BolaSkor.com - Pada 20 Mei 1989, Liverpool memenangi derby Merseyside melawan Everton dengan skor 3-2 lewat perpanjangan waktu di final Piala FA. Laga yang digelar di Stadion Wembley menjadi pelipur duka yang dialami Liverpool, sebagai klub dan kota.

Lima pekan sebelumnya, peristiwa tragis yang mengejutkan terjadi di Stadion Hillsborough. Pada laga semifinal Piala FA melawan Nottingham Forest itu tragedi besar terjadi yang melibatkan kinerja pihak kepolisian setempat.

Tragedi yang menyisakan luka dan duka mendalam itu kini dikenal dengan tragedi Hillsborough. Sebanyak 96 orang meninggalkan dunia dan 766 orang lainnya mengalami luka-luka, yang menjadikan tragedi ini sebagai insiden terburuk dalam sejarah olahraga di Inggris dan di dunia.

Baca Juga:

Nostalgia - Gol Sundulan Jadi Salam Perpisahan Zidane Kepada Publik Santiago Bernabeu

Mengenal Yasir Al-Rumayyan, Calon Pemilik Baru Newcastle United Kepercayaan Pangeran Salman

Megan Rapinoe, Pejuang Emansipasi Perempuan dari Sepak Bola

Sifat keberhasilan yang katarsis membantu menyembuhkan luka akibat tragedi. Manajer Kenny Dalglish mengungkapkan bahwa pertandingan "lebih berarti bagi saya daripada permainan lain di mana saya terlibat".

Semi final Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest di kandang Sheffield Wednesday tidak akan pernah terhapus dari sejarah. Pada minggu-minggu berikutnya, Liverpool harus memutuskan apakah mereka akan melanjutkan kompetisi atau tidak.

Di tengah kesedihan, Liverpool harus menjalani laga semifinal Piala FA ulangan pada 7 Mei. "Kami mendengarkan dengan cermat pendapat para pemain, yang telah melakukan kontak dengan kerabat dan keluarga korban," kata ketua klub John Smith pada saat itu.

"Mereka meyakinkan kami bahwa mayoritas orang di Liverpool menginginkan pertandingan dimainkan."

Maka, di Old Trafford, Liverpool kembali ke lapagan dan mengalahkan Forest dengan kemenangan 3-1 berkat dua gol dari John Aldridge dan Brian Laws sendiri.

The Reds sudah tahu lawan yang akan mereka hadapi di Wembley adalah klub sekota Everton yang mengalahkan Norwich 1-0. Ini akan menjadi debry kedua di final Piala FA dalam empat musim. Pada pertemuan sebelumnya Liverpool keluar sebagai kampiun lewat kemenangan 3-1 atas The Toffees.

Dikatakan, tidak masalah siapa yang menang pada final kali ini karena apa yang terjadi di Hillsborough. Di tengah-tengah kepedihan, Gerry Marsden, dari Gerry & The Pacemakers, menyanyikan langsung You'll Never Walk Alone (YNWA). Suasana syahdu saat itu sangat luar biasa. "Anda bisa mendengar peniti jatuh,"ingat seorang penggemar. "Itu sangat mengharukan."

You'll Never Walk Alone telah menjadi lagu kebangsaan Liverpool selama bertahun-tahun. Lagu ini acap dinyanyikan sebagai inspirasi, persatuan, dan kebanggaan. Tetapi pada 20 Mei 1989, melalui suara Marsden yang pecah, YNWA menjadi pesan dari semua orang yang ada di Wembley, mereka yang sedang dirundung duka akibat tragedi, dan bagi mereka para korban. Pesan bahwa mereka tidak akan pernah sendirian.

Pada saat dua tim muncul dari terowongan Wembley, penggemar Liverpool dan Everton bersatu. Ini adalah perayaan sepak bola bagi mereka yang tidak bisa berada di sana.

Di atas lapangan, Liverpool menampilkan permainan sepak bola terbaik yang pernah dipertunjukkan. Gol John Aldridge pada menit keempat merupakan kombinasi dari kecerdasan pergerakan tanpa bola dan umpan akurat.

The Reds mendominasi selama 85 menit. Permainan di atas lapangan seperti berjalan ke satu sisi. "Selama lebih dari satu jam, tampaknya gairah di laga sebelumnya, dikombinasikan dengan suhu panas, dan keunggulan luar biasa Liverpool, akan mengubah pertandingan menjadi antiklimaks," demikian tulis David Lacey di The Guardian.

Tapi Everton punya ide lain, mereka menyamakan kedudukan saat laga tersisa satu menit lagi lewat pemain pengganti Stuart McCall. Laga pun harus menjalani perpanjangan waktu.

Menguasai laga, Liverpool hanya perlu mencari cara untuk membobol gawang Everton. Untungnya Liverpool punya Ian Rush. Masuk menggantikan Aldridge, Rush mengambil alih permainan di perpanjangan waktu. Pada menit 95, Rush membuat Liverpool unggul 2-1. Namun Everton kembali bisa menyamakan skor lewat McCall pada menit 102. Selang dua menit kemudian, Rush kembali menjebol gawang Everton yang dikawal Neville Southall. Skor 3-2 bertahan hingga laga usai.

Kenny Dalglish, yang tidak duduk sepanjang pertandingan mengungkapkan, "Permainan ini lebih berarti bagi saya daripada permainan lain di mana saya terlibat. Itu adalah pengalaman yang emosional, pengalaman yang memberi saya perasaan mendalam kebahagiaan."

"Hari-hari menyedihkan Liverpool surut karena gelombang kebahagiaan bersama. Para pemain, manajer, dan semua penggemar Everton sangat membantu. Sikap yang menggambarkan Kota Liverpool."

Saat itulah, juara Piala FA memang Liverpool, tapi yang menjadi pemenang sejati kala itu adalah Kota Liverpool. "Penggemar Everton bertepuk tangan bersama kami. Itu tidak akan terjadi di tempat lain," ujar kiper Liverpool Bruce Grobbelaar mengenang.

"Anda tidak pernah melihat yang seperti ini, merah dan biru bersama," ujar bek Liverpool Alan Hansen menambahkan.

Pada laga final Piala FA 1989, You'll Never Walk Alone, yang sebelumnya dinyanyikan bersama di tengah kemenangan, berubah menjadi sebuah himne bagi Liverpool. Lirik dari lagu tersebut menjadi memiliki makna lebih mendalam bagi The Reds, hingga saat ini.