BolaSkor.com - Thiago Alcantara di ambang pintu keluar Bayern Munchen. Seiring ketertarikan dari Liverpool yang mencari pemain dengan tipe pengatur serangan (playmaker), kepergian Thiago dari Bayern yang sudah diperkuatnya dari 2013 tinggal masalah waktu.

Bayern mematok harga Thiago sebesar 30 juta euro dan Presiden Bayern, Karl-Heinz Rummenigge membenarkan hasrat pemain berusia 29 tahun untuk mencari tantangan baru setelah sukses dengan Bayern.

"Pembicaraan (kontrak baru Thiago di Bayern) antara Thiago Alcantara dan Hasan Salihamidzic selaku Direktur Olahraga berjalan dengan baik, kami pun sempat merasa yakin bahwa akan ada kesepakatan di antara kedua belah pihak, namun kemudian Thiago kembali memberi tahu bahwa dia ingin mencoba tantangan baru."

"Kami akan menerima keputusan yang sudah dibuatnya. Thiago masih memiliki sisa kontrak selama semusim, jika dia mencapai kesepakatan untuk hengkang ke klub lain, maka mereka harus membayar harga yang sudah ditetapkan, tetapi saya tidak ingin membicarakan berapa harga yang kami pasang ke publik."

Baca Juga:

5 Tim dengan Pertahanan Sulit Ditembus

Petinggi Bayern Munchen Mengamini Thiago Akan Angkat Kaki

Thiago Alcantara, Solusi Kreativitas Lini Tengah Liverpool?

Kehilangan Thiago pun sedianya bukan masalah besar bagi Bayern sebab mereka masih punya Joshua Kimmich, Leon Goretzka, Corentin Tolisso, hingga Michael Cuisance di lini tengah. Nama yang disebut terakhir sudah diyakini bisa jadi suksesor jangka panjang Thiago.

Michael Cuisance

Michael Cuisance berlatih dengan Thiago

"Thiago, dia fenomenal. Saya memilih duduk di sampingnya, saya ingin belajar dari salah satu gelandang terbaik di posisinya. Dia banyak membantu saya dan dia pria yang baik. Dia sudah di puncak dan saya masih di dasar (level bermain)."

Itu ucapan Cuisance mengenai Thiago di awal kedatangannya di Bayern. Cuisance menganggap Thiago sebagai mentor yang dapat dicontoh jejak karier dan kesuksesannya.

Cuisance baru semusim bersama Bayern setelah sempat bermain di Bayern Munchen II (tim kedua Bayern). Namanya belum populer di Eropa tapi pemandu-pemandu bakat tahu betul talenta yang dimiliki pemain berusia 20 tahun tersebut.

Pada 2007-2012 Cuisance menghabiskan masa akademinya dengan akademi klub kampung halaman, Strasbourg sebelum pindah ke Schiltigheim dan Nancy (2014-2017). Bersama Nancy itu Cuisance lambat laun mempopulerkan namanya.

Michael Cuisance di akademi Nancy

Borussia Monchengladbach memenangi servisnya pada 2017 sebelum pindah ke Bayern pada 2019. Keputusan Cuisance berkarier di Bundesliga sudah tepat, apalagi dia mengakui sempat ada tawaran gabung Manchester City besutan Pep Guardiola dan bermain di liga top dunia: Premier League.

Akan tapi dalam skuat bertabur bintang dan rimba persaingan ketat Premier League, nasib Cuisance bisa jadi berbeda jika ia memutuskan bermain di sana.

"Sulit untuk mengatakan tidak kepada Pep Guardiola. Karena kita semua tahu pelatih seperti apa dia, bagaimana dia membuat timnya bermain. Kami mengatakan hal-hal baik satu sama lain, tapi itu di antara kami! Mungkin saya akan bergabung dengannya suatu hari nanti," tutur Cuisance.

"Saya tidak pernah menyesalinya (meninggalkan Prancis ke Jerman pada usia 17 tahun). Saya di Bayern sekarang dan saya tidak bisa lebih bahagia lagi. Itu bukan keputusan yang mudah, tetapi waktu telah menunjukkan bahwa itu keputusan yang tepat."

Michael Cuisance jadi tulang punggung di lini tengah Gladbach

Bersama Gladbach Cuisance langsung menjadi pemain andalan di lini tengah menggantikan Mahmoud Dahoud yang pindah ke Borussia Dortmund. Pada musim 2017-18 Cuisance tampil 24 kali di Bundesliga (sembilan kali starter).

Bagi pemain yang belum pernah tampil di tim senior Nancy Cuisance cukup tenang dan dewasa dalam permainannya. Hal itu bisa dilihat kala ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Gladbach di musim tersebut versi pilihan fans.

Musim ini Cuisance sudah bermain 15 kali di seluruh kompetisi dengan catatan tiga gol dan satu assist pada musim yang berujung titel Bundesliga dan DFB Pokal. Catatan fantastis di musim debutnya bersama Bayern.

Gaya Main

Michael Cuisance

Berkaki kidal dan dapat bermain dalam peran deep-lying playmaker (pengatur serangan). Michael Cuisance sudah memelajari peran itu dari Thiago Alcantara, khususnya dari caranya mendistribusikan bola dan mengontrol ritme bermain di lini tengah.

Belajar dari Thiago yang notabene produk La Masia dan memegang teguh prinsip sepak bola Barcelona menambah kemampuan Cuisance. Apalagi dia mendapatkan ilmu dari gelandang lainnya seperti Goretzka, Tolisso, Javi Martinez, dan Philippe Coutinho.

"Saya sudah membuat kemajuan nyata dengan itu. Pada awalnya, ketika saya menginginkan sesuatu, itu harus terjadi sekarang, atau itu akan membuat saya kembali," imbuh Cuisance.

"Saya bisa berhenti dan berkata, 'Saya tidak bermain, itu saja, ini sudah berakhir'. Tetapi saya terus berjalan. Saya ingin bermain lebih banyak, untuk membangun diri saya di tim. Saya perlu merangkai permainan dan meningkatkan statistik saya. Saya tahu saya bisa berkontribusi sebanyak yang lain," tegas dia.

Hans-Dieter Flick pelatih Cuisance di Bayern mengakui sang pemain sudah ada di arah yang tepat untuk mengembangkan kariernya. Mentalitasnya juga bagus. Tak ayal Cuisance bisa jadi solusi hemat untuk jangka panjang Bayern sekaligus suksesor bagi Thiago.

"Saya masih punya lima tahun ke depan. Saya pikir pikiran saya dikondisikan untuk klub seperti ini di level tertinggi. Ada banyak pemain top di sini dan saya tahu saya bisa sukses," yakin pemain timnas Prancis U-20 itu.