BolaSkor.com - Manchester City akan menjamu Chelsea di pekan 26 Premier League yang berlangsung di Etihad Stadium, Minggu (10/2) pukul 23.00 WIB. Untuk ketiga kalinya musim ini, dua jenius sepak bola, Pep Guardiola dan Maurizio Sarri beradu taktik.

Sepak bola bukan sekedar urusan taktik, melainkan bagaimana cara tim mengaplikasikan keinginan (ego) atau filosofi sepak bola yang dibawa masing-masing manajer. Baik Sarri dan Guardiola sama-sama hanya tahu satu hal dalam sepak bola: bermain ofensif.

Membandingkan keduanya dengan perbandingan karier di Inggris jelas tidak adil. Guardiola telah memulai revolusinya sejak tahun 2016 di Man City, sementara Sarri baru datang di awal musim ini ke Chelsea menggantikan kompatriotnya, Antonio Conte.

Terlebih, berbeda dengan Guardiola yang memiliki banyak waktu untuk mengembangkan filosofinya di City, Sarri tidak punya banyak waktu di Chelsea yang gemar gonta-ganti manajer. Proses tidak akan cukup bagi jajaran direksi Chelsea jika hasil akhirnya tidak membuahkan trofi.

Baca Juga:

Man City Vs Chelsea, Menanti Peran Krusial Sergio Aguero dan Eden Hazard

Prediksi Man City Vs Chelsea: The Blues Musuh Terkuat Pep Guardiola

Manchester City Vs Chelsea, Ketika Wasit Jadi Pusat Perhatian

Pep Guardiola dan Maurizio Sarri

"Kami bahkan belum belajar gerakan paling mendasar. Kami harus bekerja pada permainan mendasar, pondasi utama sepak bola saya, dan hanya saat itu kami akan coba mengubah beberapa hal," ucap Sarri mengenai proses adaptasi taktiknya di Chelsea.

Naik-turun performa dalam proses adaptasi itu sedianya jadi hal yang wajar. Itu bisa dilihat dari hasil-hasil Chelsea musim ini: Chelsea bisa tiba-tiba menang telak 5-0 kontra Huddersfield Town, setelah sebelumnya kalah telak 0-4 dari Bournemouth.

Tapi, sentuhan Sarri yang diramaikan dengan istilah "Sarri-ball" memang terlihat dalam permainan Chelsea saat ini. Tidak ada lagi formasi tiga bek, permainan yang cenderung hati-hati, dan N'Golo Kante bertranformasi menjadi gelandang box to box.

Chelsea menjadi kerajingan mendominasi penguasaan bola seperti Man City, dengan pendekatan permainan ofensif yang tentunya berbeda. Man City lebih cair dengan proses serangan yang bisa dibangun dari banyak arah.

Chelsea juga memiliki pergerakan dengan atau tanpa bola pemain yang cair. Namun, berbeda dengan City yang punya banyak pemain kreatif, Chelsea cenderung mengandalkan Jorginho sebagai sentral permainan tim.

Jorginho pivot (gelandang jangkar) yang berbeda dari Fernandinho. Kinerja Fernandinho terbantu dengan adanya David Silva, Bernardo Silva, dan Kevin De Bruyne di sisinya. Sementara Jorginho cenderung beroperasi sendiri sebagai pengatur tempo bermain Chelsea.

Tugas untuk bertahan Jorginho memang dibantu oleh Kante dan Ross Barkley atau Mateo Kovacic, namun di waktu bersamaan, 'otak' Jorginho juga memproses permainan dengan cepat melalui visi bermain, memikirkan ke mana bola akan dioper jika tiba di kakinya.

Sedikit gambaran perbandingan Jorginho dan Fernandinho itu hanya secuplik menggambarkan kejeniusan taktik Sarri dan Guardiola. Duel mereka nanti mungkin disaksikan jauh dari Italia oleh sang guru, Arrigo Sacchi.