BolaSkor.com - Krisis. Satu kata itu tepat untuk menggambarkan kondisi Tottenham Hotspur saat ini. Usai dibantai Bayern Munchen dengan skor telak 2-7 di Liga Champions, tim asal London Utara tersebut kalah telak 0-3 dari Brighton & Hove Albion di Premier League.

Memainkan pekan delapan Premier League di Falmer Stadium, Brighton menang 3-0 melalui gol Neal Maupay (3') dan dua gol Aaron Connolly (32' dan 65'). Ini jadi kemenangan kedua yang diraih Brighton musim ini di Premier League.

Dua kekalahan beruntun dan gawang Hugo Lloris, yang cedera kala melawan Brighton, kebobolan 10 gol hanya dalam waktu dua laga. Wajar jika publik mulai bertanya-tanya "Ada apa dengan Tottenham Hotspur?".

Skuat tidak mengalami perubahan besar, manajer masih tetap sama (Mauricio Pochettino), dan klub merekrut tiga pemain baru: Giovani Lo Celso, Ryan Sessegnon, dan rekor transfer klub, Tanguy Ndombele. Logikanya, Spurs seharusnya semakin bertambah kuat.

Baca Juga:

Hugo Lloris Alami Cedera Mengerikan

Hasil Laga Grup Liga Champions: Real Madrid Imbang, Tottenham Kebobolan 7 Gol

Dimitar Berbatov Ungkap Alasan di Balik Penurunan Performa Tottenham Hotspur

Faktanya tidak demikian. Jadi, BolaSkor.com coba mengulik masalah-masalah yang sekiranya terjadi saat ini di Tottenham. Menjadikan beberapa sumber sebagai referensi, berikut tiga masalah penyebab kemunduran performa Tottenham.

1. Perpecahan di Ruang Ganti Pemain

Christian Eriksen dan Jan Vertonghen

Lima tahun sudah Pochettino menangani Tottenham. Dalam kurun waktu tersebut Pochettino mampu meningkatkan level bermain klub, namun, peningkatan ini tak dibarengi dengan raihan trofi hingga menurut kabar ESPN, beberapa pemain senior tim sudah mulai jenuh.

Meski konsisten bermain di Liga Champions, kegagalan meraih trofi dan musim lalu gagal di final Liga Champions menjadi pemicu rasa jenuh tersebut. Ditambah kurangnya komitmen petinggi klub untuk menjadikan klub petarung titel prestisius, maka perpecahan internal itu tak lagi dapat dihindari.

Bukan hanya rasa jenuh yang menjadi penyebab perpecahan ruang ganti pemain dan kemunduran klub, melainkan juga beberapa isu lainnya seperti: pemain ingin hengkang, nasib masa depan manajer tak jelas, dan kurangnya determinasi bermain.

2. Spekulasi Transfer

Christian Eriksen

Dua figur utama Tottenham, Pochettino dan Christian Eriksen, masuk ke dalam pusaran transfer di bursa transfer musim panas lalu. Pochettino dihubungkan dengan klub sebesar Real Madrid, begitu juga dengan Eriksen.

Gelandang serang asal Denmark ibarat orang dengan fisik yang terlihat di satu tempat namun pikirannya berada di mana-mana. Tottenham mempertahankannnya, namun Eriksen diyakini sudah tidak 100 persen lagi membela Spurs.

Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya pembicaraan kontrak pemain yang berakhir di akhir musim ini. Eriksen tentu dalam posisi yang menguntungkan karena ia bisa berganti klub di akhir musim dan melakukan negosiasi pada Januari 2020.

Sebaliknya Spurs, mereka tidak akan mendapatkan uang sepeser pun dari kepergian Eriksen. Alhasil, mempertahankan pemain yang sudah ingin hengkang berpotensi memengaruhi atmosfer ruang ganti pemain.

Begitu juga berlaku untuk Pochettino. Eks striker Tottenham, Dimitar Berbatov, pernah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai mantan pelatih Espanyol tersebut.

"Rumor konstan mengenai pekerjaan di Real Madrid membingungkan untuk orang-orang yang terlibat. Dalam situasi tersebut, ketika Anda membaca hal-hal seperti ini, Anda mulai menanyakan diri sendiri. Apakah saya ada di tempat yang tepat? Apakah saya harus pindah sekarang? Apakah ini waktunya perubahan?" tutur Berbatov, dilansir dari Marca.

"Itu tidak memengaruhi siapa pun dalam cara yang positif. Semuanya harus mengesampingkan pemikiran itu dan biarkan Pochettino fokus dengan pekerjaannya sebagai manajer Tottenham. Akan ada waktu ketika dia mengucapkan salah perpisahan, tapi saya harap tidak sekarang ini."