BolaSkor.com - City Football Academy merupakan nama akademi sepak bola yang dimiliki oleh Manchester City. Akademi itu tidak begitu populer seperti halnya akademi Ajax Amsterdam atau Barcelona, tetapi alumni dari sana tidaklah buruk.

Produk akademi Man City susah-susah gampang menembus tim utama klub. Dahulu mereka jadi andalan di era Mark Hughes seperti Stephen Ireland, Micah Richards, Shaun Wright-Phillips hingga Nedum Onouha.

Akan tapi seiring kedatangan Sheikh Mansour pada 2008 produk akademi Man City tak banyak mendapatkan kesempatan bermain. Maklum saja, Mansour menuntut kesuksesan dari tim dan itu akan sulit jika tim berisikan pemain-pemain muda.

Tak ayal dari periode Mark Hughes, Roberto Mancini, Manuel Pellegrini, hingga kini bersama Pep Guardiola produk-produk akademi sekedar menjadi bagian rotasi pemain, bukan tulang punggung tim utama Man City.

Baca Juga:

Perempat Final Liga Champions: Tiga Youngster Inggris Bikin Pusing Southgate

Manchester City 1-2 Chelsea: The Blues Tunda Pesta Juara The Citizens

Pesta Juara Tertunda, Man City Derita Rekor Kandang Terburuk

Pep Guardiola

Satu demi satu produk akademi setelah Micah Richards dkk seperti Kelechi Iheanacho, Karim Rekik, Dedryck Boyata, hingga Angelino pergi. Mereka tak kuasa bersaing dengan nama-nama top seperti David Silva, Sergio Aguero, dan Kevin De Bruyne.

“Ketika mereka (produk akademi City) bertalenta, mereka akan bermain. Tetapi pada waktu bersamaan, kami harus bersaing setiap hari melawan yang terbaik di Inggris dan Eropa."

"Untuk itu kami perlu pemain seperti David Silva, Kevin De Bruyne, Sergio Aguero, dan Fernandinho. Tetapi jika basis tim adalah pemain muda, tidak mungkin (sulit untuk bersaing)," papar Guardiola kepada Guardian.

Akan tapi seorang pemuda dari Stockport, Inggris kelahiran 28 Mei 2000 ‘melawan arus’ dengan caranya sendiri di Manchester City. Dia adalah Phil Foden.

‘Melawan Arus’ ala Phil Foden

Phil Foden mewakili generasi teranyar dari City Football Academy dan jadi salah satu talenta paling berbakat. Pada 2017 silam namanya mulai terdengar sejak membawa timnas Inggris juara Piala Dunia U-17 dan kemudian menjadi runner-up Piala Eropa U-17 di tahun yang sama.

Foden satu almamater dengan produk akademi lainnya seperti Jadon Sancho dan Brahim Diaz. Sebagai rekan serta sahabat di satu tim yang sama ketiganya cukup dekat satu sama lain, tetapi Sancho dan Diaz mengambil keputusan berbeda.

Jadon Sancho dan Phil Foden

Jadon Sancho memilih pergi ke Borussia Dortmund pada 2017 yang diikuti oleh kepergian Brahim Diaz ke Real Madrid pada 2019. Kepergian Sancho itu memicu efek domino bagi pemuda-pemuda berbakat akademi yang jarang dapat kans main di tim utama.

Pasalnya, Sancho berkembang pesat dengan Dortmund dan tergolong sukses di usia muda hingga kini harganya mencapai 100 juta euro lebih. Kepergian Jude Bellingham dari Birmingham City ke Dortmund juga karena efek yang diberikan Sancho.

“Sancho sangat penting bagi saya. Bukan hanya karena dia berasal dari negara yang sama dengan saya atau karena dia berbicara bahasa yang sama, dia benar-benar merangkul saya. Dia memberikan saya kepercayaan untuk tetap berada di sini,” tutur Bellingham di Dortmund.

