BolaSkor.com - Liverpool akan menghadapi Flamengo pada final Piala Dunia Antarklub di Doha, Qatar, Minggu (22/12) WIB. Laga ini adalah ulangan laga 38 tahun silam saat Liverpool dipermak Flamengo 3-0.

Stadion Nasional Tokyo, Jepang, menjadi saksi bagaimana Liverpool tidak berkutik menghadapi Flamengo, 13 Desember 1981 atau 38 tahun silam. Kemenangan yang sangat berkesan bagi publik Flamengo yang saat ini masih menyanyikan lagu soal keberhasilan mereka itu. Nyanyian itu pula yang mengiringi saat Flamengo menjuarai Copa Libertadores tahun ini.

Liverpool yang datang sebagai kampiun Piala Champions untuk pertama kalinya tampil di ajang Piala Interkontinental, ajang sebelum berubah menjadi Piala Dunia Antarklub. The Reds menantang juara Copa Libertadores, Flamengo.

Liverpool datang membawa pemain yang kala itu memiliki nama besar seperti Kenny Dalglish, Graeme Souness, Alan Hansen, Phil Tompson, dan Bruce Grobbelaar. Liverpool menjadi unggulan apalagi sang pelatih Bob Paisley, baru saja menorehkan sejarah sebagai pelatih pertama yang tiga kali juara Piala Champions.

Baca Juga:

Resmi Gabung Liverpool, Takumi Minamino Targetkan Gelar Premier League dan Liga Champions

Kisah di Balik Perburuan Takumi Minamino, Manchester United Tidak Tahu Adanya Klausul Pelepasan Murah

3 Alasan Takumi Minamino Pilihan yang Klop untuk Jurgen Klopp

Meski kalah pamor, Flamengo asuhan Paulo Carpegiani datang ke Tokyo dengan percaya diri tinggi. Apalagi mereka memiliki Zico si Pele Putih.

"Kami bermain di level tertinggi. Tidak pernah terbesit kami akan kalah, tidak oleh Liverpool atau siapa saja. Kami menghormati Liverpool, tapi dengan performa seperti ini, kami saat itu yakin akan menang," kenang Andrade, pemain yang menjadi jangkar di lini tengah Flamengo kala itu seperti dikutip dari The Guardian.

Berbeda dengan Flamengo, Liverpool meski memiliki nama besar, saat itu sedang dalam masa transisi. Bahkan Liverpool berangkat ke Jepang saat menempati posisi kesepuluh di Liga Inggris.

"Sebelum laga pemain-pemain kami saling memberi semangat dan berdoa di tengah musik samba. Itu terlihat aneh bagi pemain Liverpool, mereka tertawa melihat kami," papar Andrade.

"Rekan kami Junior, yang biasa memberi kami motivasi berkata: Lihat, mereka mentertawakan kita. Saat di lapangan kita tunjukkan siapa kita."

"Liverpool adalah tim terbaik di Eropa. Mereka punya bermain berkualitas. Tetapi Flamengo memainkan sepak bola lebih baik. Mungkin mereka tidak menyangka kami sangat kuat," ujar Zico soal kemenangan di Tokyo seperti dikutip The Telegraph.

Kilau Zico

Arthur Antunes Coimbra alias Zico menjadi otak utama dalam kemenangan Flamengo dengan peran langsungnya terhadap tiga gol yang bersarang ke gawang Liverpool.

Baru 12 menit pertandingan berjalan, sebuah umpan jauh Zico berhasil dimaksimalkan Nunes dengan menaklukkan Grobbelaar. Pada menit ke-34 bola hasil tendangan bebas Zico gagal diamankan sempurna oleh Grobbelaar dan bola liar disambar Adilio ke gawang The Reds.

Empat menit jelang turun minum, Zico kembali mengirimkan umpan matang kepada Nunes yang bebas kawalan. Dari sudut sempit Nunes melepaskan sepakan dan bola melesak ke gawang Liverpool.

Seusai laga Paisley langsung melontarkan kritik pedas kepada para pemainnya. "Saya tak pernah melihat tim ini tampil seperti tadi, sangat tumpul, miskin ide, dan malas bergerak. Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi," kata Paisley dikutip dari The Guardian.

Belakangan, Graeme Souness mengungkapkan penyebab penampilan memalukan Liverpool. Souness mengatakan para pemain Liverpool dalam kondisi mabuk dalam penerbangan menuju Tokyo. Selain itu mereka menganggap laga melawan Flamengo tidak begitu penting dan berusaha sebisa mungkin menghindari cedera.

"Saya tidak pernah tahu itu. Itu masalah mereka, bukan kami. Saya tidak tertarik apa yang mereka lakukan di dalam pesawat. Tapi saya percaya tidak ada pemain datang ke lapangan ingin kalah," ujar Zico soal kabar pemain Liverpool mabuk di pesawat.

Kini kedua tim kembali bertemu. Akankah Liverpool membalas kekalahan memalukan 38 tahun silam? Atau Flamengo kembali membuat Liverpool pulang dengan tangan hampa?