BolaSkor.com - Aliran musik metal Jurgen Klopp berhasil membawa Liverpool meraih gelar juara liga pertama setelah 30 tahun dengan deretan rekor di belakangnya. Namun, musim depan bisa lain cerita. Pasalnya ada 'orang gila' yang siap mengobrak-abrik tatanan Premier League 2020-21. Manusia gila itu datang dari Inggris bagian utara, tepatnya Kota Leeds, lebih persisnya lagi Elland Road, kandang dari klub Leeds United Football Club.

The Whites, The Peacocks kembali promosi setelah terakhir menjajal kerasnya Premier League musim 2003-2004, hampir 16 tahun silam. Meski berstatus baru promosi, kampiun liga kasta kedua Inggris itu bukan sembarang tim. Mereka punya Marcelo Bielsa, manusia berjulukan El Loco alias 'Si Gila'. Pria itu sosok idola sekaligus guru bagi banyak pelatih generasi baru, salah satunya Pep Guardiola, manajer yang membawa Manchester City dua musim berturut juara Premier League, sebelum dilengserkan Liverpool tahun ini.

Baca Juga:

16 Tahun Penantian Berakhir, Leeds United Kembali ke Premier League

Dari Ridsdale ke Radrizzani, Secuplik Kisah Pasang Surut Leeds United

7 Momen Krusial Marcelo Bielsa Antarkan Leeds United Promosi ke Premier League

Bielsa membawa Leeds mendekap gelar Championship 2019-2020 dengan rekor 93 poin (28 kemenangan, sembilan seri, dan sembilan kekalahan). Torehan selisih gol 42 dengan 77 kali membobol gawang lawan dan 35 kali kemasukan. Sebagai perbandingan, rekor Liverpool di bawah Klopp merajai Premier League dengan torehan 99 poin (32 menang, tiga seri dan empat kalah) dari 37 laga dan memiliki selisih gol plus 50 (82 gol dan 32 kali kebobolan).

Kalau dilihat, Bielsa dan Klopp memang memiliki kesamaan gaya taktik. Sama-sama mengusung permainan menyerang dengan tekanan tinggi sebagai senjata dalam bertahan. Di Inggris, Klopp sukses menyempurnakan Gegenpressing yang mampu membawa Borussia Dortmund melaju ke Final Liga Champions 2013, untuk sekadar menjadi 'juara' ke-2. Taktik andalan Klopp bersama Liverpool lebih dikenal dengan julukan 'heavy metal football'.

Gegenpressing secara garis besar adalah strategi tekanan ketat secara kolektif ketika tim kehilangan bola saat menyerang. Tujuannya ada dua: merebut kembali penguasaan bola secepatnya atau mengacaukan skema serangan balik lawan. Bersama Liverpool, Klopp menyempurnakan dengan variasi-variasi lain yang bikin lawan bingung, sekaligus menghemat stamina pemainnya karena tak lagi monoton menerapkan Gegenpressing. Mereka juga menambal kedalaman skuat menjaga kondisi kebugaran pemain sehingga jarang cedera. Dua momok yang menghantui tim-tim yang menuntut pemain terus bergerak saat ditekan ataupun menguasai bola sepanjang laga seperti asuhan Klopp dan Bielsa.


Orang Gila Lebih 'Sadis'

Jika Klopp kerap dianggap terlalu 'menyiksa' skuatnya saat bermain hingga 'kehabisan bensin' sebelum akhir musim kala Liverpool gagal meraih trofi sejak kedatangannya pada 2015, Bielsa berada di level yang jauh lebih ekstrem. Tidak percaya? Tanya saja langsung ke mantan anak asuhnya di Athletic Bilbao Spanyol dan Olympique de Marseille Prancis.

Bersama Bielsa kedua klub kerap tampil menjanjikan hingga paruh musim, tetapi langsung melempem setelahnya. Semua itu efek filosofi kepelatihan Bielsa, hingga memunculkan adagium di dunia sepak bola istilah Bielsa Effect, merujuk tim-tim jawara tengah musim, tapi gagal juara.

