BolaSkor.com - Fransesco Totti identik dengan AS Roma. Boaz Solossa merupakan bagian penting dalam sejarah Persipura Jayapura. Tapi Marwal Iskandar memilih jalur sebagai legenda sepak bola Indonesia.

Kalimat itu tepat untuk menggambarkan sosok mantan pemain yang identik dengan lipatan lengan baju ini. 18 klub pernah dibelanya semasa jadi pemain. Kini, sudah ada 12 klub yang kawal saat menjadi seorang pelatih.

Catatan itu tentu fantastis. Namun tak banyak yang tahu jika hobi pindah-pindah klub ini sudah direncanakan pemuda asal Palopo ini. Cita-citanya adalah membela enam tim besar di Indonesia.

Aksi Marwal Iskandar bersama Persib Bandung. (BolaSkor.com/Istimewa)

Dari 18 klub yang dibelanya, ada enam klub besar eks Perserikatan yang pernah dibela Kandar, sapaannya saat masa kecil. Mulai PSM Makassar, Persib Bandung, PSMS Medan, Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta.

Bersama tim-tim itu, Marwal tak sekadar duduk di bangku cadangan. Dia selalu menjadi petarung di sektor tengah. Maka tak berlebihan jika Marwal dikatakan sebagai salah satu legenda sepak bola Indonesia.

"Dulu memang punya keinginan untuk membela enam tim besar di Indonesia. PSM jadi yang pertama. Kemudian membantu Persib lolos dari degradasi, juara Piala Emas Bang Yos bersama PSMS, juara liga bersama Persipura. Lalu final Copa Dji Sam Soe bersama Persija dan kemudian Persebaya," terang Marwal kepada Bolaskor.com, Jumat (9/3) lalu.

Kliping koran yang dikoleksi Marwal Iskandar. (BolaSkor.com/Al Khairan Ramadhan)

Pemain yang sering pindah klub identik dengan masalah. Namun hal ini berbeda dengan Marwal. Dia mengaku selalu berpisah baik-baik dengan 18 klub yang pernah dibelanya. Sampai sekarang pun, seluruh jersey yang pernah ia kenakan di lapangan masih tersimpan rapi. Tak satupun jersey matchworn yang lepas dari tangannya.

"Ada ratusan jersey di rumah. Setiap sebulan sekali pasti dijemur. Ada yang tawar jutaan tapi tidak saya kasih. Keringat dan darah yang ada di jersey ini tak ternilai harganya buat saya. Ini akan saya simpan dan saya bagi cerita ke anak dan cucu," ucap bapak tiga anak ini.

Selain jersey, Marwal juga rajin mengkliping berita soal dirinya. Total sudah ada tiga tas yang berisikan koran tentang pemberitaannya selama membela PSM Makassar hingga kini jadi asisten pelatih Persis Solo.

"Saya rajin koleksi-koleksi berita. Sampai sekarang juga masih ingat dengan wartawan yang mewawancarai. Memang suka aja. Dulu sempat juga koleksi sepatu, tapi kemudian tidak dilanjutkan," ucap Marwal.

Marwal Iskandar bersama tim Persija Jakarta. (BolaSkor.com/Istimewa)

Marwal juga mengingat setiap peristiwa yang dilewati bersama klub-klub tersebut. Soal Stadion Manahan Solo dan Persis Solo, Marwal punya cerita tersendiri. Dia masih ingat saat Persebaya Surabaya menghadapi Persis Solo pada kompetisi Divisi Utama 2006/2007. Dalam laga tanggal 24 Maret 2007 yang berkesudahan 5-0 untuk kemenangan Persis Solo itu, Marwal jadi salah satu pemain yang diteror penonton.

"Masih ingat sekali. Itu mas Gondrong (Dirijen Pasoepati, Maryadi Gondrong). Lagunya...Aku punya anjing kecil, kuberi nama Marwal. Tapi sekarang sudah jadi teman satu klub. Ya dalam sepak bola biasa hal seperti ini," jelasnya.

Marwal Iskandar saat membela Persija Jakarta. (BolaSkor.com/Istimewa)

Marwal saat ini sudah masuk dalam tahap pertama kursus lisensi A AFC. Selama berkarir jadi pelatih dari tahun 2011, dia lebih banyak duduk sebagai asisten pelatih. Marwal menyebut hal ini sebagai bagian dari proses ke arah yang lebih baik.

"Dulu saya pernah ditawari pak Nurdin pilihan masuk PON Sulawesi Selatan atau PSM Makassar. Walaupun PSM klub yang saya idolai, saat itu saya pilih tim PON karena ada kesempatan bermain. Baru setelah PON selesai gabung PSM. Kita step by step. Jangan terlalu cepat naik, nanti turunnya juga cepat," pungkasnya. (Laporan Kontributor Al Khairan Ramadhan/Solo)