BolaSkor.com - Musim 2017/18 berjalan baik untuk Barcelona. Tidak pernah kalah di La Liga dan Liga Champions. Kekalahan yang mereka derita hanya datang dari Real Madrid di awal musim pada ajang Piala Super Spanyol serta Espanyol di Copa del Rey. Semua berjalan mulus, bahkan, menjelang leg kedua perempat final Liga Champions melawan AS Roma. Sebagian besar orang sudah yakin: Barca akan lolos dengan mudah ke semifinal.

Pemikiran seperti wajar terjadi. Barca sudah unggul agregat gol 4-1 dari leg pertama yang berlangsung di Camp Nou. Mereka hanya perlu tidak kalah lebih dari 0-2 untuk memastikan tiket di empat besar. Namun, pemikiran arogan itu langsung menjadi buah simalakama bagi Barcelona. Malam itu, di Stadio Olimpico, arwah-arwah gladiator Roma di masa lalu tengah merasuki seluruh pemain yang ditampilkan Eusebio Di Francesco.

Para pemain Roma tampil gigih memberikan high pressing tanpa memberikan kesempatan bagi Barca mengembangkan permainannya. Tiap kali menyerang, taring serangan Serigala Ibu Kota selalu tampak mematikan. Gol-gol pun lahir. Gol pembuka Edin Dzeko membangkitkan asa Roma, Dzeko kembali menjadi momok lini belakang Barca hingga Gerard Pique terpaksa menjatuhkannya. Daniele De Rossi yang ditunjuk sebagai eksekutor penalti tidak ada ampun mengeksekusi peluangnya menjadi gol.

Di babak kedua, memanfaatkan momentum keunggulan 2-0, Di Francesco mengubah taktiknya untuk lebih ofensif dengan mengubah formasi 3-5-2 menjadi 4-3-3. Cengiz Under dan Stephan El Shaarawy masuk. Menjelang akhir laga, drama itu pun benar terjadi, Under melepaskan tendangan dari sepak pojok yang ditanduk Kostas Manolas menjadi gol ketiga Roma. Stadio Olimpico bergemuruh kencang. Roma mati-matian mempertahankan keunggulan itu dan akhirnya lolos ke semifinal untuk kali pertama sejak tahun 1984.

Pasca peluit panjang berbunyi, suasana pecah. Pemain dan staf pelatih saling merayakannya seperti halnya sudah menjuarai titel Liga Champions. Suporter berteriak lantang dan satu kamera menangkap tangis bahagia dari fans kecil Roma. Sungguh, sungguh pemandangan yang indah.

Tangis bahagia Roma, di satu sisi lainnya, Barca terdiam. Mereka tidak percaya dengan hasil pertandingan tersebut. Barcelona menjadi satu dari tiga tim di Liga Champions yang tidak bisa mempertahankan keunggulan agregat tiga gol lebih untuk lolos ke babak berikutnya. Satu pertanyaan timbul: "Ke mana Lionel Messi?".

La Pulga benar-benar menghilang saat melawan Roma. Ia benar-benar terlihat seperti "manusia biasa", bukan alien yang seperti digambarkan media-media dunia. Magisnya saat membantu Barca menyingkirkan Chelsea di 16 besar Liga Champions hilang begitu saja.

Statistiknya pun sangat tidak Messi sekali. 19 kali kehilangan bola, hanya dua kali melepaskan tendangan tepat sasaran dari lima percobaannya, dan gagal mencetak gol pada dua laga melawan Roma. Teorinya, ketika Messi tampil buruk atau menghilang, maka Barcelona terkena dampaknya. Ini terbukti nyata saat melawan Roma.

Penampilan buruk Messi saat melawan Roma semakin mempertegas fakta, bahwa pemain berusia 30 tahun memiliki satu kutukan bernama: perempat final Liga Champions. Sepanjang kariernya, Messi telah meraih empat titel Liga Champions. Namun, rekornya belakangan ini di perempat final Liga Champions cukup ... buruk.

Untuk empat musim beruntun, Messi gagal mencetak gol di delapan besar Ligaa Champions, termasuk di antaranya pada laga melawan Atletico Madrid (tahun 2014 dan tahun 2016), Paris Saint-Germain (PSG) di tahun 2015, dan Juventus di tahun 2017. 10 Laga, tidak mencetak gol. Fakta yang cukup mengejutkan dari pemain yang sudah meraih lima Ballon d'Or.

Padahal, di masa lalu Messi pernah mencetak gol krusial yang meloloskan Barca ke semifinal saat melawan Bayern Munchen (2009), Arsenal (2010), dan AC Milan (2012). Fakta lainnya adalah, jika Anda mengaitkan cara tersingkir Barca di Liga Champions, ada satu paralel atau benang merah, di mana Barca selalu tersingkir ketika Messi tampil buruk.

Dalam tujuh tahun terakhir, Messi hanya sekali meraih titel Liga Champions pada musim 2014/15. Jelas, catatan-catatan tersebut membuktikan, ketergantungan Barca kepada Messi sudah sangat parah. Hal ini seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk para petinggi klub dan pelatih Barca, Ernesto Valverde. Kini, fokus Barca hanya di kompetisi lokal, yaitu pada ajang La Liga dan Copa del Rey.

Lionel Messi dan kutukannya di perempat final Liga Champions sejak musim 2006/07:

1. Liverpool (2006/07) 180 menit bermain/0 gol
2. Manchester United (2007/08) 152 menit bermain/0 gol
3. Inter Milan (2009/10) 180 menit bermain/0 gol
4. Chelsea (2011/12) 180 menit bermain/0 gol
5. Bayern (2012/13) 90 menit bermain/0 gol
6. Atletico Madrid (2013/14) 180 menit bermain/0 gol
7. Atletico Madrid (2015/16) 180 menit bermain/0 gol
8. Juventus (2016/17) 180 menit bermain/0 gol
9. AS Roma (2017/18) 180 menit bermain/0 gol