BolaSkor.com - Rasialisme masih menjadi isu yang menjadi noda dalam sepak bola. Berbagai kabar terkait isu ini masih saja hadir, bahkan semakin parah di era sosial media seperti saat ini. Berbagai kampanye anti-rasialisme silih berganti bermunculan. Terakhir Premier League meluncurkan kampanye No Room for Racism.

Jika melihat ke belakang, muncul sosok penting dalam sejarah yang menjadi pioner dan pendobrak pintu bagi pemain berkulit hitam. Sosok itu bernama Arthur Wharton.

Baca juga:

Nostalgia - Rogerio Ceni, Kiper dengan Torehan Gol Terbanyak yang Hampir Diaborsi

Nostalgia - Paul Ince, Pahlawan Terlupakan Manchester United yang Pernah Membelot ke Liverpool

Arthur Wharton Pemain Kulit Hitam

Wharton merupakan sosok penting dalam sejarah persepakbolaan Inggris. Arthur Wharton adalah pemain kulit hitam pertama yang berkiprah di kancah sepak bola profesional Inggris. Bahkan Wharton merupakan pemain profesional kulit hitam pertama di dunia. Dialah yang membuka pintu bagi pemain berkulit hitam untuk tampil sebagai pemain profesional.

Wharton lahir di Accra, Ghana, 28 Oktober 1865. Dia adalah anak dari Henry Wharton, seorang pendeta yang berasal dari Grenada. Wharton lahir dari keluarga ras campuran yang terbilang kaya.

Sang ayah memiliki darah Skotlandia dan ibu berasal dari keluarga ningrat Ghana. Pada 1882, Wharton pindah ke Inggris untuk belajar menjadi pendeta. Namun, tak lama dia merasa bosan dan meninggalkan sekolah untuk menjadi seorang atlet.

Dia pun memutuskan pindah ke Durham. Di sinilah Wharton memulai kiprahnya di dunia olahraga dengan menekuni cabang atletik. Wharton bukanlah sembarang atlet. Dia pernah mencatat rekor dunia lari 100 yard dengan catatan waktu 10 detik pada 1886. Catatan ini membuatnya diundang untuk mengikuti turnamen atletik profesional.

Tak hanya itu, dengan keunggulan fisik yang dimilikinya, Wharton juga menarik perhatian banyak klub sepak bola profesional. Wharton akhirnya bergabung dengan Preston North End pada 1886 sebagai pemain berstutus semipro. Selang tiga tahun, Wharton, yang berposisi sebagai kiper, resmi menjadi pemain profesional saat meneken kontrak dengan Rotherham United.

Sebagai catatan, di era tersebut, penyerang masih diperbolehkan menyerang kiper secara fisik, tak peduli ada bola atau tidak. Untuk menghadapi itu, Wharton dikenal sebagai kiper yang memiliki banyak teknik untuk melindungi diri, salah satunya dengan bergantung di mistar dan menangkap bola dengan cara menjepit dengan kakinya.

Pamor Wharton sebagai kiper tangguh melesat. Wharton disebut-sebut memliki peluang besar untuk menjadi kiper tim nasional Inggris. Sayang, hal itu tak terwujud terkait masih kentalnya diskriminasi rasial.

Arthur Wharton Pemain Kulit Hitam

Pada 1894, Wharton bergabung dengan Sheffield United. Sayang, di sini Wharton tak sukses karena sudah termakan usia. Lambat laun, kariernya meredup dan harus berpindah klub hanya untuk bisa hidup. Wharton pensiun pada 1902. Pada 1914, dia memutuskan mundur seutuhnya dari dunia olahraga untuk bekerja sebagai penambang di Yorkshire Selatan. Wharton wafat pada 1930 dalam kondisi tanpa uang.

Sosok Wharton pun lenyap. Seiring waktu, tak ada lagi yang mengingatnya. Untunglah, pada 1997, sebuah gerakan di Sheffield yang bernama Football Unites, Racism Divides(FURD) mengangkat kisah Wharton dalam sebuah buku. The First Black Footballer: Arthur Wharton 1865-1930, yang ditulis oleh Phil Vasili.

Sangat pantas jika jasa Wharton dikenang. Saat ini, pemain berkulit hitam yang berkiprah di Inggris mencapai sekitar 20 persen. Tak dimungkiri, perjalanan pemain berkulit hitam di Inggris memang tak berjalan mulus. Bahkan, hingga kini masih ada segelintir orang yang melecehkan mereka.

Wharton memang berhasil membuka pintu bagi pemain kulit hitam bermain di klub profesional. Namun baru sekitar 48 tahun setelah kematian Wharton, pemain berkulit hitam bisa membela timnas Inggris. Ya, baru pada 29 November 1978, untuk pertama kalinya timnas Inggris diperkuat pemain berkulit hitam ketika Viv Anderson tampil saat Inggris beruji coba melawan Cekoslowakia.

Kini perjuangan melawan rasialisme masih terus disuarakan. Semoga ke depannya, sepak bola sudah benar-benar terbebas dari dari rasialisme.