Semua itu berakar dari empat prinsip dasar taktik Bielsa: concentracion (konsentrasi), permanente movilidad (pergerakan terus menerus), rotacion (rotasi), dan repenitizacion (improvisasi). Pemain dipaksa kombinasi lari tiada henti sepanjang 90 menit. Saat lawan menguasai bola, seisi tim harus menekan. Ketika menguasai bola, semua berimprovisasi mencari cara menekan permainan sedekat mungkin ke gawang lawan mencetak gol. Semua dilakukan dengan tempo tinggi. Tentu saja kombinasi empat prinsip itu bakal menguras fisik dan konsentrasi. Bayangkan itu baru satu laga, jika satu musim penuh tidak sedikit pemain yang gempor bertumbangan.

Sudah 30 tahun Bielsa melatih dan tidak mau kompromi soal taktik ideal. Anak asuhnya wajib menerapkan taktik super pressing di semua laga. Di hari baik, skuat Bielsa adalah sedekat-dekatnya satu tim dengan kesempurnaan. Penonton akan dihibur sepakbola teknis nan dinamis, kreatif dan ekspresif, dalam tempo tinggi dari sepak mula hingga peluit panjang babak kedua. Dan pastinya, menyerang habis! Namun, tentu saja di dunia tak ada yang abadi, kerap kali mereka kehabisan bensin, nyungsep setelah bertengger di posisi atas saat tengah musim. Meski begitu, empat prinsip itu menjadi harga mati bagi klub asuhan Bielsa. Keras kepala memang, tapi siapa kita sampai berani mengecam Si Gila?

“Saya terobsesi dengan (sepak bola) menyerang. Ketika saya menonton video sepak bola, tujuannya untuk menyerang, bukan bertahan. Dalam sepak bola saya, dalam bertahan, sangat simpel: Kami berlari sepanjang waktu. Saya tahu bertahan lebih mudah daripada mencipta (peluang),” kata pria kelahiran Rosario, Argentina itu, menjelaskan prinsipnya.

Gila tapi Jenius

Manusia Gila ini memang mendedikasikan hidupnya untuk taktik sepak bola yang dianutnya. Saat sesi latihan, dia mewajibkan anak asuhnya sedikitnya mencoba 29 formasi berbeda. Mereka dijejali latihan teknik dan taktik. Meski mengusung prinsip improvisasi, Bielsa 'membatasi' anak asuhnya berimprovisasi saat berlaga. Semua skenario itu telah disusunnya saat latihan satu hari sebelum pertandingan. Biasanya pada sesi taktik Jumat, Bielsa melatih para pemainnya untuk segala kemungkinan di pertandingan. Bahkan, bisa sampai ratusan skenario menyerang dan bertahan. Setiap skema diulang terus-menerus dalam sesi latihan.

Bagaimana Bielsa memprediksi kemungkinan yang bakal terjadi saat laga? Dia mengurung diri di ruang video dari Senin sampai Rabu menonton ribuan cuplikan video laga calon lawan. Kamisnya, potongan video dan penjelasan yang sudah disiapkan dibagikan kepada tiap pemain. Masing-masing mendapat cuplikan dan berbagai kemungkinan skenario berbeda untuk diterapkan saat berlaga. Wajar deretan pelatih top mulai dari Pep, Antonio Conte hingga mantan anak asuhnya Mauricio Pochettino memuji Bielsa sebagai sosok Jenius yang mengenalkan 'Gelombang Ketiga' dalam dunia kepelatihan.

Tim asuhan Bielsa biasanya akan memulai laga memakai skema khas 3-3-1-3, dengan keunggulan di lini tengah. Formasi ini memungkinkan tim bertahan dengan 7 pemain, dan menyerang dengan 6-7 pemain. Syaratnya, seluruh pemain mampu melakukan transisi dengan cepat dan mengalir tanpa terasa. Balik lagi semua itu butuh kerja sama tim dan kebugaran. Saat laga berjalan, formasi awal bisa tiba-tiba berubah jadi 4-2-3-1 dengan tetap menekankan mobilitas tiap pemain dalam transisi dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya seperti diterapkan Leeds saat juara musim ini.


