BolaSkor.com - Gengsi Olimpiade memang masih kalah jika dibandingkan dengan Piala Dunia. Namun pesta olahraga multievent terbesar ini punya sebuah keunikan yang tak dimiliki turnamen sepak bola lain.

Olimpiade memang masih dianggap sebelah mata oleh negara-negara kuat sepak bola. Selain karena hanya diwakili Timnas U-23, ajang ini juga tidak masuk dalam kalender resmi FIFA.

Tak heran banyak negara yang tidak membawa para pemain terbaiknya ke ajang ini. Hal itu disebabkan karena berbenturan dengan jadwal liga-liga Eropa sehingga tidak dilepas klub.

Baca Juga:

5 Negara Tersukses dalam Sejarah Cabor Sepak Bola Olimpiade

Barcelona Tak Kuasa Halangi Pedri Tampil di Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade Tokyo 2020: Dua Alasan Pelatih Brasil Sertakan Dani Alves

Andres D'Alessandro (nomor 15) mempersembahkan medali emas bagi Argentina di Olimpiade 2004.

Namun seiring berjalannya waktu, daya tarik Olimpiade mulai memikat banyak pemain bintang. Bahkan bagi mereka yang sudah berusia di atas 23 tahun dan mengisi kuota tiga pemain senior.

Mantan bintang Argentina, Andres D'Alessandro punya pandangan menarik terkait hal ini. Ia menyebut tampil di Olimpiade menjadi pengalaman yang berbeda bagi para pesepak bola.

D'Alessandro tampil memukau pada Olimpiade 2004. Ia sukses membantu Argentina meraih medali emas pertama sepanjang sejarah keikutsertaannya di cabor sepak bola.

"Olimpiade itu spesial karena Anda hidup dalam semangat amatir di kampung Olimpiade yang tidak terjadi di kompetisi lain. Berbagi apartemen dengan tim lain, naik bus untuk sarapan, makan, berbagi meja dengan atlet dari olahraga lain," kata D'Alessandro kepada Goal.

"Kami semua biasa bertemu dengan atlet Argentina lainnya untuk makan, itu benar-benar luar biasa."

Sebagai ajang multievent, sepak bola memang diperlakukan sama dengan cabor lainnya. Meskipun, harus diakui olahraga ini memiliki daya tarik tersendiri.

Pada turnamen sepak bola lainnya seperti Piala Dunia atau Piala Eropa, setiap tim biasanya memiliki basecamp masing-masing. Biasanya tempat yang terpencil menjadi pilihan favorit.

Selain itu, setiap pemain kemungkinan hanya punya satu kesempatan untuk berlaga di Olimpiade. Hal ini membuat mereka tampil habis-habisan demi meninggalkan kesan yang manis.

"Kami memainkan Olimpiade yang brilian dan mengalahkan tim besar dengan nama besar. Saya ingat Italia dengan (Andrea) Pirlo dan (Daniele) De Rossi di perempat final dan Paraguay di final dengan (Carlos) Gamarra," tambahnya.

"Itu adalah pengalaman yang unik. Tanpa diragukan lagi ini menjadi salah satu gelar terpenting dalam karier saya."