BolaSkor.com - Kiprah Inggris di Piala Dunia memang lebih banyak menyisakan kekecewaan ketimbang keriaan. Tampil di semifinal Piala Dunia 2018 lalu merupakan capaian terbaik mereka sejak 1990. Dan, 4 Juli 1990 merupakan hari paling menyedihkan bagi The Three Lions di Piala Dunia.

Inggris menjadi juara Piala Dunia 1966 ketika menjadi tuan rumah. Setelah itu, Inggris selalu pulang membawa kekecewaan. Harapan sempat muncul pada Piala Dunia 1990. Ketika itu mereka berhasil lolos ke semifinal, menantang Jerman Barat, yang merupakan finalis turnamen sebelumnya.

Pada Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia, Inggris berangkat dengan rasa optimisme tinggi. Publik pun menggantungkan harapan tinggi kepada tim asuhan Bobby Robson yang dihuni bintang seperti Gary Lineker, Stuart Pearce, Chris Waddle, dan tentu saja Paul 'Gazza' Gascoigne.

Baca Juga:

Nostalgia - Ketika Anak Muammar Gaddafi Merumput di Serie A

Nostalgia - 24 Juni 1987, Ketika 'Messiah' Hadir ke Bumi

Gol Tendangan Bebas Toni Kroos, Satu-satunya Kenangan Manis Jerman di Piala Dunia 2018

Nama terakhir memang sedang mencuri perhatian dunia dengan pesonanya. Dengan tubuhnya yang gempal, Gascoigne bisa tampil lincah, elegan, dan flamboyan. Aksi briliannya di tengah lapangan mencuri perhatian publik dan lawan.

Pada 4 Juli 1990, Inggris bertanding melawan Jerman Barat pada semifinal di Stadion Delle Alpi, Turin, yang dipadati 62.628 penonton. Setelah imbang tanpa gol di paruh pertama, Jerman Barat unggul lebih dulu lewat gol Andreas Brehme saat laga berjalan 60 menit.

Inggris berhasil menyeimbangkan skor saat waktu normal tersisa 10 menit lewat Gary Lineker. Gol yang membawa Lineker memuncaki daftar pencetak gol terbanyak pada turnamen ini. Hasil imbang selama 90 menit mengharuskan kedua tim menjalani babak perpanjangan waktu.

Memasuki babak perpajangan waktu, optimisme Inggris masih tinggi. Pasalnya mereka selalu keluar sebagai pemenang lewat perpanjangan waktu pada dua laga sebelumnya di babak 16 besar melawan Belgia dan perempat final kontra Kamerun.

Saat pertandingan memasuki menit ke-99, Gascoigne melanggar pemain Jerman Barat Thomas Berthold. Pelanggaran keras yang membuat wasit asal Brasil Jose Roberto Wright mengeluarkan kartu kuning. Melihat kartu kuning, sontak raut wajah Gascoigne berubah. Dia terlihat terguncang.

"Dia tidak akan tampil di final jika Inggris menang di semifinal ini," ujar John Motson yang saat itu menjadi komentator BBC.

Ya, Gascoigne menyadari hal itu. Kartu kuning tersebut berarti dia tidak bisa tampil di laga puncak. Pasalnya pada laga sebelumnya Gascoigne sudah mengoleksi kartu kuning.

Dari layar televisi, tampak jelas wajah Gazza memerah dan tak kuasa menahan air mata. Dia tahu kartu kuning menghilangkan kesempatan dia tampil di Olimpico, Roma.

Laga itu pun berakhir tanpa tambahan gol dan harus diselesaikan lewat adu penalti. Di adu tos-tosan, Inggris menyerah 3-4 setelah tendangan penalti Stuart Pearce dan Chris Waddle gagal. Usai laga, Gazza kembali tak kuasa menahan tangisannya.

Kegagalan Inggris di semifinal Piala Dunia 1990 sangat menyakitkan. Bahkan Inggris sulit melupakan trauma adu penalti di ajang ini. Bayangan kegagalan dituding sebagai biang catatan buruk Inggris tiap kali melakoni adu penalti dalam turnamen besar.

Usai turnamen nama Gascoigne masuk dalam tim pilihan karena performanya yang luar biasa di lini tengah.