BolaSkor.com - Manchester City menjadi satu di antara klub yang paling banyak dibicarakan dalam satu pekan terakhir. Bukan karena prestasi, The Citizens justru menjadi buah bibir setelah mendapatkan hukuman dari UEFA terkait Financial Fair Play atau yang beken disebut FFP.

Setelah melakukan penyelidikan mendalam, UEFA menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan Manchester City. The Citizens dianggap melakukan pelanggaran serius soal peraturan FFP.

Akibatnya, Manchester City dihukum tak boleh tampil di kompetisi Eropa pada dua musim ke depan. Selain itu, The Citizens juga wajib membayar denda hingga 30 juta euro.

Baca juga:

Pep Guardiola Berniat Bertahan Meski Man City Terlempar dari Premier League

Skenario Terburuk bagi Man City Terkait Hukuman UEFA

UEFA Manchester City
UEFA

Saat ini, kasus masih terus bergulir. Man City melakukan perlawanan dengan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Arbritase Olahraga (CAS).

Sejatinya, FFP merupakan peraturan yang sudah lama dikeluarkan UEFA. Financial Fair Play dibuat UEFA untuk memastikan klub sepak bola tidak membelanjakan lebih dari yang mereka dapatkan.

Dengan melakukan itu, akan mencegah para dari jatuh ke dalam masalah keuangan yang dapat membahayakan kelangsungan hidup jangka panjang. Peraturan FFP juga dibuat untuk mencegah klub dari pengeluaran berlebihan di beberapa musim dalam kerangka anggaran yang ditetapkan.

FFP mulai diterapkan pada musim 2011-2012 setelah disetujui Financial Control Panel UEFA pada September 2009. Presiden UEFA saat itu, Michel Platini, dianggap sebagai satu di antara penggagas.

"Lima puluh persen klub kehilangan uang dan ini adalah tren yang meningkat. Kami harus menghentikan spiral menurun ini. Mereka telah menghabiskan lebih banyak dari yang mereka dapatkan di masa lalu dan belum membayar utangnya," ujar Platini seperti diwartakan Goal.

FFP juga diharapkan akan menciptakan peraturan sehat pada bursa transfer. Klub dengan keuangan besar tidak mendapatkan jaminan bisa mengeluarkan dana dengan bebas. Sebab, mereka harus mengkalkulasi keuangan hingga akhir musim untuk terhindar dari hukuman.

"Kami tidak ingin menyakiti klub. Namun sebaliknya, kami ingin membantu mereka di bursa transfer. Banyak di antara pemilik klub menyuntikan uang ke dalam tim. Semakin besar uang itu, semakin Anda sulit menjual dengan keuntungan."

Inti dari peraturan FFP adalah persyaratan titik impas, di mana klub diperintahkan untuk tidak menghabiskan lebih dari pendapatan yang mereka hasilkan. Selain itu, mereka harus menyeimbangkan buku pengeluaran selama 3 tahun.

Dalam hal pendapatan, hanya pengeluaran klub dalam transfer, tunjangan karyawan (termasuk upah), biaya keuangan, dan dividen akan dipertimbangkan atas pendapatan dari penjualan tiket, pendapatan televisi, iklan, keuangan, penjualan pemain, dan hadiah uang. Dana yang dihabiskan untuk infrastruktur, fasilitas pelatihan atau pelatihan pemuda tidak akan dihitung.

Hukuman dari FFP pun beragam. Semua disesuaikan dari pelanggaran yang dilakukan.

Hukuman berdasarkan tingkat pelanggaran

  • Teguran atau peringatan
  • Denda
  • Pengurangan poin
  • Pemotongan pendapatan dari kompetisi UEFA
  • Larangan mendaftarkan pemain baru untuk kompetisi UEFA
  • Batasan jumlah pemain yang dapat didaftarkan klub untuk kompetisi UEFA
  • Diskualifikasi dari kompetisi yang sedang berlangsung
  • Larangan tampil pada kompetisi di masa depan

Satu hal yang perlu dipahami, peraturan FFP tetap memperbolehkan klub merugi, namun dengan batasan yang sudah disepakati. Klub tidak boleh menelan kerugian hingga 5 juta euro dalam hitungan per tiga musim.

Lebih lanjut, dengan syarat-syarat yang sudah disepakati, klub boleh mengalami kerugian lebih banyak dari jumlah di atas. Batasan yang dipasang UEFA mencapai 30 juta euro untuk neraca keuangan yang sudah dihitung sejak 2015.

FFP juga bukan merupakan peraturan yang tanpa celah. Para klub sudah menemukan formula transfer untuk bisa mendatangkan pemain icaran, namun tak perlu takut melanggar FFP.

Satu di antara cara yang diambil adalah dengan mengajukan proposal peminjaman plus opsi tebus. Dengan begitu, para klub pembeli akan mengurangi risiko menghamburkan uang untuk memboyong pemain yang tidak gemilang.

Selain itu, biasanya klub akan memilih membeli pemain dengan sitem mencicil. Sehingga, nilai transfer tidak akan dihitung dalam satu periode.