BolaSkor.com - Dulu, Barcelona dan La Masia adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dilepaskan. Namun, perlahan-lahan, lekat yang terjalin mulai menuju arah perpisahan.

La Masia merupakan satu di antara akademi sepak bola yang paling termasyhur di dunia. Legenda Barcelona, Johan Cruyff, menjadi otak dari sistem taktik yang dikembangkan di La Masia.

Kesuksesan yang diraih La Masia tidak tercipta dalam semalam. Victor Valdes, Martin Montoya, Gerard Pique, Charles Puyol, Jordi Alba, Sergio Busquets, Xavi, Cesc Fabregas, Pedro, Andres Iniesta, dan Lionel Messi merupakan produk dari pabrik yang berputar selama lebih dari belasan tahun.

"Ini adalah hasil kerja keras yang dilakukan 15 hingga 20 tahun sebelumnya. Ini tidak terjadi dalam semalam. Orang-orang yang berjasa sudah tidak ada di klub saat ini. Saya menerima banyak pesan dari pelatih lama setelah pertandingan. Mereka juga bagian dari kesuksesan," ujar Victor Valdes seperti dilaporkan FourFourTwo.

Baca juga:

5 Dosa Besar Quique Setien Selama Menangani Barcelona

5 Catatan dari Pembantaian Barcelona oleh Bayern Munchen

3 Alasan Ronald Koeman Pantas Jadi Pelatih Barcelona

La Masia

La Masia terletak lima mil dari Camp Nou atau lebih tepatnya di dekat sungai El Llobregat. Nama La Masia diambil dari bahasa Catalan "Masia" yang memiliki arti rumah pertanian.

Pada awalnya, La Masia adalah akademi sepak bola yang jauh dari kata modern. Luas La Masia tidak terlalu besar dibanding akademi milik tim Spanyol lainnya, termasuk Real Madrid.

Namun, Barca sadar infrastruktur juga penting dalam menggeret kemampuan para pemain akademi ke tingkat terbaik. Oleh karena itu, pembanguan dilakukan. Pada 2007, La Masia pun terbuka untuk umum.

Barcelona juga membangun Estadio Johan Cruyff senilai 12 juta euro pada 2019. Meski hanya memiliki kapasitas 6.000 penonton, namun itu sudah lebih dari cukup. Alasannya, rata-rata suporter Barca B yang datang ke stadion adalah 2.900 penonton per pertandingan.

Dalam membangun mental bertanding, La Masia menekankan pada rasa hormat. Lawan tidak pernah disebut sebagai musim. Selain itu, banyak terpampang gambar Johan Cruyff dan Laureano Ruiz di beberapa sudut La Masia.

Selain gambar, ada juga beberapa kutipan dari Johan Cruyff yang ditujukan untuk memompa semangat pemain muda. "Sepak bola adalah permainan yang Anda mainkan dengan otak," dan "Saya lebih suka menang 5-4 daripada 1-0" adalah bunyi dua di antara kutipan yang tersemat di La Masia.

Pertandingan kontra Levante pada 2012 adalah satu di antara batu sejarah untuk La Masia. Tim utama yang sebelumnya kesulitan meraih gelar liga antara 1974 hingga 1991 telah bermetamorfosis menjadi juara LaLiga dan Liga Champions. Satu di antara alasan membusungkan dada adalah Barca meraih prestasi tersebut dengan bertumpu pada pemain jebolan La Masia.

"Pada 2010, tiga pemain La Masia adalah yang terbaik di dunia menurut FIFA. Itu tidak akan pernah terjadi lagi pada sejarah sepak bola. La Masia kemudian menjadi pemasok tim utama dengan delapan lulusan setiap pertandingan. Tentu saja, ada juga 11 pemain kontra Levante," ujar mantan pesepak bola, Jaume Llopis.

Namun, kejayaan La Masia perlahan mulai pudar. Alasannya adalah arah Barcelona yang mulai berubah. Barca mulai menutup pintu pemain akademi masuk ke tim utama dan mendapatkan menit bermain yang cukup.

Selain itu, Barca juga gemar menjual jebolan La Masia kepada klub lain. Setelah itu, uang dari hasil penjualan digunakan untuk membeli pemain yang dianggap lebih siap tempur.

Masalahnya, para pemain yang didatangkan Barcelona juga tidak semuanya langsung moncer. Antoine Griezmann, Philippe Coutinho, dan Ousmane Dembele adalah sederet rekrutan Barca yang datang dengan harga selangit, namun kontribusinya minim.

Lionel Messi sadar, ada yang berubah dari cara pandang Barcelona kepada La Masia. "Kami kehilangan sedikit komitmen untuk tim akademi. Anak-anak muda yang penting telah pergi. Ini jarang terjadi pada klub terbaik di dunia," ujar La Pulga.