BolaSkor.com - Banyak cara dilakukan klub Liga 1 untuk memperkuat tim-tim level mudanya. Seperti yang dilakukan PSS Sleman untuk membidik talenta muda dengan mengajak mereka untuk bergabung dalam program akademi U-15, U-16, dan U-17.

"Kami ingin memfasilitasi lebih banyak orang supaya bisa merasakan latihan ala PSS Sleman," ujar Kepala Development Center PT Putra Sleman Sembada (PSS), Guntur Cahyo Utomo, Senin (23/11).

Menurut Guntur, melalui akademi ini tim berjuluk Super Elang Jawa itu ingin memperluas serta memperkuat cakupan pembinaan klub. Dijelaskannya, ada sejumlah detail yang membedakan antara pemain dari Elite Pro dibandingkan pemain akademi.

Dari kategorisasi pemain, Elite Pro merupakan atlet-atlet yang memang dinilai memiliki potensi cukup besar untuk bisa dikembangkan ke level permainan yang lebih tinggi lagi.

Baca Juga:

PSIS Semarang Komentari Kepindahan Bhayangkara FC ke Solo

Persija Jakarta Dapat Lisensi Klub Profesional AFC Setelah Banding Diterima

Sedangkan di akademi, ungkapnya akan lebih memfasilitasi potensi lebih banyak talenta muda untuk berkembang.

”Di pembinaan sepak bola itu ada yang namanya late developer, jadi perkembangan anak-anak yang relatif lambat, kalau di Eropa itu sama seperti kasusnya De Bruyne. Di youth-nya mereka tidak begitu dilihat, cenderung diragukan apakah bisa mencapai top level atau tidak," kata Guntur.

"Tapi begitu sampai perkembangan optimalnya, tidak ada satu pun yang meragukan Kevin de Bruyne," lanjut Guntur.

Akademi PSS, tambah dia, salah satunya adalah memfasilitasi talenta-talenta yang seperti itu. Sudah tampak (potensinya) tapi belum maksimal, masih harus menunggu satu dua tahun untuk mencapai titik optimal mereka dalam berkembang.

"Nah, mereka-mereka ini yang juga harus dipelihara karena seringkali bakat yang sangat bagus tapi belum begitu tampak," tambah eks asisten pelatih Timnas Indonesia U-19 ini.

Lebih lanjut Guntur menjelaskan, akademi PSS ini akan menerapkan metode latihan yang sama dengan pemain di Elite Pro. Di samping itu, bakat-bakat muda dari akademi juga bisa dilihat langsung oleh pelatih Elite Pro.

"Pemain dari akademi juga bisa belajar langsung dari pemain profesional tim utama PSS," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, program serta fasilitas pengembangan akademi PSS ini diantaranya yakni latihan tim, latihan individu spesialisasi, analisis video, gym dan prevention, kompetisi resmi dan internal, trial/latihan senior, metodologi standar Elite Pro Academy, ekstra kelas meliputi gizi, psikologi dan mentoring, serta dilatih langsung oleh pelatih berlisensi.

"Akademi PSS mengkombinasikan pengetahuan dan keahlian dari pelatih berlisensi dengan pengalaman bersama tim nasional, mantan pemain profesional, dan analis performa berpengalaman di Liga 1 Indonesia yang concern pada pengembangan pemain muda," terang Guntur.

Selain Guntur Cahyo, coaching staff di akademi PSS ini diisi beberapa orang seperti Anang Hadi (mantan kapten PSS, head coach Elite Pro Academy U-18, B AFC), Lilik Winarno (Head Coach EPA U-16, B AFC), Noval Aziz (Training Methodologis klub Liga 1 dan PT LIB), dan Dani Rayoga (Performance analyst PSS 2018 dan klub Liga 1).

Adapun untuk syarat dan cara pendaftaran, calon pemain akademi ialah kelahiran tahun 2004, 2005, 2006, atau 2007. Kemudian mengisi formulir yang tertera pada media official PSS, serta membayar uang pendaftaran senilai Rp3 juta (mendapatkan jersey dan alat latihan personal) serta membayar iuran bulanan pertama senilai Rp1 juta. (Laporan Kontributor Muhammad Fadly/Yogyakarta)