BolaSkor.com - Para pesepak bola dipaksa untuk kreatif selama terhentinya kompetisi akibat pandemi COVID-19. Seperti yang dilakukan gelandang Persis Solo, Susanto yang mendadak jadi chef untuk mengolah belut menjadi hidangan istimewa. Bagaimana kisahnya?

Susanto merupakan gelandang asal Purwodadi yang cukup lama jadi andalan Persis Solo. Dalam beberapa pertandingan, Susanto pun kerap kali dipercaya menjabat ban kapten. Dia bisa beroperasi sebagai bek tengah, bek kanan serta gelandang bertahan.

Karir sepak bolanya terbilang lancar. Selain Persis Solo, Susanto juga pernah membela Persipur Purwodadi, PSGC Ciamis dan Cilegon United. Ternyata, dari perjalanan sekian tahun, membela PSGC memberi keahlian lain.

Ketika tinggal di Ciamis, Susanto yang kala itu sekamar dengan penyerang PSS Sleman, Dimas Galih, rajin memasak sendiri. Salah satu yang rajin diolahnya adalah belut. Dari berbagai percobaan, Susanto menemukan ramuan tepat untuk menjadikan belut sebagai hidangan istimewa.

"Dari pengalaman itu, akhirnya saya punya ide untuk membuka usaha kuliner belut di Purwodadi. Saya membuka warung di rumah. Ini saya lakukan untuk menyambung hidup selama kompetisi terhenti," kata Susanto kepada Bolaskor.com.

Ini menjadi bisnis kuliner kedua yang dipilih Susanto selama kompetisi terhenti. Sebelum ini, Susanto juga sempat berbisnis baso aci yang kini dijalankan rekannya.

"Selain jualan di rumah, saya juga jualan lewat online. Kadang saat ikut fun game atau tarkaman di wilayah Solo Raya, saya sekalian bawa pesanan dari teman-teman sesama pemain," ucap Susanto.

Susanto jualan olahan belut dibantu keluarga sang istri. Belut yang diolahnya dibeli dari pengepul yang ada di Karanganyar. Dalam sehari, Susanto bisa mengolah lima kilogram belut.

Baca Juga:

Alasan PSSI Memberi Titel Piala Menpora 2021 untuk Turnamen Pramusim

Persib Siap Jadi Tuan Rumah Piala Menpora 2021

"Sebenarnya di Purwodadi juga ada yang jualan belut. Tapi tekstur ketika dimasak ada perbedaan. Mungkin faktor alam juga yang membedakan. Makanya saya ambil dari Karanganyar yang tekstur dagingnya lebih pas. Alhamdulillah sejauh ini permintaan datang terus," jelas Susanto.

Susanto bukan sekadar membuka bisnis, lalu dijalankan keluarganya. Dia benar-benar turun langsung. Bahkan olahan pepes, goreng biasa maupun geprek berasal dari bumbu yang dibuatnya.

"Ya dari pengalaman di Ciamis, lalu sering coba-coba juga ketika di rumah, jadi saya bisa mengolah belut. Terutama untuk menghilangkan bau amisnya kan kalau belut," lanjutnya.

Susanto memastikan bisnis kulinernya ini akan terus berlanjut, meski nantinya kompetisi sepak bola nasional sudah jalan. Situasi sepak bola yang belum pasti membuat pemain seperti dirinya harus memiliki usaha sampingan.

"Sekarang ini jualan untuk menyambung hidup, karena kompetisi belum ada. Tarkaman pun juga sepi karena banyak lapangan ditutup. Semoga ke depan usaha ini bisa terus berkembang. Terpenting lagi, pihak-pihak terkait bisa memberikan izin agar sepak bola bisa jalan lagi. Bagi pelaku sepak bola, ketika kompetisi jalan, ekonomi keluarga juga jalan," tutupnya. (Laporan Kontributor Putra Wijaya)