BolaSkor.com - Satu di antara momen paling kontroversial di Piala Dunia adalah ketika gol Tangan Tuhan Diego Maradona ke gawang Inggris disahkan. Puluhan tahun berselang, kembali terjadi momen kontroversial yang melibatkan tangan pemain. Kali ini, pemain itu adalah Luis Suarez.

Diego Maradona menjadi buah bibir usai gol menggunakan tangannya ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 disahkan. Gol tersebut membawa La Albiceleste menang 2-1 dan melaju ke semifinal hingga akhirnya keluar sebagai juara.

Gol Maradona itu pun mendapatkan julukan gol Tangan Tuhan. Sebab, wasit seolah kesulitan melihat handball yang dilakukan sang striker. Situasi kian bising karena pada akhirnya Argentina menempati posisi tertinggi.

Beberapa tahun berselang atau tepatnya pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, momen menentukan di mana pemain yang bukan penjaga gawang menggunakan tangannya kembali terulang. Pemain yang melakukannya adalah Luis Suarez.

Kisah bermula dari tim nasional Uruguay yang diperkuat Suarez bersua Ghana pada babak perempat final. Ghana mengusung misi ingin menjadi tim pertama asal Afrika yang bisa melangkah ke semifinal. Semangat kian berlipat ganda karena Ghana menjadi perwakilan Afrika pada babak gugur.

Baca Juga:

Hasil Undian Babak Grup Piala Dunia 2022: Spanyol Saling Sikut dengan Jerman

Dibujuk Lionel Messi, Sergio Aguero Tetap Ogah Masuk Staf Pelatih Argentina

Deretan Fakta Menarik dari Hasil Undian Piala Dunia 2022

Peluang Ghana mengukir sejarah terbuka lebar usai tendangan Sulley Muntari membobol gawang Uruguay yang dijaga Fernando Muslera. Namun, 10 menit kemudian, tendangan bebas Diego Forlan membuat keadaan menjadi sama kuat 1-1.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan usai kedua tim gagal mencetak gol pada waktu normal. Situasi FNB Stadium yang dipenuhi kedua pendukung pun kian tegang.

Jelang babak tambahan berakhir, Ghana mendapatkan peluang emas untuk unggul. Berawal dari kemelut di depan gawang Uruguay, Dominic Adiyiah melepaskan sundulan yang mengarah langsung ke dalam gawang.

Saat itulah Suarez beraksi dengan melakukan penyelamatan menggunakan tangannya. Ia menggerakkan tangannya dengan cepat untuk menepis bola.

Wasit yang melihat tindakan Suarez itu langsung memberikan kartu merah. Ghana juga punya kesempatan unggul melalui titik putih.

Sayangnya, Asamoah Gyan yang ditunjuk sebagai eksekutor gagal melaksanakan tugasnya. Bola hasil tendangan pemain bernomor punggung 3 itu mengenai mistar gawang. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak tos-tosan.

Kejadian itu membuat Suarez sontak kegirangan di pinggir lapangan. Padahal, sebelumnya ia terlihat bersedih saat keluar dari lapangan.

Rupanya, aksi Suarez itu berperan penting dalam melangkahnya La Celeste ke semifinal. Sebab, pada adu tendangan penalti skuad asuhan Oscar Tabarez unggul dengan skor 4-2.

Namun, kemenangan Uruguay itu banyak mendapatkan pandangan miring. Uruguay dianggap melangkah ke simifinal dengan cara tidak sportif.

Kendati demikian, Suarez tidak mau ambil pusing. Dia justru membanggakan penyelamatannya. Ia merasa, julukan Tangan Tuhan sekarang pantas diberikan kepada aksinya. Meskipun, yang kali ini bukanlah mencetak gol, tetapi membendung gol.

"Tangan Tuhan sekarang menjadi milik Saya. Saya melakukan penyelamatan terbaik pada turnamen ini. Terkadang, dalam latihan saya bermain sebagai penjaga gawang. Jadi, itu sudah biasa," tegas Luis Suarez.

Suarez menganggap dirinya adalah seorang yang mengorbankan diri demi kemenangan tim. Oleh karena itu, tidak ada penyesalan.

"Beberapa orang menuding saya kurang sportif. Namun, saya pikir lebih buruk jika seorang pemain mengalami cedera saat ditekel dari belakang padahal akan mencetak gol," kata mantan pemain Liverpool itu.

Menariknya, 12 tahun kemudian, Ghana punya kesempatan membalas dendam atas tindakan Suarez. Ya, Ghana akan berada satu grup bersama Uruguay, Portugal, dan Korea Selatan di Grup H Piala Dunia 2022 Qatar.

Menarik ditunggu apakah Ghana akan bisa membuat Uruguay merasakan kepedihan. Namun, satu yang jelas, Luis Suarez mengundang kontroversi seperti yang dilakukan Diego Maradona pada Piala Dunia 1986.