lawan. Dia adalah pakarnya dalam mengisi ruang," pungkas Spalletti.