BolaSkor.com - Liga-liga Eropa sudah mulai menetapkan tanggal dimulainya kembali lanjutan kompetisi musim 2019-20. Bagaimana dengan liga yang sudah terlanjur memutuskan menghentikan kompetisi seperti Ligue 1 Prancis?

Melihat apa yang terjadi di negara-negara tetangga, publik Prancis makin mempertanyakan keputusan untuk menghentikan Ligue 1. Ini adalah tanah juara dunia, tetapi apakah ini benar-benar negara sepak bola? Itulah pertanyaan yang diajukan beberapa orang di Prancis.

Debat telah berkecamuk sejak Ligue 1 memutuskan untuk mengakhiri musim sebelum waktunya di akhir April dengan 10 putaran pertandingan yang tidak dimainkan. Protes berdatangan, terutama dari klub-klub di zona Eropa dan degradasi.

Baca juga:

Dapat Lampu Hijau, Serie A Bisa Dilanjutkan 20 Juni

New Normal Menandakan Akhir Keuntungan Status Tuan Rumah di Dunia Sepak Bola

Premier League Resmi Kembali Bergulir 17 Juni, Dibuka Man City Vs Arsenal

Sementara, dalam beberapa hari terakhir, satu per satu negara tetangga Prancis mengumumkan akan melanjutkan kembali liga. Menteri olahraga Italia mengkonfirmasi bahwa Serie A akan kembali pada 20 Juni, sementara LaLiga dan Premier League juga sudah menetapkan tanggal.

"Seperti idiot" demikian judul berita utama di depan L'Equipe pada Jumat (29/5). Harian olahraga ternama Prancis itu mempertanyakan mengapa LFP sebagai operator kompetisi terburu-buru membuat keputusan mengakhiri musim.

Pengumuman LFP pada saat itu didasarkan pada pernyataan Perdana Menteri Perancis Edouard Philippe bahwa musim tidak dapat dimulai kembali ketika pandemi merebak pada akhir April.

Namun, Prancis telah secara teratur mengurangi lockdown dalam beberapa pekan terakhir dan Philippe menyatakan bahwa olahraga tim dapat dimulai kembali setelah 21 Juni.

"Kami akan menjadi satu-satunya negara sepak bola terbesar di Eropa yang tetap pada keputusan ini dan tidak mengkondisikannya pada evolusi pandemi dan pelonggaran lockdown," tulis Vincent Duluc di L'Equipe

Prancis bukan satu-satunya negara Eropa yang mengakhiri musimnya. Masih ada Belanda membatalkan kompetisi Eredivisie secara keseluruhan.

Di Prancis, Paris Saint-Germain dinobatkan sebagai juara untuk ketiga berturut-turut. Amiens dan Toulouse terdegradasi dan klub-klub tersebut telah mengajukan langkah hukum.

Namun, suara utama yang menentang penutupan awal adalah Jean-Michel Aulas, presiden Lyon, yang ada di urutan ketujuh ketika musim berhenti dan gagal lolos ke kompetisi antarklub Eropa.

"Saya sepenuhnya yakin bahwa apa yang terjadi bukan untuk kebaikan klub atau sepak bola Prancis secara keseluruhan," kata Aulas kepada Le Parisien.

Argumen utamanya adalah ekonomi. Sebelumnya Mei liga mengatakan harus mengeluarkan pinjaman yang dijamin pemerintah sekitar 225 juta euro untuk mengatasi klub-klub yang terkena dampak hilangnya pendapatan dari penyiaran karena begitu banyak pertandingan yang belum dimainkan.

Kebutuhan untuk melindungi kesepakatan TV baru yang lebih menguntungkan yang akan dimulai pada musim depan memang menjadi salah satu argumen yang mendukung keputusan untuk berhenti.

Sementara negara-negara lain yang telah dihantam lebih keras oleh pandemi ini menemukan cara untuk memulai kembali musim.

"Negara-negara lain telah mengadakan pertemuan antar-administrasi dengan perwakilan penting dari klub profesional, dan mereka memulai kembali," kata seorang eksekutif Ligue 1.

"Di Prancis tidak ada pertemuan itu. Dari jauh, Anda bisa menyimpulkan bahwa negara tidak benar-benar tertarik dengan sepak bola."