BolaSkor.com - Saat ini PSSI secara resmi memberikan status Liga 1 dan Liga 2 2020 dengan status force majeure. Hal ini dilakukan oleh PSSI lantaran penyebaran Virus Corona (COVID-19) yang semakin mengerikan di Indonesia.

PSSI menyatakan kompetisi Liga 1 dan 2 2020 ditunda sampai 29 Mei, dalam surat resmi bernomor SKEP/III/2020. Jika kondisi kondusif atau status darurat Virus Corona (COVID-19) dicabut Pemerintah Republik Indonesia (RI), maka kompetisi kembali berjalan 1 Juli 2020. Namun jika Pemerintah RI melajuntkan status darurat Virus Corona, maka kompetisi akan diberhentikan.

Dalam sejarah kompetisi sepak bola Indonesia (Era Perserikatan, Liga Indonesia, hingga ISL), force majeure ini bukan yang pertama dilakukan. Sebelumnya, dalam perkembangannya, kompetisi sepak bola Indonesia pernah bersifat force majeur. Bahkan, kompetisi harus diberhentikan lantaran situasi yang tidak memungkinkan untuk digelar.

Baca Juga:

PSSI Putuskan Kompetisi Bisa Dihentikan dengan Syarat

Wander Luiz, Pemain Persib Bandung yang Positif Virus Corona

Era Perserikatan (1944-1950)

Era Perserikatan
Bond Persib Bandung di Perserikatan 1942. (BolaSkor.com/Istimewa)

Sajatinya ini merupakan kompetisi musim ke-14 Liga Indonesia. Tapi karena perang kemerdekaan di mana Indonesia sedang berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan akhirnya kompetisi ini tidak digelar.

Kompetisi ini baru kembali berjalan pada tahun 1951. Pada tahun tersebut kompetisi ini bernama Kejurnas PSSI, dengan sistem grup dan PSM Makassar menjadi juara pada kompetisi yang digelar pertama kali pasca perjuangan kemerdekaan.

Liga Indonesia tahun 1998

Liga Indonesia tahun 1998
PSIS Semarang juara Liga Indonesia 1999. (Twitter)

Pada tahun 1998, situasi politik di Indonesia sangat memanas di tengah kepemimpian Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Massa turun ke jalan menuntut Soeharto untuk turun dari jabatannya. Ekonomi hingga kegiatan olahraga lumpuh. Termasuk Liga Indonesia yang akhirnya diberhentikan.

Padahal saat itu kompetisi sudah berjalan setengah jalan. Terhitung setiap tim memainkan 14 pertandingan di mana kompetisi berjalan dengan di bagi menjadi tiga wilayah, barat, tengah, dan timur.

Imbas diberhentikan kompetisi ini, tahun 1998 Liga Indonesia tidak memiliki juara. Liga Indonesia ini baru bisa digulirkan lagi pada akhir tahun 1998, akan tetapi bukan memainkan sisa laga, melainkan menggelar kompetisi baru.

Baca Juga:

PSSI Tetapkan Status Force Majeure Kompetisi, Cucu Somantri: Ini Saran dari Klub

Kompetisi Diputuskan Force Majeure, PSS Sleman Gelar Rapat Darurat

Indonesia Super League (ISL) Tahun 2015

Indonesia Super League (ISL) Tahun 2015
Bali United di ISL 2015. (Istimewa)

Ini menjadi tahun kelam Liga Indonesia yang kali itu dengan format Indonesia Super League (ISL). Baru berjalan tiga pekan, kompetisi langsung diberhentikan. Sebenarnya tanda-tanda kompetisi tidak beres sudah tercium ketika pengunduran jadwal kick-off, di mana seharusnya digelar pada Februari 2015, tapi baru digelar baru April.

Salah satu alasan kompetisi ini diberhentikan karena Arema Cronus dan Persebaya ISL yang tetap ikut kompetisi, padahal tidak lolos verifikasi administrasi oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Pemerintah pun campur tangan dalam masalah ini, akhirnya membekukan PSSI. FIFA pun memberikan sanksi kepada PSSI terkait dengan masalah ini. Dampak dari sanksi ini cukup besar.

Timnas Indonesia pun mejadi korban dari sanksi ini dan dilarang bermain di kompetisi Internasional. Peringkat Timnas Indonesia pun menurun tajam dan terus berlanjut hingga kini di posisi ke-173.