BolaSkor.com - Inter Milan melangkah ke Stadio delle Alpi pada 29 November 2003 dengan status tak diunggulkan. Bagaimana tidak, sang empunya rumah, Juventus, tak terkalahkan di Serie A (16 pertandingan) dan tidak pernah keok dari Inter ketika bermain di kandang sejak 21 Maret 1993.

Pelatih Inter saat itu, Alberto Zaccheroni, memainkan formasi 3-4-3. Obafemi Martins dan Julio Ricardo Cruz menjadi tumpuan mencetak gol. Sementara itu, duo Zanetti (Javier dan Cristiano) menjadi motor serangan dari lini kedua.

Dari kubu tuan rumah, Marcello Lippi bermain dengan formas andalannya, 4-3-1-2. David Trezeguet, Alessandro Del Piero, dan Pavel Nedved adalah pemain-pemain yang diharapkan menembus pertahanan Inter.

Inter Milan yang tak diunggulkan melakukan gebrakan ketika pertandingan berjalan 12 menit. Tendangan bebas Cruz tidak bisa dibendung Gianluigi Buffon.

Baca juga:

Spirit Kedai Kopi Wina dan Total Football

Menanti Asap Putih dari Gianluca Di Marzio

10 Gelandang Serang U-21 Termahal Dunia

Juventus Vs Inter Milan

Julio Cruz kembali menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Bianconeri usai mencetak gol keduanya pada menit ke-68. Serangan balik cepat yang dilakukan Javier Zanetti diselesaikan Cruz melalui tendangan kaki kirinya. Sebelumnya, percobaan pertama striker asal Argentina itu bisa dimentahkan Buffon.

La Beneamata semakin di atas angin usai Martins mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-77. Pemain yang sering melakukan selebrasi salto itu memanfaatkan kesalahan pemain belakang Juve sebelum melepaskan bola di antara kedua kaki Buffon.

Gol hiburan Juventus tercipta jelang akhir pertandingan. Berawal dari sepak pojok, sundulan Paolo Montero masuk ke dalam gawang Francesco Toldo.

Kemenangan tersebut tak hanya memangkas jarak Inter dengan Juve menjadi empat poin, namun juga membuktikan Nerazzurri masih bertaji di Turin.

Duel Juve kontra Inter pada 2003 tersebut hanyalah satu halaman dari berlembar-lembar sejarah panjang rivalitas kedua klub. Tensi tinggi kedua tim bermula pada musim 1960-1961.

Memang, kedua tim juga punya cerita panjang sebelum musim tersebut. Namun, pada musim 1960-1961, gesekan semakin kencang.

Setelah kejadian penonton masuk ke dalam lapangan, otoritas sepak bola Italia memberikan kemenangan kepada Inter. Namun, keputusan itu dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Kemudian, pertandingan dijadwalkan ulang.

Presiden Inter saat itu, Angelo Moratti, kecewa dengan sikap pengelola liga. Ia menilai, ada udang di balik batu sehingga kemenangan yang sudah diberikan kepada Inter direnggut. Apalagi, presiden FIGC ketika itu masih keluarga Agnelli, Umberto Agnelli.

Sebagai protes, Inter menurunkan tim junior pada laga ulangan. Pada akhirnya, Il Biscione pun kalah dengan skor mencolok 9-1. Omar Sivori menjadi bintang dengan mendulang enam gol.

Setelah kejadian tersebut, persaingan kedua tim semakin melebar. Bahkan, pada 1967, jurnalis olahraga Italia, Gianni Brera, memberikan julukan pertandingan Inter kontra Juve sebagai Derby d'Italia. Inter dan Juve dianggap sebagai dua tim terbaik di Italia.