BolaSkor.com - Seusai meraih medali emas SEA Games Manila 1991, Indonesia tak pernah lagi menorehkan prestasi tertinggi di sepak bola internasional. Bahkan di awal millenial, sang Garuda dua kali apes saat bertemu Thailand di final Piala AFF.

Namun satu hal yang bisa dibanggakan pada dekade tersebut adalah keberhasilan Hendro Kartiko dan kawan-kawan meraih kemenangan perdana di Piala Asia. Indonesia sendiri berpartisipasi pada Piala Asia 2004 setelah menjadi runner-up kualifikasi di bawah Arab Saudi.

Bergabung bersama tuan rumah China, Qatar dan Bahrain di Grup A, Indonesia menjadi tim yang paling tidak diunggulkan di grup tersebut. China yang berstatus tuan rumah sudah dikenal sebagai salah satu kekuatan Asia.

Baca Juga:

Timnas Vietnam Akan Kehilangan Setengah Kekuatan untuk Pertahankan Gelar di Piala AFF 2020

Otavio Dutra Senang Bisa Jadi Bagian Sejarah Tim Juara dan Timnas Indonesia

Bahrain menjadi salah satu kuda hitam di tahun tersebut sehingga diharapkan menelurkan prestasi terbaik di Piala Asia. Sedangkan Qatar adalah perempat-finalis di Piala Asia sebelumnya, dan mereka memiliki ambisi tinggi setelah menunjuk Philippe Troussier sebagai pelatih.

Troussier dikenal sebagai pelatih berkarakter yang sukses membawa Timnas Jepang menjadi juara Piala Asia 2000. Pelatih asal Prancis itu juga mampu membawa tim Samurai Biru menembus perempat-final Piala Dunia dua tahun berikutnya.

Namun pada laga pembuka di Stadion Workers, Beijing (18 Juli 2004), Indonesia yang bersua Qatar, mampu tampil spartan. Skuat Merah Putih yang dihuni nama-nama legendaris sekaliber Firmansyah, Syamsul Chaerudin hingga Bambang Pamungkas, berhasil menggulingkan prediksi banyak pihak.

Pada menit ke-25, Indonesia mencuri keunggulan lewat aksi Budi Sudarsono berkat umpan terukur Elie Aiboy. Qatar berusaha bangkit dan membombardir lini pertahanan Indonesia dengan umpan-umpan silang, mengingat postur tubuh pemain Qatar lebih tinggi dari pemain-pemain Indonesia.

Tetapi Warsidi Ardy, Firmansyah, dan Hary Syahputra yang ditampilkan sebagai tiga bek di jantung pertahanan berhasil menahan gempuran tersebut. Ditambah dengan cemerlangnya performa Hendro di bawah mistar, memaksa kedudukan 1-0 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Indonesia berhasil memperlebar kedudukan ketika paruh kedua baru berjalan tiga menit. Meski dijaga ketat pemain lawan, Ponaryo Astaman mampu melepaskan tembakan spektakuler dari luar kotak penalti dan tak mampu ditepis Abdulaziz Ali.

Tertinggal dua angka, Qatar semakin panik dan terburu-buru untuk dapat mencetak gol, sehingga peluang-peluang yang diraih berakhir dengan sia-sia. Baru pada menit ke-83, mereka berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 2-1 melalui gol yang dicetak oleh Megid Mohamed.

Baca Juga:

Masih Yakin dengan Peluang Thailand, Tristan Do Nyatakan Lagi Ambisi Melawan Timnas Indonesia

Media Korea Kenang saat Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong Terpaksa Menjadi Kiper

Kemenangan historis tersebut merupakan tiga poin perdana tim nasional Indonesia di putaran final Piala Asia, dan gara-gara kemenangan Indonesia, pelatih Qatar Troussier, harus rela didepak dari kursinya. Saeed Al-Mesned diberi tanggung jawab untuk menangani tim di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Namun sayang, penampilan ciamik di laga perdana tak diikuti di pertandingan berikutnya. Indonesia kalah telak lima gol tanpa balas dari tuan rumah China dan menyerah pada Bahrain dengan skor 1-3 dengan satu-satunya gol Indonesia di pertandingan ini dicetak lagi oleh Elie.

Hasil akhir menempatkan Indonesia di posisi ketiga Grup A dengan tiga poin, unggul atas Qatar yang hanya mampu meraih satu poin. Sementara Cina dan Bahrain berhak lolos ke perempat-final usai berada di posisi dua teratas babak grup. (Laporan Kontributor Bima Pamungkas/Madura)