BolaSkor.com - Tepat 56 tahun silam, klub asal Portugal Sporting merengkuh satu-satunya trofi Eropa usai mengalahkan MTK Budapest di final Piala Winners 1964. Stadion Bosuil di Kota Antwerp, Belgia, menjadi saksi kemenangan tipis 1-0 Sporting.

Duel pemungkas ini berlangsung sengit dan harus dilalui lewat dua laga. Pada laga pertama yang berlangsung di Stadion Heysel, kedua tim bermain imbang 3-3. Hasil imbang yang memaksa kedua kubu menjalani laga ulang dua hari kemudian.

Pada laga di Heysel, Mascarenhas dan Ernesto de Figueiredo membawa Sporting berbalik unggul 2-1 setelah sempat tertinggal lebih dulu akibat gol Karoly Sandor. Namun, keadaan berbalik ketika Istvan Kuti dan Sandor mencetak dua gol dalam kurun waktu tiga menit untuk membawa MTK memimpin 3-2 pada menit ke-75.

Baca Juga:

Nostalgia - Gol Sundulan Jadi Salam Perpisahan Zidane Kepada Publik Santiago Bernabeu

Mengenal Yasir Al-Rumayyan, Calon Pemilik Baru Newcastle United Kepercayaan Pangeran Salman

Megan Rapinoe, Pejuang Emansipasi Perempuan dari Sepak Bola

Saat laga tersisa sepuluh menit, Figueiredo mencetak gol keduanya di pertandingan itu sekaligus menyeimbangkan kedudukan menjadi 3-3. Skor yang bertahan hingga laga usai.

Selang dua hari kemudian, di Bosuil, sebuah kejaiban terjadi untuk Sporting saat pertandingan berjalan 20 menit. Klub asal Portugal mendapatkan sepak pojok di sisi kanan pertahanan MTK. Joao Morais yang menjadi pengambil tendangan berjalan santai sembari mencium bola.

Kemudian momen spektakuler itu terjadi. Bola sepakan pojok Morais melesat melampaui paling tidak dua pemain lawan di tiang dekat dan menyelinap sedikit di bawah mistar gawang. Bola tanpa bisa diantisipasi oleh kiper MTK Ferenc Kovalik bersarang ke dalam gawang. Sporting unggul 1-0 lewat sepakan pojok langsung Morais.

Keunggulan yang dimiliki Sporting bertahan hingga peluit tanda laga usai berbunyi. Sporting pun pulang dengan membawa pulang trofi Piala Winners ke Lisbon, menghancurkan harapan MTK mencetak sejarah bagi Hongaria.

Legenda Cantinho do Morais alias sepak pojok Morais lahir dan akan selalu dikenang sebagai salah satu bagian penting dari sepak bola Eropa.

Dalam wawancara dengan Diario de Noticias, Morais, yang wafat 17 April 2010 saat berusia 75 tahun, mengaku bermimpi pada malam sebelum laga. Dia bermimpi akan membawa Sporting memenangi Piala Winners.

Morais masih mengingat detik-detik sebelum gol tercipta, sebelum dia mengambil sepakan pojok bersejaah tersebut.

"Saya menengok ke bangku cadangan dan memastikan saya yang akan mengambil sepak pojok," kata Morais dikutip dalam obituarinya yang diterbitkan UEFA. "Pelatih (Anselmo Fernandez) melambaikan tanpa setuju dan saya hati-hati memegang bola, mengucapkan beberapa kepada bola dan dan menciumnya."

"Setelah menendang, saya sudah merasa itu akan menjadi gol. Waktu seolah terhenti saat itu," kenang Morais.

"Takdir sepertinya sudah memiliki suratan sendiri, bola melayang di atas kedua (pemain MTK) dan berakhir di dalam gawang," kata Morais.

"Sungguh sebuah euforia yang luar biasa, sebab gol itu membuat kami mengalahkan MTK dan membawa pulang trofi. Itu jelas bukan gol keberuntungan, sebab saya beberapa kali mencetak gol semacam itu lagi sepanjang karier."