BolaSkor.com - Pada 20 Juni 1976, untuk pertama kalinya Cekoslowakia menjadi juara Piala Eropa. Di saat inilah momen penalti Panenka lahir.

Cekoslowakia menjadi juara setelah di partai puncak mengalahkan Jerman Barat lewat adu tendangan penalti setelah dalam 120 menit laga imbang 2-2. Cekoslowakia menang adu penalti dengan skor 5-3.

Laga final disaksikan oleh 30.790 penonton di Stadion Crvena Zvezda, Belgrade. Cekoslowakia langsung unggul 2-0 lewat gol Jan Svehlik dan Karol Dobias. Namun Jerman Barat memperkecil kedudukan lewat gol Dieter Mueller sepanjang turnamen dan kemudian menyamakan kedudukan setelah Bernd Hoelzenbein mencetak gol satu menit menjelang bubaran.

Baca Juga:

Ketika Piala Dunia Dilahirkan di Amsterdam demi Perdamaian Dunia

3 Pemain Paling Sering Dilanggar di Satu Laga Piala Dunia

Quique Setien Sudah Berbicara soal Tiki-Taka Sejak 43 Tahun Silam

Setelah babak tambahan, kedua tim tak mampu menambah gol sehingga kemenangan harus ditentukan lewat adu penalti.

Tiga eksekutor pertama kedua tim sukses mengeksekusi tendangan. Untuk tendangan keempat, Cekoslowakia berhasil mencetak gol, sedangkan tendangan Jerman Barat yang dieksekusi Uli Hoeness melambung di atas mistar. Cekoslawakia unggul 4-3 dan berpeluang memenangi laga jika penendang kelima sukses.

Di sinilah momen bersejarah terjadi. Cekoslawakia memberi kepercayaan kepada Antonin Panenka sebagai algojo terakhir. Perlahan Panenka meletakkan bola di titik putih, lalu mundur jauh beberapa langkah.

Penenka ambil ancang-ancang, berlari kecil menandakan akan melepaskan tendangan keras. Namun Panenka berhasil mengecoh kiper Jerman Barat Sepp Meier. Sang kiper melompat ke arah kiri saat Panenka hanya pelan men-chip bola ke tengah gawang.

Selanjutnya, sepakan penalti seperti itu disebut sebagai "Panenka". Gol ala Panenka menjadi inspirasi beberapa pemain di era modern. Salah satunya Andrea Pirlo yang sukses mengelabui kiper Inggris Joe Hart pada adu penalti Piala Eropa 2012.

Kisah di Balik Penalti Panenka

Banyak orang berpikir bahwa Panenka hanyalah sebuah tembakan chip sederhana ke tengah gawang yang digunakan untuk mengelabui kiper. Namun, ada kisah menarik di balik tendangan Panenka.

Antonin Panenka mengakui bahwa saat tiba gilirannya menendang, dalam pikirannya berkata, dia bisa pulang sebagai juara atau menjadi simbol kegagalan.

Dia langsung bertanya-tanya ke arah mana bola akan ditembakkan. Kalau men-chip bola ke arah tengah, apakah kiper akan bisa membacanya? Atau bagaimana jika menyepak dengan keras ke kiri atau kanan? Dan, Panenka memilih pilihan pertama.

Baca Juga:

Nostalgia - Gol Sundulan Jadi Salam Perpisahan Zidane Kepada Publik Santiago Bernabeu

Final Liga Champions 1994, Laga yang Mendefinisikan Sepak Bola Modern

Nostalgia - Final Piala Winners 1964, Sejarah Sporting dan Legenda Cantinho do Morais

Lalu apa yang membuat Panenka memutuskan untuk memilih mempraktekkan sepakan itu saat melawan Sepp Maier?

"Saya tahu tidak akan mudah untuk mengalahkan Maier. Sampai saat itu semua penendang telah mengambil sudut, dan kiper juga selalu bergerak ke sudut. Saat itu saya tidak tahu sisi mana yang akan dia pilih," papar Panenka kepada ITV saat memperingati 40 tahun sepakan Panenka pada 2016 lalu.

"Jadi tahu sepakan seperti ini akan sukses karena tidak ada penjaga gawang yang berdiri diam. Apalagi ini final Piala Eropa."

Panenka mengakui, ada peran Sepp Maier dalam lahirnya tendangan penalti Panenka. Menurutnya, jika Maier tidak melompat, tidak akan ada yang mendengar nama Antonin Panenka.

"Banyak orang bertanya, apa yang terjadi jika saya tidak mencetak gol penalti di final. Jika itu yang terjadi, saya saat ini adalah seorang pekerja pabrik dengan pengalaman kerja 40 tahun," ujar Panenka dikutip dari Express pada 11 Oktober 2019.

Tentu saja tidak seketika Panenka memutuskan untuk melakukan tendangan seperti itu. Panenka mengungkap sudah memprediksi laga akan berakhir lewat adu penalti dua pekan sebelum turnamen. Karena itu timnya sudah menyiapkan diri menghadapi adu penalti. Tidak hanya itu, dirinya juga sudah lama melatih sepakan itu.

"Saya sudah melatih sepakan itu dua tahun sebelum Piala Eropa 1976. Yang saya tahu adalah kiper selalu melompat ke satu sisi, jadi bisa berhasil jika menendang ke tengah."

Akan tetapi hanya menendang ke arah tengah saja ternyata tidak begitu berhasil. Bahkan Panenka mengaku dia kehilangan uang karena seringnya gagal. "Setiap selesai latihan, saya bertanding penalti melawan kiper kami. Dia sangat bagus, saya sering kalah dan kalah bertaruh. Saya kehilangan banyak uang, coklat, dan apa saya yang jadi barang taruhannya," kenang Panenka.

"Lalu saya mendapat ide. Saya berpikir jika saya menunda tendangan dan hanya dengan ringan menchip bola, kiper yang melompat ke sudut gawang tidak akan bisa kembali melompat kembali ke udara. Ini menjadi dasar filosofi saya."

"Saya mulai perlahan menguji dan menerapkannya. Sebagai efek samping berat badan saya bertambah karena memenangkan taruhan coklat Saya mulai menggunakannya pada pertandingan persahabatan, di liga kecil, dan akhirnya saya menyempurnakannya," turut Panenka.

"Puncaknya adalah ketika saya menggunakannya di final Piala Eropa. Itu adalah cara termudah dan paling sederhana untuk mencetak gol. Ini resep sederhana."

Saat ini Panenka masih terlibat dengan sepak bola sebagai ketua klub Bohemians Prague 1905. "Semacam presiden kehormatan, saya tidak mengambil keputusan apapun," Panenka menjelaskan.

Panenka menikmati kenyataan bahwa banyak pemain hebat yang telah berusaha melakukan tendangan penalti yang membawa namanya. Dia juga tetap senang meski penalti ala dia acap juga membawa kegagalan.