BolaSkor.com - Sepak bola selalu menjadi hiburan masyarakat. Itulah yang terjadi di dunia. Hampir mayoritas penduduk di dunia ini menyukai olah raga paling populer tersebut.

Banyak orang yang memiliki klub atau tim favorit. Namun, jika Piala Dunia sudah dimulai, orang yang tidak menyukai sepak bola pasti ikut memeriahkan dengan menatap layar kaca televisi. Menyaksikan turnamen sepak bola paling akbar di muka bumi ini.

Piala Dunia menjadi panggung para seniman lapangan hijau beraksi. Ajang empat tahunan itu juga menjadi tontonan paling populer di muka bumi ini.

Bahkan, Piala Dunia dengan rivalitas di dalamnya bisa menjadi sebuah perdamaian dan persahabatan. Seperti tujuan olah raga termasuk sepak bola, mengedepankan sikap sportif, persahabatan, dan kedamaian.

Baca Juga:

Nostalgia Piala Dunia: Just Fontaine dan Rekor yang Bertahan Selama 60 Tahun Lebih

Nostalgia Piala Dunia: Mengenang Kiprah Pelatih Tersukses, Vittorio Pozzo

Nostalgia Piala Dunia: Epilog Pahlawan Brasil Berkaki Bengkok dan Panjang Sebelah, Garrincha

Laga Amerika Serikat Vs Iran. (Zimbio)

Hal itu sudah terbukti ketika sebuah laga Grup F Piala Dunia 1998 yang mempertemukan Iran kontra Amerika Serikat di Stade Gerland, Lyon, Prancis, 21 Juni sepuluh tahun silam. Laga Iran kontra Amerika Serikat memang tak seseru laga klasik Jerman melawan Belanda, atau Argentina menghadapi Brasil.

Akan tetapi, laga Iran kontra Amerika Serikat ketika itu mengundang perhatian internasional. Bagaimana bisa? Karena laga itu dibumbui unsur ketegangan politik antar kedua negara.

Sejak revolusi Iran 1979, Amerika Serikat dan Iran tidak memiliki hubungam diplomatik. Hubungan keduanya diperburuk dengan ketidaksetujuan Amerika Serikat atas progam nuklir Iran. Begitupun Iran yang tak setuju dengan kedigdayaan Amerika Serikat yang mengatur dunia, buntut dari kemenangan Perang Dingin melawan Uni Soviet.

Jelang laga Iran kontra Amerika Serikat, isu yang beredar ada tujuh ribu teroris sudah mendapatkan tiket pertandingan. Puluhan ribu demonstran Iran juga bakal berunjuk rasa untuk memproteksi laga tersebut. Akibatnya, pihak keamanan Prancis mengamankan laga tersebut dengan ketat.

Laga Amerika Serikat Vs Iran. (Zimbio)

Panasnya laga kembali ditambah dengan seruan pemimpin Iran ketika itu, Muhammad Khatami, agar Iran tidak menghampiri Amerika Serikat ketika berjabat tangan. Sesuai aturan FIFA, tim B harus menghampiri tim A untuk berjabat tangan sebelum kick off. Saat itu, Iran sebagai tim B dan Amerika Serikat tim A.

Media officer Iran, Mehrdad Masoudi, berhasil melakukan negosiasi dengan panitia pelaksana pertandingan dan FIFA. Alhasil, Amerika Serikat yang datang menyalami Iran sesaat sebelum kick off.

Setelah itu, terlihatlah sepak bola sebagai persahabatan dan kedamaian. Penonton bersorak suka cita ketika Iran menyerahkan seikat bunga mawar untuk Amerika Serikat. Ketika sesi foto sebelum kick off, kedua tim berfoto bersama sambil wasit melepas balon berwarna pink sebagai tanda cinta damai.

Ketakutan akan terorisme dan demonstrasi tidak terbukti. Semuanya berjalan baik dan penuh sportifitas di dalam lapangan.

Seikat mawar diberikan pemain Iran untuk Amerika Serikat. (FIFA)

Iran yang kala itu diperkuat Muhammad Khatami, Mehdi Mahdavikia, dan Karim Bagheri bermain dominan. Sedangkan Amerika Serikat ketika itu diperkuat Brian McBride, Claudia Reyna, Frankie Hejduk, dan Kasey Keller.

Iran berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-1 atas Amerika Serikat. Dua gol kemenangan Iran dilesakkan oleh Hamid Estili (40’) dan Mahdavikia (84’). Satu gol Amerika Serikat dicetak oleh Brian McBride (89’).

Meski begitu, keduanya gagal melaju ke babak 16 besar karena kalah bersaing dengan Jerman dan Yugoslavia di Grup F. Namun, laga ini akan selalu diingat sepanjang masa.

Laga di mana seikat mawar bisa menghapus ketegangan politik negara. Serta menegaskan bahwa sepak bola membawa kedamaian.

Pertandingan Iran kontra Amerika Serikat akan kembali terulang di Piala Dunia 2022. Di mana kedua tim tergabung di Grup B bersama Inggris dan Wales.