BolaSkor.com - Ketika datang menginjakkan Santiago Bernabeu pada 2014, Keylor Navas bukanlah pemain yang diharapkan fans Real Madrid datang ke klub. Maklum, Navas datang dari tim yang biasa berkutat di papan bawah atau tengah klasemen LaLiga, Levante.

Madrid bukannya membeli 'kucing dalam karung' dalam diri Navas. Semusim sebelumnya (2013-14), Navas mengakhiri musim bersama Levante sebagai kiper dengan penyelamatan terbanyak di LaLiga (267 kali) dan kebobolan hanya 39 gol dari 36 pertandingan.

Catatan itu jelas spesial mengingat Levante bukan tim sekaliber Barcelona, Atletico Madrid, atau Real Madrid. Navas ada di urutan empat kandidat peraih Trofi Zamora (Kiper Terbaik). Tidak hanya itu, Navas membawa timnas Kosta Rika melaju ke perempat final Piala Dunia untuk kali pertama pada 2014.

Navas mencatatkan tiga clean sheets dari lima laga Piala Dunia dan sudah tiga kali terpilih menjadi Man of the Match. Navas masuk nominasi Sarung Tangan Emas sebelum akhirnya kalah dari Manuel Neuer.

Baca Juga:

Nasib Malang Thibaut Courtois, Susah Catatkan Clean Sheets dan Tak Bisa Ganti Nomor Punggung 1

Sergio Rico dan Keylor Navas ke PSG, Real Madrid Dapat Alphonse Areola

Menilik Alasan Mengapa Keylor Navas Masih Jadi Kiper Utama Real Madrid

Keylor Navas

Dua catatan di timnas dan Levante sudah cukup bagi Madrid memboyong Navas. Madrid menyiapkan rencana untuk menggantikan kapten sekaligus kiper legendaris, Iker Casillas, yang sudah berusia 33 tahun.

Setahun berselang Keylor Navas menjadi kiper utama Madrid setelah Casillas pergi ke Porto. Tapi, perlakuan publik kepada Navas masih tetap sama: pesimistis dan dihujani kritikan yang tidak layak diterimanya. Pasalnya, Navas hanya menjadi 'korban' dari kekecewaan fans.

Maklum, selain datang dari klub semenjana, fans Madrid kala itu menginginkan David De Gea sebagai kiper utama pengganti Casillas. Benar saja, Navas sempat menjadi 'alat' pemulus transfer De Gea dari Manchester United.

Madrid dan United melakukan barter pemain di antara kedua kiper. Namun, transfer keduanya batal karena keterlambatan dokumen. Seperti yang diduga, kedua klub saling menyalahkan atas transfer batal yang terjadi di bursa transfer musim panas 2015 itu.

Kegagalan itu menjadi salah satu kegagalan terbesar yang cukup populer dikenang hingga saat ini. Navas bahkan dikabarkan sempat menangis saat itu karena dilepas klub tanpa persetujuannya.

Kendati demikian, Keylor Navas tetap menunjukkan karakter yang menjadi kemampuan terbaiknya sampai saat ini: terus bertarung dan pantang menyerah. Kritikan, cibiran, nada pesimistis kepadanya terus diterjang bak pelaut menerjang ombak deras.

"Mereka memberitahu saya bahwa (Navas) berlatih seperti binatang buas di Valdebebas dan mencoba untuk memperbaiki kesalahannya. Dia berada dalam kondisi yang sangat bagus untuk bekerja dan kita melihat itu. Saya melihat hanya ada satu yang menjadi perhatian," tutur mantan kiper Madrid, Miguel Angel.

"Dia kurang pengalaman di laga besar, setidaknya dengan Madrid. Dia bermain untuk Kosta Rika di Piala Dunia. Levante tidaklah seperti bermain untuk Madrid," tuturnya pada tahun 2015.

Kerja keras tidak mengkhianati hasil. Keylor Navas nyatanya bisa bertahan selama lima tahun dan menikmati era keemasan Real Madrid di bawah asuhan Zinedine Zidane pada periode pertamanya melatih klub.