BolaSkor.com - Stadion Ullevi di Gothenburg, Swedia, menjadi saksi malam yang bagi publik Skotlandia sebagai keajaiban. Di Stadion inilah, 11 Mei 1983, Aberdeen menjuarai Piala Winners setelah mengalahkan raksasa Eropa, Real Madrid 2-1.

Bagi Aberdeen, peristiwa di Stadion Ullevi hingga saat ini merupakan momen paling spesial. Dengan kemenangan itu, Aberdeen bisa menyamai prestasi yang sebelumnya hanya dicapai duo klub Glasgow, Celtic dan Rangers di kancah Eropa. Celtic menjadi juara Piala Champions 1967, sedangkan Rangers memenangi Piala Winners pada 1972.

Di balik kemenangan bersejarah tersebut, muncul satu nama yang kemudian disebut sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia, Alex Ferguson. Ya, ini merupakan gelar Eropa pertama bagi Sir Alex.

Baca Juga:

Nostalgia - Gol Sundulan Jadi Salam Perpisahan Zidane Kepada Publik Santiago Bernabeu

Mengenal Yasir Al-Rumayyan, Calon Pemilik Baru Newcastle United Kepercayaan Pangeran Salman

Megan Rapinoe, Pejuang Emansipasi Perempuan dari Sepak Bola

Nama Sir Alex Ferguson selalu identik dengan Manchester United. Sepanjang 26 tahun bersama Setan Merah Fergie memberikan 38 gelar. Akan tetapi, United bukan satu-satunya tim yang sukses ketika dilatih Fergie. Sentuhan emas Ferguson sudah terjadi bersama Aberdeen.

Ferguson menjadi arsitek Aberdeen sejak Juni 1978 hingga 6 November 1986. Total dia meraih 272 kemenangan dari 459 pertandingan yang dilakoni. Selama delapan tahun bersama, Fergie memberikan 11 gelar dengan Piala Skotlandia menjadi gelar terakhirnya sebelum hijrah ke United.

Yang paling penting, Ferguson mampu membawa Aberdeen sebagai salah satu pengganggu dominasi Celtic dan Rangers yang sulit dihentikan.

Musim 1982-83 menjadi masa terbaik Fergie bersama Aberdeen. Meski tidak menjadi juara liga, Aberdeen sukses meraih dua gelar, Piala Skotlandia dan tentu saja Piala Winners yang menjadi trofi pertama Fergie pada kompetisi Eropa.

Mampu menjuarai Piala Winners setelah menumbangkan Real Madrid tidak hanya mengharumkan nama kota mereka melainkan juga Skotlandia. Piala Winners adalah ajang prestisius yang pernah ada di Eropa. Levelnya mendekati Piala Champions. Dulu, Piala Champions diperuntukkan kepada klub juara liga saja, sedangkan mereka juara piala domestik akan bermain pada kompetisi ini.


Berkat Hujan

Keajaiban di Ullevi bagi Aberdeen sudah dimulai sejak sebelum laga. Kala itu Gothenburg diguyur hujan yang sangat deras. Bahkan sempat muncul wacana pertandingan ditunda karena kondisi yang tidak memungkinkan. Setelah wasit asal Italia Gianfranco Menegali melihat kondisi lapangan, dia memutuskan laga bisa digelar.

"Saat itu hujan sangat deras dan itu tentu sangat membantu kami," ujar Eric Black yang mencetak satu gol dalam laga tersebut.

"Kami tentu saja lebih memilih bermain di bawah hujan. Real Madrid tentu pernah bermain saat hujan, tapi mereka tidak sesering kami. Tentu mereka lebih tidak nyaman," papar Black yang saat itu berusia 19 tahun.

Black melanjutkan, jika diadakan di masa sekarang, laga sudah pasti ditunda. "Jika Anda melihat standar lapangan saat ini, pertandingan itu tidak akan digelar di era modern. Lapangan sangat berat, lebih dari sekadar genangan air. Seiring jalannya laga, lapangan makin berlumpur."

Tidak beda dengan sekarang, Real Madrid kala itu bertabur bintang. Akan tetapi, Fergie membuktikan kalau nama besar tidak menjamin sebuah tim akan meraih kemenangan.

Aberdeen bahkan bisa lebih dulu mengebrak lewat Eric Black ketika laga baru berjalan tujuh menit. Namun pada menit ke-14, Juanito menyamakan kedudukan melalui titik penalti. Hukuman dijatuhkan setelah bintang Madrid Santillana dijatuhkan Jim Leighton.

Tidak ada gol hingga babak kedua berakhir membuat laga dilanjutkan hingga perpanjangan waktu. Pada menit ke-112, pemain pengganti, John Hewitt berhasil mencetak gol setelah kepalanya lebih dulu mengenai bola sebelum kiper Madrid, Agustin, menerjangnya. Skor 2-1 dan bertahan hingga akhir laga.

Bagi Ferguson trofi ini menjadi pencapaian bersejarah. Trofi ini seperti menjawab semua kesulitan terutama pada awal kedatangannya.

Sebagai pelatih muda, tidak semua pemain merasa bisa menerima metode kepelatihan Ferguson yang menekankan disiplin dan kerja keras. Keberhasilan Fergie semakin lengkap ketika beberapa bulan setelahnya, Aberdeen kembali mendapat satu trofi Eropa dalam wujud Piala Super Eropa. Mereka sukses mengalahkan juara Piala Champions 1983, Hamburg.

"Aberdeen bukanlah tempat yang tepat bagi kami untuk mendapat hasil cemerlang jika tanpa Ferguson," ujar Mark McGhee, salah seorang penggawa Aberdeen soal peran Fergie.