BolaSkor.com - Tidak ada yang menyangkal bahwa Massimiliano Allegri termasuk salah satu pelatih hebat dalam sejarah Juventus. Namun perpisahan Allegri dan Juventus adalah pilihan yang paling tepat.

Di bawah Allegri, Juventus total meraih 11 trofi dan dua kali tampil di final Liga Champions. Semua itu diraih hanya dalam rentang lima tahun. Tak tanggung-tanggung, selama di bawah Allegri, Juventus mampu mencatat rasio kemenangan hingga 71 persen di semua kompetisi.

Perpisahan dengan Allegri tak hanya berarti Juventus akan dibesut pelatih baru musim depan, tapi lebih dari itu. Ini adalah tanda dari berakhirnya sebuah era di Turin.

Allegri

Memang, di periode akhirnya bersama Juventus, Allegri terbilang gagal membentuk tim solid yang memiliki motivasi tinggi. Namun, semua itu tak menutup sukses yang dibawanya ke Bianconeri.

Meski begitu, sudah saatnya Juventus memulai start baru. Era di mana Allegri kesulitan memenuhi ekspektasi, khususnya di level Eropa harus diakhiri. Ya, boleh dibilang, Juventus di bawah Allegri sudah mentok. Secara taktik dan pendekatan permainan, Allegri sudah tak bisa memenuhi pengharapan.

Selanjutnya, kubu Juventus sejatinya tidak langsung melupakan peninggalan Allegri. Mereka justru meneruskan apa yang dibangun Allegri dengan menambal kekurangan yang ada. Apa yang dilakukan Allegri untuk membangun Juventus sebagai kekuatan dominan di Italia, bisa ditingkatkan ke level Eropa oleh sang penerus.

Jadi, sekali lagi, sudah tepatkah perpisahan ini? Jawabannya, iya. Sekali lagi, bukan karena Allegri gagal. Namun lebih kepada melihat jauh ke dapan.

Secara individu, Allegri adalah ahli taktik yang jenius. Siapa yang menyangka Mario Mandzukic bisa bermain sebagai sayap? Ya, Allegri melakukan itu. Belum lagi kesukaannya melakukan eksperimen yang acap dipuji.

Di sisi lain, belakangan Allegri semakin sering melakukan eksperimen dan perubahan. Keputusan yang secara tak langsung melucuti identitas Juventus. Karenanya, sudah saatnya Juventus menghentikan itu dan mencari sosok baru yang bisa menanamkan sebuah identitas ke dalam permainan Juve.

Waktu yang Tepat

Alasan lain mengapa perpisahan ini terjadi di saat yang tepat adalah suasana di ruang ganti. Allegri sepertinya sudah kehilangan cara memotivasi pasukannya. Para pemain sudah mulai tak lagi merespons sang pelatih. Sekali lagi, kondisi ini juga bermuara dari tidak ada konsistensi dalam pembentukan tim, yang selalu berubah.

Para pemain merasa tidak nyaman karena tidak tahu apakah akan dimainkan pada laga berikut atau sama sekali tidak masuk dalam daftar skuat meski di pertandingan sebelumnya tampil apik. Hal ini yang sempat diungkapkan oleh Medhi Benatia.

Juga simak apa yang diungkap saudara dari Paulo Dybala beberapa waktu lalu. "Dia (Paulo Dybala) tidak bahagia dan butuh perubahan. Banyak pemain yang berpikir untuk meninggalkan Juventus."

Perpisahan datang di saat yang tepat, karena jika terlambat, para pemain akan sama sekali tampil tanpa motivasi. Ujung-ujungnya akan lebih parah. Tanda-tanda sudah terlihat dari bahasa tubuh beberapa pemain. Bukan tanda yang bagus.

Apakah ini bukan berarti pemain yang membuat Allegri pergi? Bisa jadi. Pemain tentu tak lepas dari beban kesalahan. Tapi satu hal yang pasti, adalah tugas pelatih untuk menjaga motivasi pemain. Faktor ini yang dituding menjadi alasan Juventus gagal di level Eropa.

Bukan rahasia lagi, kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions, adalah medan perang yang berbeda dengan kompetisi domestik. Apalagi bagi tim macam Juventus yang seperti tidak memiliki lawan di Serie A. Dengan motivasi minim pun mereka masih mendominasi.

Karena itulah, tim-tim macam Ajax Amsterdam, Tottenham Hotspur, dan Liverpool mampu melangkah jauh di Liga Champions ketimbang Juventus, Real Madrid, dan Barcelona. Secara kualitas skuat Madrid, Juve, dan Barca tentu lebih baik. Tapi, soal motivasi pemain, semua bisa melihat apa yang tersaji di lapangan.

Lalu, kini masuk ke dalam pertanyaan yang penting, pelatih seperti apa yang dibutuhkan Juventus?

Idealnya, pelatih baru Juventus sejatinya seorang motivator ulung yang memiliki identitas terkait permainan. Pelatih yang sudah yakin dengan sistem yang dipakainya, tapi juga terbuka untuk melakukan adaptasi jika dibutuhkan. Tentu saja sang pelatih juga wajib memiliki mental juara yang bisa ditularkan kepada pemain. Dan, yang terpenting adalah pelatih itu memiliki kemampuan untuk membangun rasa kebersamaan dan saling memiliki dalam tim.

Menarik ditunggu apakah Juventus berhasil menemukan sosok yang tepat sebagai pengganti Allegri.