Melihat mereka pergi ke klub lain demi mencari jam bermain yang memang dibutuhkan pemain muda, Foden bisa jadi tergoda melakukannya. Tetapi dia ‘melawan arus’ dan mengambil jalan yang berbeda: bertahan di klub dan teken kontrak baru.

Pada Desember 2018 Phil Foden teken kontrak baru yang menahannya di City hingga 2024 dan gaji 300.000 per pekannya. Pep Guardiola jadi sosok pertama yang melihat bakat besar darinya.

"Sudah lama sekali sejak saya tidak melihat hal seperti ini. Penampilannya berada di level lain,” ucap Guardiola. “Dia berusia 17 tahun, dia adalah pemain City, dia besar di Akademi, dia mencintai klub, dia adalah penggemar City dan bagi kami dia adalah anugerah."

Buah dari Keputusan Bulat Bertahan di City

Berlatih, bekerja keras, dan menjalankan setiap instruksi Pep Guardiola, Phil Foden menemukan momentumnya pada 2020. David Silva pergi setelah 10 tahun membela City dan memberikan kesuksesan untuk klub (sesuai harapan pemilik klub).

Kepergiannya membuka jalan bagi Phil Foden mengisi perannya di tim utama City. Guardiola juga melihatnya sebagai pengganti Silva.

David Silva dan Phil Foden

"Phil pemain yang luar biasa, tetapi dia masih memiliki banyak hal untuk ditingkatkan. Butuh waktu untuk memahami apa yang harus dia lakukan. Anda harus bersabar," tutur Guardiola.

"David akan pergi musim ini dan kami tidak akan membeli pemain di posisinya karena kami memiliki Phil. Kami mempercayai Phil. Jika kami tidak percaya padanya, kami mungkin pergi ke bursa transfer untuk menggantikan David, tetapi kami memiliki Phil."

Perlahan tapi pasti Foden bak menjadi pemain senior dengan usia yang sudah prima di sepak bola Eropa di tim utama City, padahal usianya baru berumur 20 tahun. Tidak ada kecanggungan darinya bersanding dengan De Bruyne, Fernandinho, dan Aguero.

“Phil Foden benar-benar pemain muda spesial. Ya, masih banyak yang perlu dipelajari, tapi masih berusia 19 tahun, dengan talenta sebesar itu."

"Sentuhan bola, ketenangan, dan beberapa operannya, timing melepas bola dan pertimbangan, sangat hebat. Harus bermain di Piala Eropa,” ucap penulis ternama Eropa Henry Winter soal Foden.

Sejauh ini di musim 2020-2021 Foden telah telah mencetak 14 gol dan memberikan 10 assists dari total 46 pertandingan. Foden juga berpeluang memenangi treble winners bersejarah dengan City setelah memenangi titel Piala Liga, semakin dekat dengan Premier League, dan akan memainkan final Liga Champions.

Foden saat ini tengah menikmati keputusannya bertahan di Man City dan berkembang dengan Guardiola. Perkembangan itu bisa dilihat dari caranya bermain hingga peran berbeda dari gelandang serang, penyerang sayap, hingga false nine. Guardiola optimistis akan masa depan cerah sang pemain.

Phil Foden dan Pep Guardiola

"Phil bisa bermain di kedua posisi," kata Guardiola saat dia bersiap untuk membawa pemimpin Liga Premiernya ke Arsenal pada hari Minggu.

“Saya telah mengatakan berkali-kali dia masih sangat muda. Phil hanya perlu waktu untuk meningkatkan permainan batin. Saat Anda bermain sebagai pemain sayap, Anda harus bermain dengan satu tempo dan saat Anda bermain di dalam, Anda harus bermain dengan tempo yang lain.”

“Ketika dia mendapatkan keseimbangan ini dia akan menjadi 10 kali lebih luar biasa sebagai pemain. Ini hanya masalah waktu,” yakin dia.