BolaSkor.com - Lalu Muhammad Zohri terus membuat berita positif di cabang olahraga yang ia geluti, atletik. Namanya mulai dikenal saat secara mengejutkan menyabet emas di nomor lari 100 meter Kejuaraan Atletik Dunia U-20 di Finlandia tahun lalu.

Saat Asian Games 2018, Zohri juga kembali mengharumkan nama Indonesia berkat torehan medali perak pada nomor lari estafet putra 4x100 meter. Kisah prestasi pria berusia 18 tahun ini tidak berhenti sampai di situ.

Baca Juga:

Rebut Medali Perak, Lalu Muhammad Zohri Kini Jadi Manusia Tercepat di Asia Tenggara

Pelatih Atletik Indonesia Tak Terkejut Melihat Perkembangan Zohri

Lalu Muhammad Zohri
Lalu Muhammad Zohri di Nomor Lari 100 Meter Kejuaraan Atletik Dunia U-20 di Finlandia (Zimbio)

Terbaru, ia kembali mencatat tinta emas dalam sejarah atletik Indonesia dan Asia Tenggara. Pelari asal Lombok itu berhasil meraih medali perak pada Kejuaraan Atletik Asia 2019 di Doha, Qatar, Senin (22/4).

Tak hanya merebut medali perak, Zohri juga menorehkan catatan istimewa lainnya. Zohri memecahkan rekor Suryo Agung yang membuatnya kini menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara.

Sebelumnya, Suryo Agung menorehkan rekor sebagai pelari tercepat di Asia Tenggara pada SEA Games 2009. Saat itu, pelari asal Solo, Jawa Tengah tersebut membukukan catatan waktu 10,17 detik.

Sementara Zohri, berhasil dua kali melewati catatan waktu Suryo. Pada semifinal Zohri membukukan waktu 10,15 detik. Adapun di final pelari asal Nuusa Tenggara Barat itu mencatatkan waktu 10,13 detik.

Di balik kesuksesannya, ternyata ada perjuangan yang berliku. Adalah fakta ia kerap berlatih dengan telanjang kaki karena tidak memiliki sepatu yang layak untuk latihan. Meski dengan ketebatasannya itu, Zohri tetap berlatih secara maksimal.

"Dia anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini itu. Bahkan kalau berlatih tidak pernah pakai alas kaki. Karena memang tidak punya," kata Baiq Fazilah, kakak kandung dari Zohri.

Zohri merupakan anak putra ketiga dari Saeriah dan Lalu Ahmad, namun sayang kedua orang tuanya kini telah tiada. Ibunya meninggal saat ia duduk di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat saat ia berusia 17 tahun. Bakat kecepatan larinya sudah terlihat sejak SMP.

Tinggal dirumah yang sederhana tidak mengendurkan semangatnya untuk terus beprestasi. Rumah Zohri yang berdinding kayu dan bambu lapuk menjadi saksi perjuangan remaja berusia 18 tahun itu. Keinginannya adalah membanggakan keluarganya dan membuatkan tempat tinggal yang layak.

Fakta Zohri masih berusia muda, tentunya diharapkan sosoknya bisa meraih lebih banyak prestasi untuk Indonesia. Target tertinggi pastinya bisa tembus Olimpiade dan menyumbangkan medali.* (MA01)