Inggris Belajar Menjadi Gentlemen dari Si Gila

Kini ancaman Si Gila menggoyang posisi klub-klub mapan Premier League kian kuat karena agaknya dia sudah mulai menemukan obat mujarab untuk "Bielsa Effect" di tanah Britania. Paling tidak selama dua musim menukangi Leeds, inkonsisten melempem setelah paruh musim seperti tim-tim besutannya sebelumnya tidak terulang.

Musim lalu mereka mampu bertengger di urutan tiga besar, tetapi langkah The Whites The Peacocks promosi terjegal di laga playoff kalah dari Derby County agregat 3-4. Hanya saja, Leeds sebetulnya berpeluang otomatis lolos tanpa playoff kalau saja Bielsa tak melakukan kegilaan saat lawan Aston Villa.

Pada laga 28 April 2019 itu mengajarkan orang Inggris arti gentlemen sebenarnya dan yang memberi pelajaran 'orang gila' dari Argentina. Berawal menit 71, detik 20, ketika Mateusz Klich membawa Leeds unggul 1-0. Sayangnya gol ini terjadi ketika pemain Villa, Jonathan Kodija, tergeletak di lapangan setelah berbenturan dengan lawan. Wasit memang tidak meniup peluit tanda pelanggaran, tetapi pemain Villa bersikap pasif berharap lawannya mengusung semangat sportivitas memberi waktu agar rekannya dirawat. Namun, skuat Leeds tetap memainkan bola berujung gol.

Kejadian ini memicu amarah dari skuat Villa. Di pinggir lapangan, Asisten Manajer Villa kala itu John Terry sampai menunjuk-nunjuk Bielsa dengan tangannya. Manajer Dean Smith dibantu beberapa ofisial juga ikut mengerubuti Bielsa. Respons pelatih berusia 64 tahun itu sungguh di luar perkiraan. Bielsa secara mengejutkan berteriak kepada anak asuhnya untuk membiarkan Villa mencetak gol tanpa gangguan.

Begitu wasit Stuart Attwell meniup peluit tanda dimulainya lagi pertandingan, semua pemain Leeds mematung membiarkan Albert Adomah menggiring bola untuk mencetak gol. Hanya bek Leeds Pontus Jonnsson yang masih menghalang-halangi tetapi akhirnya juga tidak berani melanggar titah Bielsa. Tepat menit ke-77 gol bersejarah yang sekaligus memupuskan peluang Leeds lolos promosi tanpa playoff tercipta. “Ini sebuah lelucon!” teriak Jonnsson marah-marah merespons keputusan pelatihnya.

Saat itu Bielsa sebetulnya bisa saja diam dan menghindar baru berkomentar soal kontroversi itu saat jumpa pers usai laga dan Leeds menang 1-0 seperti yang mungkin dilakukan manajer lain. Sebab secara aturan FIFA tak ada yang dilanggar dengan gol yang dicetak pemainnya karena wasit tidak meniup peluit atau menghentikan permainan untuk perawatan. Malah, dia bisa juga menyalahkan balik kubu Villa yang memilih pasif membiarkan gol tercipta, seperti lagi-lagi yang mungkin dilakukan salah satu pelatih lain dalam situasi serupa saat jumpa pers. Namun, tidak bagi Si Gila dari Argentina itu. Ini bukan soal menang atau kalah, sah atau tidak, tetapi prinsip menegakkan keyakinannya tentang sepak bola.

“Kami memang memberikan gol itu kepada Aston Villa, Semua melihat apa yang terjadi di lapangan. Kami bersikap sesuai apa yang kami yakini. Sikap sportif adalah hal yang biasa di Inggris. Saya tidak akan banyak berkomentar soal itu," kata Bielsa usai pertandingan dikutip dari FOX Sports.

Bicara kegilaan Bielsa dalam sepak bola memang tak ada habisnya. Lebih seru menunggu aksi-aksinya membawa Leeds mengarungi kembali Premier League sambil menggoyang dominasi tim mapan setelah 16 tahun absen. Minimal menarik dinanti saat 'orang gila' ketemu 'anak metal' siapa yang bakal menang? Yang pasti Si Gila kini tak lagi takut diseruduk banteng Spanyol dari belakang, malah mungkin balik menanduk anak metal berbaju merah itu karena sudah pindah ke Inggris.

Penulis: Joseph Wisnu Cipto Nugroho