BolaSkor.com - Bek tengah legendaris, Gerard Pique, memainkan pertandingan terakhirnya di Stadion Spotify Camp Nou pada akhir pekan lalu, dan menerima standing ovation ketika ia digantikan di tengah pertandingan.

Gerard Pique telah mengalami banyak momen di Stadion Spotify Camp Nou, tetapi ia tak pernah siap untuk menjalani momen perpisahan. Ketika ia digantikan di menit ke-85 dalam kemenangan 2-0 Barça atas UD Almería, pertandingan terakhirnya bagi Barca di kandang, seluruh stadion memberikan standing ovation kepada dirinya, dan menyorakkan namanya.

Itu adalah salam perpisahan yang pantas bagi dirinya, yang telah menjadi pemain Barcelona sejak lahir, pemain yang mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk klub asal Catalan tersebut, dan memenangkan setiap gelar yang ada.

Keputusan Pique untuk pension dari dunia sepak bola di usia 35 tahun mengejutkan banyak pihak. Pada 2020, Pique berujar bahwa ia akan menjadi pemain pertama yang mundur begitu ia tahu waktunya tepat, ketika tahu tidak bisa lagi menawarkan apa yang diminta Barcelona darinya.

Momen itu akhirnya datang di musim di mana ia harus menerima peran yang tidak biasa, yakni sebagai pemain pengganti, setelah klub menatap masa depan dengan merekrut bek muda di bursa transfer.

Baca Juga:

Hasil Pertandingan: Barcelona Kalahkan Osasuna, Milan Tertahan

Xavi: Cristiano Ronaldo Masih Dapat Jadi Pembeda untuk Manchester United

Barcelona Jumpa Manchester United, Xavi Hernandez: Undian Tersulit

Pique telah memilih untuk bertahan dan berjuang untuk menjadi pemain inti, namun setelah empat bulan berjuang untuk mempertahankan tempat di tim utama, dia merasa waktunya telah tiba bagi dirinya untuk mengucapkan salam perpisahan.

"Terkadang, melepaskan adalah proses dari mencintai sesuatu," kata Pique dalam pidato perpisahannya, yang diadakan setelah pertandingan di lapangan Spotify Camp Nou, dan diiringi dengan tangisan. “Setelah hubungan cinta dan gairah seperti itu, saya pikir inilah saatnya untuk pergi, untuk mencari udara segar.”

Kemenangan 2-0 adalah cara sempurna bagi sang bek untuk mengakhiri kariernya yang luar biasa bersama Barca, membantu tim menjaga clean sheet dan mengumpulkan tiga poin untuk terus bersaing merebut gelar LaLiga. Bahkan, Pique nyaris mencetak gol jika saja sundulannya tak melayang di atas mistar gawang.

Pique mengatakan “sampai jumpa”, bukan “selamat tinggal”

Pique sudah mengisyaratkan dalam video pengumuman pensiunnya bahwa dia tidak berencana untuk menjauh dari Barca terlalu lama. Ketika berbicara di lapangan pada akhir pekan lalu, dia bersikeras bahwa dia akan tetap terhubung dengan Blaugrana.

“Ini bukan selamat tinggal,” katanya kepada orang banyak. “Kakek saya menjadikan saya anggota klub. Saya lahir di sini dan saya akan mati di sini.”

Karier FC Barcelona yang luar biasa

Bek tengah ini meninggalkan Barca sebagai pemain dengan penampilan tertinggi kelima klub sepanjang masa, dengan catatan 616 penampilan, dan ia mengangkat 18 trofi utama, selain Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 bersama Spanyol.

Pique adalah bagian integral dari setiap kemenangan trofi itu. Kemampuannya dalam menguasai bola membuatnya menjadi bagian yang hilang yang dibutuhkan Barcelona untuk memainkan gaya penguasaan bola yang mereka sempurnakan di bawah Pep Guardiola dan kemudian diadaptasi di bawah Tito Vilanova, Luis Enrique, Ernesto Valverde, Quique Setién dan Ronald Koeman, dengan trofi yang terus mengalir.

Pique selalu bisa beradaptasi, sejak dia kembali ke Barca pada tahun 2008, meski tak banyak bermain bagi Manchester United dalam empat musim di Inggris.

Rekan bek tengah pertamanya adalah Carles Puyol, yang bertindak sebagai kakak baginya, membimbingnya di dalam maupun di luar lapangan. Namun, Pique juga berdampak pada rekan setimnya yang lebih berpengalaman, mengajarinya untuk lebih rileks dan merangkul sisi cerobohnya.

Dia juga memiliki pemahaman yang sangat baik dengan Javier Mascherano, membantu transisi El Jefecito dari gelandang bertahan menjadi bek tengah. Ketika pemain Argentina itu pergi, Barca berjuang untuk menemukan pasangan bek tengah yang konsisten, tetapi Pique tetap menjadi salah satu figur penting di posisi bek tengah, baik itu bersama Samuel Umtiti, Clement Lenglet, atau Ronald Araujo.

“Kami membutuhkan orang-orang seperti dia di tim, dia meninggalkan warisan kepemimpinan dan kepribadian yang besar,” kata Xavi Hernandez, rekan setim Pique selama bertahun-tahun yang gemilang dan kemudian pelatih terakhirnya di klub. “Dia akan membawa cinta yang ditunjukkan para penggemar malam ini ke kuburan. Dia adalah sejarah, dia adalah legenda, dan dia telah mendapatkan cinta itu.”