BolaSkor.com - Diego Armando Maradona mendapatkan sambutan spesial saat menyaksikan bekas timnya, Newells Old Boy, bertanding melawan tim asuhannya Gimnasia y Esgrima La Plata. Sambutan bak pahlawan diberikan untuk merayakan ulang tahun ke-59 sang legenda pada 30 Oktober.

Menilik perjalanan karier Maradona, ada periode yang menjadi awal segalanya. Bukan saat bersama Napoli, bukan pula Boca Juniors yang selalu identik dengan sang legenda. Periode tersebut adalah ketika Maradona memperkuat Argentinos Juniors, klub profesional pertamanya.

Baca Juga:

Nostalgia - Mengingat Debut Gianluigi Buffon di Timnas Italia dan Perjalanan Menuju Keabadian

Nostalgia - Ketika Pele Menjadi Pencari Bakat Fulham

Nostalgia - Arthur Wharton, Sang Pionir Pembuka Pintu Pemain Kulit Hitam

Tanpa gemblengan di Argentinos Juniors selama lima tahun (1976–1981), bukan tidak mungkin dunia bisa mengenal seorang El Pibe de Oro.

Argentinos Juniors telah lama dikenal di Argentina sebagai tempat lahirnya bintang-bintang. Sebuah tempat di mana beberapa bintang besar lahir dan menjadi legenda. Beberapa peman terbaik Argentina lahir dari akademi Los Bichos Colorados, termasuk Juan Roman Riquelme, Claudio Borghi, Sergio Batista, Fernando Redondo, dan Esteban Cambiasso.

Tetapi ada satu nama yang ada di atas semua. Nama yang diabadikan menjadi stadion mereka di La Paternal, tidak jauh dari pusat kota Buenos Aires, Estadio Diego Armando Maradona. Stadion yang di pintu masuk utamanya tertulis "Pemain terbaik sepanjang masa membuat debut kariernya di stadion ini pada 20 Oktober 1976."

"Argentinos Juniors adalah rumah saya. Setiap kali mendengar nama stadion, saya menggigil," kata sang legenda.

Kiprah Maradona di Argentinos Juniors dimulai ketika berusia delapan tahun. Salah seorang teman masa kecilnya, Goyo Carrizo, sudah terlebih dulu berlatih bersama Argentinos. Ketika pelatih, Francis Cornejo, sedang mencari darah baru, Carrizo, menyebut nama temannya itu.

Beberapa hari kemudian, Maradona tiba di Las Malvinas, tempat latihan Argentinos Juniors. Di sinilah bakat Maradona bersinar. "Orang-orang mengatakan menyaksikan setidaknya satu mukjizat dalam hidup mereka, tetapi kebanyakan tidak menyadarinya. Saya tentu saja menyadarinya," tulis tulis Cornejo dalam bukunya, 'Cebollita Maradona'.

"Mukjizat saya terjadi pada hari Sabtu saat hujan pada tahun 1969, ketika seorang anak berusia delapan tahun, usia yang tidak dapat saya percayai, melakukan sesuatu dengan bola yang tidak pernah saya lihat dalam hidup."

Meski tidak ada yang meragukan talentanya, Maradona sempat dikira berusia lebih muda dari delapan tahun. Hal ini tak lepas dari perawakan mungilnya. Para pelatih curiga bahwa dia lebih muda dari delapan dan khawatir terlalu muda untuk dimasukkan ke dalam sistem pemain muda mereka.

"Mereka memberi saya percobaan. Mereka berpikir saya berbohong tentang umur. Mereka membuat saya harus membawa surat-surat (akta kelahiran) keesokan harinya,” kenang Maradona.

Seiring jalannya waktu, Maradona berkembang di tiap tingkatan. Para suporter pertama kali mengenal Maradona ketika dia bertugas sebagai anak gawang pada sebuah laga Argentinos. Saat jeda babak pertama, Maradona diberikan bola dan diminta untuk menunjukkan kemampuannya di tengah lapangan untuk menghibur penonton.

Maradona mulai memantulkannya dari punggung kaki ke paha, kepala, bahu, dan terus berulang. Saat itulah publik pertama kali melihat talenta seorang Diego. Bahkan pada laga lainnya, saat menjamu Boca Juniors, penonton meminta Maradona terus melakukan aksinya meski para pemain sudah masuk ke lapangan untuk memulai babak kedua. Kepiawaiannya mengolah bola juga membawa Maradona tampil di televisi nasional, di mana dia menampilkan trik menggunakan bola dan jeruk.

Pamor Maradona di Argentinos Juniors melejit sangat cepat. Dalam kurun waktu beberapa tahun dia bisa naik ke tim senior. Pada 1974, pada usia 14, Maradona membawa tim muda menjadi juara. Selepas itu karier Maradona terus menanjak hingga bisa tampil bersama tim utama.

Pada 20 Oktober 1976, masih berusia 15 tahun, Diego Maradona melakukan debutnya untuk tim pertama Argentinos Juniors melawan Tallares de Cordoba. Selama latihan sepekan sebelum laga, pelatih Juan Carlos Montes, memberi tahu Maradona bahwa dia akan berada di bangku cadangan. Montes juga mengatakan kepada Diego muda untuk bersiap-siap jika waktu masuk ke lapangan tiba.

Dan waktu yang dimaksud itupun tiba, di awal babak kedua, dengan Argentinos tertinggal 0-1. "Montes menatap saya, seolah-olah dia bertanya kepada, 'Apakah kamu berani?' Saya memandang balik kepadanya dan itulah jawaban saya," ujar Maradona menggambarkan momen itu dalam otobiografinya, El Diego.

Maradona muda berlari ke dalam lapangan menggunakan jersey ikonik berwarna merah bernomor punggung 16. Melihat anak asuhnya terlihat siap, Montes hanya bisa berkata, "Ayo Diego, bermainlah seperti yang kamu tahu bagaimana. Jika bisa, kamu kolongi (nutmeg) lawan."

Maradona melakukan apa yang diperintahkan. Dia mengelabui dan dengan mudahnya mengolongi lawan yang mengawalnya, Juan Domingo Cabrera. Penonton sontak berteriak "Ole!". "Hari itu saya merasa tangan ini memegang langit," kenang Maradona.

Argentinos Juniors memang kalah pada pertandingan tersebut. Akan tetapi bagi Maradona itu adalah awal dari segalanya. "Saya telah memulai sejarah panjang dan indah bersama Argentinos Juniors. Sebuah sejarah yang tak terlupakan."

Gagal Tampil di Piala Dunia 1978