BolaSkor.com - Sosok Virgil van Dijk sangat vital dalam sukses Liverpool musim ini. Bek Belanda itu dianggap melengkapi kepingan yang selama ini The Reds cari.

Cukup lama Liverpool bermasalah di lini belakang. Lubang tersebut yang kerap dituding sebagai penghambat laju The Reds. Namun, masalah itu reda dengan masuknya Van Dijk. Terbukti Liverpool kontan tampil beda.

Bahkan eks Liverpool dan Manchester United, Paul Ince pernah menyamakan Van Dijk dengan Eric Cantona, yang kehadirannya di Man Utd langsung menjadi titik awal sukses Setan Merah.

Namun seiring jalannya waktu, ternyata masih ada kepingan lain yang dibutuhkan Liverpool. Ya, Liverpool masih membutuhkan sosok macam Van Dijk, di lini depan.

Liverpool memang memiliki trio tajam, Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah. Namun, untuk bisa sukses di Premier League dan Liga Champions, Liverpool perlu lebih.

Kebutuhan itu terlihat saat The Reds dibekap Barcelona 0-3 pada leg pertama semifinal Liga Champions di Camp Nou. Kekalahan telak yang patut disesali mengingat Liverpool tampil sangat apik.

Seperti yang dikatakan sang manajer, Jurgen Klopp, kalah di Camp Nou adalah wajar namun kegagalan membuat gol tandang membuatnya situasi menjadi sangat sulit.

Di Camp Nou, Liverpool sejatinya memiliki kesempatan, beberapa kali malah, untuk membuat gol. Tapi, mereka gagal mengonversi peluang menjadi gol.

Liverpool butuh opsi di sektor penyerangan. Itulah yang terlihat pada laga di Camp Nou. Dengan Firmino yang dicadangkan karena belum fit, Klopp secara mengejutkan memainkan Gini Wijnaldum.

Meski Wijnaldum bisa bermain bagus, dia bukanlah Firmino yang sehari-hari menempati posisi penyerang. Di Camp Nou terlihat Liverpool kehilangan sosok Firmino. Serupa dengan Salah dan Mane, peran Firmino dalam sistem Klopp tidak tergantikan.

Liverpool sangat tergantung kepada trisula maut mereka. Selain di Camp Nou, laga di final Liga Champions musim lalu juga bisa menjadi contoh. Liverpool mendadak kehilangan taji ketika Salah harus keluar karena cedera.

Mohamed Salah

Pada final di Kiev, Salah digantikan Adam Lallana. Di Camp Nou, Firmino diisi Wijnaldum. Lallana dan Wijnaldum bukanlah pemain sembarang, tapi mereka bukan Salah dan Firmino.

Bukankah Liverpool memiliki penyerang lain. Musim lalu ada Dominic Solanke dan Daniel Sturridge. Musim ini ada Sturridge, Xherdan Shaqiri, dan Divock Origi atau Alex Oxlade-Chamberlain. Benar. Tapi ini tentu menjadi pertanyaan, mengapa Klopp lebih memilih Lallana dan Wijnaldum ketimbang penyerang yang ada?

Jawaban yang paling memungkinkan adalah Klopp tidak begitu percaya dengan para penyerang pelapisnya. Klopp rela sedikit mengubah sistem permainan ketimbang memaksakan pemain yang tidak diyakininya.

Di tengah ketatnya kompetisi domestik dan Eropa, agak sulit jika Liverpool terus mengandalkan tiga penyerang utama. Mereka perlu tambahan penyerang yang bisa dirotasi tanpa mengurangi kualitas. Hampir semua klub kuat Eropa melakukannya.

Jika ingin bersaing dengan tim macam Man City di kompetisi domestik dan Barcelona di kancah Eropa, sangat masuk akal untuk Liverpool berinvestasi dengan mendatangkan paling tidak satu penyerang sekaliber trio yang ada.

Liverpool butuh satu pemain yang bisa menjadi kepingan yang hilang, seperti Van Dijk, namun kali ini di lini depan.