Bolaskor.com - Nama Alphonso Davies saat ini sedang menjadi perhatian dengan Bayern Munchen. Bek kiri Bayern menunjukkan permainan gemilang saat Bayern menang 3-0 atas Chelsea pada Rabu (26/02) WIB di laga Liga Champions. Di balik kesuksesan kariernya saat ini, ia memiliki cerita masa lalu yang cukup kelam.

Perjalanan karier Davies tidak mudah. Ia adalah anak dari pasangan Debeah dan Victoria Davies. Orang tuanya adalah korban Perang Sipil Liberia yang melarikan diri ke negara Ghana.

Davies lahir pada 2 November 2000 dan harus tinggal di tempat pengungsian selama lima tahun. Namun akhirnya ia dan keluarganya berhasil ikut dalam program pemindahan pemukiman ke Edmoton, Kanada pada 2005.

Baca Juga:

Cetak 11 Gol, Lewandowski Samai Rekor Cristiano Ronaldo di Liga Champions

Giovanni Reyna, Pemuda Bertalenta Dortmund Penerus Estafet 'Captain America'

Fred, Mengubah Kritikan dan Sindiran Menjadi Pujian di Manchester United

"Sulit untuk hidup (di Liberia) karena satu-satunya cara Anda bertahan hidup adalah anda harus membawa senjata," ujar Debeah dilansir dari situs resmi Bundesliga.

"Kami tidak tertarik untuk berperang. Jadi, kami memutuskan untuk melarikan diri dari sana. Mereka memiliki program yang disebut pemukiman kembali, dan mereka berkata, 'OK, anda harus mengisi formulir untuk Kanada.' Kami pergi melalui wawancara dan segalanya, dan berhasil, dan datang ke sini (Kanada)." lanjutnya.

Pasca kepindahannya ke Kanada, Davies menempuh pendidikan formal di sekolah Katolik Mother Theresa. Di situlah ia mulai mengenal dunia sepak bola dan bakatnya mulai terlihat. Melissa Guzzo, guru olahraga Davies saat itu yang pertama kali menyadari bahwa Davies memiliki bakat yang luar biasa.

Alphonso Davies

"Saya melihat dia melakukan sentuhan pertamanya dan saya langsung tahu. Anak ini memiliki bakat untuk sepak bola," kenang Guzzo.

Salah satu pelatih sepak bola lokal, Marco Bossio yang mendengar ada kabar pemain yang memiliki bakat luar biasa langsung memantau permainan Davies dalam sebuah kompetisi lokal. Tak butuh waktu lama bagi Bossio untuk tertarik dengan bakat yang dimiliki oleh Davies.

"Ada sesuatu yang istimewa tentang bocah ini," kata Bossio.

"Dia memiliki kaki secepat kilat dan kecepatan menggiring bola. Saya tahu itu sesuatu yang istimewa pada usia itu," lanjutnya.

Tak ingin kehilangan calon pemain bintang, Bossio langsung merekrut Davies untuk membela tim St. Nicholas. Setelah bertahun-tahun ditempa oleh tim tersebut, Davies tidak menyangka berawal dari hobi ternyata bisa membawanya ke jenjang yang serius.

Alphonso Davies di Vancouver Whitecaps

"Saya tidak berpikir saya benar-benar bagus, saya hanya bermain permainan karena saya menikmati bermain dengan teman-teman saya. Kemudian setelah saya mulai bermain sepak bola terorganisir, orang tua, pelatih dan rekan tim lainnya mengatakan kepada saya untuk terus maju dan bahwa saya bisa menjadi sesuatu, jadi saya mulai memercayainya."

"Itulah yang membuat saya ingin menjadi seorang profesional. Saat itulah saya mulai berlatih keras untuk menjadi seorang profesional," ucap Alphonso Davies.

Davies bergabung dengan tim Vancouver Whitecaps pada usia 15 tahun. Pada 2016 ia memulai debutnya di Major League Soccer (MLS), Davies memainkan 65 laga dan mencetak 8 gol saat itu.

Baru satu tahun menggeluti sepak bola profesional di Kanada, ia dipanggil untuk membela tim nasional senior Kanada pada tahun 2017. Di tahun yang sama ia juga mendapat kewarganegaraan Kanada.

Bayern Munchen dan Bek Kiri

Permainan Davies di dunia sepak bola Kanada tampaknya menarik perhatian salah satu klub besar Bundesliga yaitu Bayern Munchen pada tahun 2018. Pemain kelahiran Ghana tersebut akhirnya direkrut Bayern dengan harga 10 juta Euro atau sekitar Rp 150 milyar.

Ia menjalani debutnya bersama Die Roten pada Januari 2019. Sejak menjalani debutnya di Bundesliga Davies telah bermain sebanyak 26 kali. Tidak terlihat sebagai pemain anyar di liga utama, ia langsung bisa menunjukkan kualitasnya dan dianggap menjadi salah satu bek kiri terbaik dunia.

Publik di Eropa mulai melihat kemampuannya ketika Davies memberikan assist untuk gol Robert Lewandowski ke gawang Chelsea di Liga Champions. Davies berlari melewati satu-tiga pemain Chelsea sebelum memberikan operan akurat kepada Lewandowski.

Keberadaan Davies, plus perubahan posisi David Alaba dari bek kiri jadi bek tengah di bawah asuhan Hans-Dieter Flick, semakin membuka jalan lebar untuknya mengamankan posisi bek kiri dan berkembang di posisi tersebut.

Alphonso Davies

"Davies membawa kekuatannya ke lapangan dan memenangkan banyak bola defensif dengan langkahnya," ucap Flick memuji Davies.

"Dia awalnya masuk sebagai pemain sayap, tapi dia melakukan pekerjaan luar biasa di bek kiri. Perkembangannya sangat fenomenal."

Kecepatan dan caranya mengontrol bola jadi kelebihan bermain Alphonso Davies. "Dia diberkahi dengan kemampuan sprint dengan sangat hebat, hal yang sudah lama tidak ada di Bayern. Dia layak dapat dukungan penuh dari fans," ucap striker Bayern, Thomas Muller.

Jalan terbuka lebar untuk Alphonse Davies menjadi salah satu bek kiri terbaik dunia di masa depan. Tidak mudah mencari pemain dengan kualitas top dunia di posisi tersebut.

Penulis: Deva Asmara Kusuma