BolaSkor.com - Gelandang Persija Jakarta, Rohit Chand, memiliki cerita unik ketika memulai karier sebagai seorang pesepak bola profesional. Siapa yang menyangkan, sebelum menjadi pemain sepak bola, Rohit Chand adalah seorang atlet kriket.

Kriket memang salah satu olahraga yang cukup populer di Nepal. Bahkan banyak para pemuda yang berada di Nepal lebih memilih untuk menjadi seorang atlet kriket ketimbang menjadi pemain sepak bola.

Namun siapa sangka, takdir berkata lain. Ketika keluar dari kriket dan memilih untuk menjadi seorang pemain sepak bola, Himalayan Tiger ini justru meraih kesuksesan yang luar biasa, bisa dibilang ia merupakan salah satu pesepak bola tersukses Nepal saat ini.

Baca Juga:

Mengintip Asupan Gizi Pesepak Bola Profesional, Bisa Dicontoh Pemain Timnas Indonesia

Sudah Gabung Latihan Persija, Riko Simanjuntak Siap Genjot Kemampuan

Sejak kecil Rohit sangat menggilai olahraga kriket. Ia bahkan sempat mewakili desanya dalam turnamen kriket regional. Hingga kemudian, saudara kandungnya, Rabin Chand Takuri, "memengaruhinya" untuk bermain sepak bola dan menekuninya.

Ketika menggeluti karier sepak bolanya, Rohit berkembang sangat pesat. Ia kemudian terpantau oleh para pelatih dari Akademi ANFA, sebuah proyek nasional pembinaan usia muda yang disuport FIFA. Tapi sayangnya ketika mengikuti seleski Timnas U-14, ia gagal.

Namun, kegagalan itulah yang membawa dirinya bisa menjadi sekarang. Rohit terus bekerja keras dan terus mengasah kemampunya sampai pada akhirnya ia semakin tangguh untuk bangkit demi kemajuan yang lebih besar dari waktu itu.

Rohit Chand (FIFA)

"Kegagalan itulah yang saya butuhkan untuk mendapatkan motivasi untuk bekerja lebih keras. Jika Anda benar-benar menyukai permainan itu, Anda akan berkomitmen. Pada tahun berikutnya saya masuk timnas usia muda," ujar Rohit seperti dilansir dari laman resmi FIFA.

Selepas dari kegagalan tersebut, Rohit melakukan debutnya timnas Nepal pada tahun 2009. Ketika itu, Nepal bemain melawan Palestina, Rohit pun mencetak rekor pemain muda yang masuk ke dalam skuat timnas Nepal, saat iut usianya masih 16 tahun 22 hari.

Karier sepak bolanya terus meningkat, Rohit pun tak luput dari pantauan tim-tim di Eropa, bahkan saat itu ia hampir menandatangani kontrak dengan Kettering Town FC. Sayangnya ia harus melewatkan kesempatan itu karena alasan visa.

"Untuk waktu yang lama saya memendam harapan untuk pindah ke Eropa, tetapi sekarang tampaknya lebih kecil kemungkinannya. Klub-klub Eropa fokus pada membesarkan bakat-bakat muda. Sekarang di usia ini saya tidak melihat harapan untuk bermain di Eropa," ujar Rohit.

Rohit Chand. (Media Persija)

Rohit akhinya memilih karier perjalannya di Asia, pada tahun 2012 ia bergabung di PSPS Pekanbaru, setahun berselang Rohit memilih Persija. Bersama Persija, kemampuan Rohit berkembang. Sempat pergi dari Persija pada tahun 2015 dan bergabung dengan T-Team tapi pada 2017 ia kembali bermain untuk Persija.

Pada saat itu, permain rohit semakin matang. Rohit berhasil memberikan gelar juara Liga 1 2018 dan Piala Presiden 2018 untuk Persija. Bahkan di luar dugaan, di tahun yang sama ia berhasil meraih gelar pemain terbaik Liga 1 2018.

“Saya merasa keterampilan saya meningkat, dan permainan saya telah mencapai level yang lebih baik. Saya berterima kasih kepada manajemen klub atas kepercayaan pada saya,” ujar Rohit.

Lebih lanjut kesuksesannya saat ini juga terpengaruh oleh bintang AC Milan, Paolo Maldini. Menurutnya pemain asal Italia itu menginspirasinya untuk menjadi pribadi santun baik itu di dalam maupun di luar lapangan.

“Maldini merupakan pemain idola saya sejak anak-anak. Dia sampai sekarang tetap menjadi inspirasi buat saya. Dia tidak hanya sebatas seorang bek, tapi juga mempunyai kepribadian yang bagus, berjiwa pemimpin, dan konsisten di setiap pertandingan,” tutupnya.

Paolo Maldini (Zimbio)