BolaSkor.com - Pada jeda kompetisi, ada dua klub Premier League yang ramai jadi perbincangan; Manchester United dan Tottenham Hotspur. Rentetan hasil buruk yang diraih kedua klub ini menjadi alasannya.

Seiring jalannya waktu, kedua klub seperti semakin kehilangan kendali. Hasil di atas lapangan juga kian memburuk. Baik United atau Spurs pun sontak disebut sedang mengalamai krisis.

Melihat apa yang terjadi, adalah wajar jika Manchester United dan Tottenham dikatakan sedang bermasalah. Akan tetapi siapakah yang masalahnya lebih dalam?

Baca Juga:

Bukan Solskjaer, Penyebab Manchester United Terpuruk adalah Manajemen

Dua Fakta yang Membuktikan Manchester United Sedang Krisis

Janji Ole Gunnar Solskjaer pada Jeda Internasional


Skuat

Jika melihat skuat yang ada musim ini, masalah United terbilang lebih berat ketimbang Spurs. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan jika tim United saat ini adalah yang terburuk setelah ditinggal Sir Alex Ferguson.

Musim lalu Man Utd mengakhiri musim dengan skuat lemah. Kemudian kondisi memburuk dengan hengkangnya Romelu Lukaku dan Alexis Sanchez tanpa adanya pengganti setara. Singkat kata, skuat yang ada saat ini masih di bawah standar bagi klub sekaliber United.

Bagaimana dengan Tottenham? Sejatinya dalam hal skuat, saat ini Spurs tidak memiliki masalah. Mereka masih punya pemain mumpuni macam Harry Kane, Dele Alli, Christian Eriksen, Son Heung min, dan Toby Alderweireld.


Transfer Pemain

Sebagai klub, Manchester United memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain: Popularitas dan uang. United diyakini tidak akan kesulitan mendapatkan pemain di dunia ini meskipun dalam kondisi seperti saat ini.

Kabar terakhir menyebutkan United sudah memiliki rencana untuk mendatangkan pemain baru pada bursa transfer berikutnya.

Hal serupa tidak terjadi di Tottenham. Sudah bukan rahasia lagi jika Christian Eriksen ingin meninggalkan klub. Belakangan, dengan kondisi Spurs saat ini, pemain lain dikabarkan sudah resah.

Berbeda dengan United, Spurs akan kesulitan membeli pemain pengganti jika mereka benar-benar ditinggalkan para pilar.


Pemilik Klub

Fans Tottenham boleh saja geram kepada sang pemilik klub David Levy karena pelit mengeluarkan uang belanja pemain, tetapi di sisi lain mereka paham kalau Levy adalah seorang pengusaha yang tahu cara meraih hasil tanpa investasi besar.

Levy memutuskan berhemat dalam belanja pemain. Akan tetapi itu lebih disebabkan karena dia sudah menghabiskan sekitar 1 miliar poundsterling untuk membangun stadion baru. Terbukti awal musim ini Spurs sudah mengeluarkan sekira 102 juta pound untuk mendatangkan pemain baru.

Di kubu United, suporter sudah tidak percaya kepada keluarga Glazer yang memiliki klub dan Ed Woodward sebagai vice-chairman. Klub memang tidak pelit dalam belanja pemain, namun mereka melakukan tanpa perencanaan, semata untuk meredam keresahan fans.

Keputusan transfer dan manajemen menjadi sorotan utama seiring melorotnya prestasi Man United.


Manajer

Krisis yang mendera Tottenham adalah sebuah kejutan bagi kebanyakan orang. Pasalnya mereka melihat Mauricio Pochettino sebagai sosok manajer mumpuni. Pencapaian musim lalu dengan tim tanpa pemain baru dijadikan bukti kepiawaian Pochettino.

Situasi berbeda di Manchester United dengan Ole Gunnar Solskjaer. Jika dibandingkan secara langsung, tentu saja Solskjaer belum bisa disejajarkan dengan Pochettino.

Meski sempat menuai hasil gemilang saat masih menjadi pelatih sementara, Solskjaer bisa dibilang tidak mendatangkan perubahan. Bahkan sebagian besar fans tidak bisa menemukan alasan logis mengapa pelatih yang membawa Cardiff City terdegradasi dipercaya untuk membangkitkan klub sebesar Manchester United.


Paling Berpeluang Keluar dari Krisis

Jikapun harus memilih klub mana yang lebih memungkinkan keluar dari krisis, itu adalah Tottenham Hotspur. Apa dasarnya?

Berbeda dengan Man United, Spurs masih memiliki pemain berkualitas yang menjadi pemimpin. Sosok pemain inilah yang akan membangunkan skuat Spurs dari keterpurukan. Sedangkan United tidak memiliki sosok ini. Dengan kata lain, Man United saat ini seperti kapal yang terombang-ambing di tengah badai tanpa nakhoda.