BolaSkor.com - Chelsea boleh saja kalah 1-2 oleh Liverpool pada akhir pekan lalu. Namun, dari kekalahan itu muncul optimisme, terutama setelah melihat gemilangnya penampilan seorang N'Golo Kante.

"N'Golo Kante, saya tidak tahu apakah dia bermain di semua pertandingan. Tetapi saat melawan Liverpool dia selalu bermain. Dia selalu fit melawan Liverpool. Saya harap bisa terus fit karena dia seorang pemain yang benar-benar hebat," kata manajer Liverpool Jurgen Klopp.

Pujian yang dilontarkan Klopp memang tepat sasaran. Dalam laga melawan Liverpool, Kante tidak disangkal lagi adalah penampil terbaik. Dengan kondisi yang baru pulih, dia mampu menjelajah nyaris semua jengkal lapangan.

Baca juga:

Mulai Jadi Bos di Lini Tengah, Fabinho Kepingan yang Selama Ini Dicari Liverpool

Lampard Tuntut Chelsea Adaptif, 4 Opsi yang Bisa Dipakai untuk Ladeni Trio Liverpool

Dalam laga melawan Liverpool, Kante adalah motor bagi sebuah tim yang masih mencari struktur. Kante adalah 'alpha' dan Chelsea 'omega'. Melawan Liverpool, dengan kondisi belum 100 persen, Kante menjadi pemain yang paling aktif bergerak, memotong bola lawan, melewati lawan, hingga merebut penguasaan bola lewat tekelnya. Bisa dikatakan, Kante melakukan semua tugas seorang gelandang, serang dan bertahan.

Secara kualitas, tidak ada yang meragukan Kante, pemain yang menjadi menjadi bagian penting dari dua klub berbeda, Leicester City dan Chelsea, menjadi juara Premier League. Tentu saja tidak ketinggalan menjadi pilar saat Prancis menjadi juara Piala Dunia.

Gangguan mulai datang ketika Maurizio Sarri memutuskan memboyong Jorginho ketika datang menjadi manajer baru. Chelsea akhirnya memiliki dua pemain yang memiliki peran sama demi memenuhi keinginan sang manajer. Sebagai penyesuaian, Kante dicoba dimainkan lebih ke depan dan harus mempelajari trik baru.

Dalam situasi ini, biasanya pemain akan kesal dan gagal tampil maksimal di posisi baru. Namun tidak bagi Kante. Memang di awal dia sempat kesulitan dan beberapa kali tidak masuk sebagai starter. Proses adaptasi juga kurang mulus dengan cedera yang membekapnya. Meski demikian, Kante bisa dibilang lulus dari tahapan adaptasi tersebut.

Bersama Jorginho, Kante saat ini seakan menjalankan peran nomor 10. Dia diberi kebebasan untuk merangksek ke depan tanpa perlu memikirkan untuk mengontrol area yang biasa dilakukan gelandang bertahan. Peran yang sebenarnya sudah dimainkan Kante di era Sarri. Bedanya, Sarri memiliki sosok No.10 sejati, Eden Hazard.

Satu hal positif dari sistem yang dipakai Lampard saat menghadapi Liverpool, Chelsea terlihat lebih aman. Mereka tidak lagi lemah saat melakukan serangan dari tengah lapangan. Akan tetapi di sisi lain, hal yang tidak bisa dihindari adalah adanya komplikasi antara Kante dan Jorginho.

Sebagai gelandang bertahan, Jorginho piawai dalam mengontrol permainan dengan distribusi bolanya. Namun Jorginho, dibandingkan Kante, kurang memiliki mobilitas dalam hal bertahan. Sedangkan Kante yang memiliki kelebihan dalam daya jelajah dan kesigapannya dalam bertahan kini lebih diandalkan dalam serangan.

Saat menghadapi Liverpool, Kante bisa melakukan hampir segalanya, dalam hal menyerang dan bertahan. Dalam menyerang dia menjadi motor Chelsea. Saat bertahan, dia lebih garang ketimbang Jorginho. Kante memang tampil luar biasa saat melawan Liverpool. Tapi apakah Lampard akan terus menuntut Kante akan tampil seperti itu sepanjang musim?

Kante bisa menjadi solusi bagi Lampard. Akan tetapi dia tidak bisa menjadi solusi secara keseluruhan. Kante bisa akan menjadi kunci kebangkitan jika Chelsea sudah memiliki struktur yang kokoh. Saat ini, Kante hanyalah solusi sementara.