Kolotnya Manajemen Klub

Tak hanya suporter, terkadang manajemen klub juga bersifat kolot dalam menyikapi buruknya peforma tim. Manajemen seperti kehabisan akal menyikapi dorongan suporter. Alhasil, pelatih jadi korban. Padahal, peforma sang pelatih tidak buruk-buruk amat.

Manajemen tak berkaca diri dalam mendatangkan pemain. Pemain datang duluan di saat pelatih belum datang. Seakan-akan tidak ada koordinasi.

Di mana, ada pemain yang memang diinginkan pelatih untuk timnya. Namun, ada pemain yang didatangkan sesuai keinginan manajemen. Ada beberapa oknum manajemen klub di Indonesia seperti mencampuri urusan taktikal pelatih.

Baca Juga:

Beri Bonus kepada Pemain PSS Sleman, Suporter Klub Indonesia Harus Tiru BCS

PSS Sleman Dapat Pengalaman Baru dari Markas Badak Lampung Selain 3 Poin

Manchester United
(Twitter Manchester United)

Contoh Nyata Proses Ada di Manchester United

Mereka seharusnya bisa belajar dari Manchester United. Pada tahun 1986, Sir Alex Ferguson didatangkan. Di awal-awal karier, Sir Alex Ferguson membangun Man United dengan peforma pas-pasan. Hampir terdegradasi.

Buahnya baru dipetik 1990-an, Sir Alex yang diambang pemecatan berhasil membawa Manchester United menjadi juara Piala FA.

Selanjutnya dalam 26 tahun, Sir Alex Ferguson mempersembahkan banyak trofi bagi Manchester United. Dia membawa Man United membalap Liverpool menjadi klub tersukses yang menjuarai Liga Inggris dengan 20 trofi.
Salah satu kesuksesannya juga membawa Manchester United menjadi juara Liga Champions.

Hal yang bisa dipetik dari Manchester United jelas prestasi bisa meningkatkan bisnis tim. Prestasi lahir tidak dengan cara instan, dalam hal pembinaan, pembelian pemain, dan materi pelatih.

Suporter, manajemen, pelatih, pemain, dan seluruh stakeholders klub harus saling sinergi dan bersifat terbuka. Membangun tim dengan penuh keyakinan dan kesabaran. Bukan secara instan.