BolaSkor.com - Memori Piala Dunia pertama Mat Ryan datang 12 tahun lalu, ketika dia berada di masa awal kariernya sebagai penjaga gawang.

Ketika itu, Ryan kecil menyaksikan tim negaranya, Australia mencetak tiga gol telat untuk mengalahkan Jepang 3-1 di babak penyisihan grup Piala Dunia 2006 di Jerman. Dia dan tetangganya tidak bisa menyembunyikan kegirangan mereka.

"Saya ingat saat itu jam empat, lima pagi melakukan perayaan bersama keluarga. Saya membuka pintu, berteriak di jalan dan tidak peduli apakah saya akan membangunkan orang lain," kata Ryan sepert dilansir CNN.

Sepak bola di Australia semakin populer sejak itu. Sukses pada 2006 yang mencapai babak kedua di bawah Guus Hiddink mengangkat pamor sepak bola secara signifikan.

Sore ini, Ryan diharapkan berada di bawah gawang Australia saat memulai kampanye di Piala Dunia 2018 melawan tim favorit Grup C, Prancis.

Pemain berusia 26 tahun itu berharap Socceroos bisa meraih hasil yang berbeda dari Piala Dunia 2014. Empat tahun lalu, sembilan gol diterima Australia dalam tiga laga grup melawan Cile, Belanda, dan Spanyol. Australia secara memalukan terdepak dari Piala Dunia.

Ryan mengakui dia seharunya bisa melakukan lebih baik. Namun, dia mengaku masih ada keraguan dalam dirinya saat itu. Dia baru saja mengganti Mark Schwarzer yang mengumumkan pensiun sekitar tujuh bulan sebelum Piala Dunia 2014.

Namun saat ini, Ryan berada dalam performa terbaik dalam kariernya. Dia bermain setiap menit untuk Brighton di Premier League dan membantu Seagull mengukir catatan pertahanan kesembilan terbaik di Premier League musim kemarin.

"Dia pemain yang sangat antusias," kata manajer Brighton, Chris Hughton. "Dia berbeda. Kami tahu Ryan tidak sebesar penjaga gawang lain, tapi dia sangat atletis."

Kini, Ryan membawa mentalitas berbeda memasuki Piala Dunia 2018. Mentalitas yang berbeda daripada empat tahun lalu.

"Saya berpikir harus menghasilkan sesuatu yang istimewa. Saya menganggap Piala Dunia Brasil sebagai kesalahan. Saya seharusnya mendekati permainan seperti saat ini, penuh percaya diri," paparnya.

"Saya merasa telah tumbuh sebagai pemain dan seseorang melalui pengalaman saya di dalam dan di luar lapangan."

Pengalaman di lapangan termasuk menghadapi bintang semacam Christian Eriksen dan Olivier Giroud di Premier League. Sore ini, Ryan akan kembali menghadapi Giroud yang menjadi tombak Prancis. Sedangkan selang beberapa hari kemudian Ryan akan berhadapan dengan Eriksen dengan skuat Denmarknya.

Australia memang sulit untuk berbicara banyak di Rusia 2018. Untuk lolos ke fase gugur Socceroos harus berjuang sangat keras melawan tim besar macam Prancis dan Denmark. Selain itu, saat ini Australia tidak sekuat tim 2006 yang diperkuat Mark Schwarzer, Mark Viduka, Harry Kewell, Lucas Neill, Brett Emerton dan Tim Cahill.

Meski begitu, semua itu tak akan mengganggu mentalias seorang Mat Ryan yang berambisi menghapus kenangan buruknya empat tahun lalu. Mampukah dia?