BolaSkor.com - Inter Milan rela merogoh kocek sebesar 24 juta euro, plus mengorbankan Davide Santon dan Nicola Zaniolo ke AS Roma, untuk mendatangkan gelandang berdarah Batak-Indonesia, Radja Nainggolan di musim panas lalu.

Pemain berusia 30 tahun bereuni kembali dengan Luciano Spalletti di Inter setelah sebelumnya bekerja sama di Roma. Akan tapi, sampai saat ini, performa Nainggolan belum sesuai dengan pengorbanan Inter untuk merekrutnya. Malah, Zaniolo tampil bagus di Roma.

Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab kesulitan Nainggolan bermain dengan Samir Handanovic dkk. Padahal, Inter seharusnya bisa lebih kuat seiring kedatangan pemain berkualitas dan punya teknik yang bagus sepertinya.

Disinyalir, Nainggolan terlalu banyak berulah dengan sikapnya di luar lapangan pertandingan hingga tidak fokus ketika bertanding. Mantan rekan setimnya di Cagliari, Daniele Conti, tahu persis kekurangan Nainggolan yang mudah terjebak dengan hal-hal non-teknis.

Baca Juga:

Radja Nainggolan Punya Perjanjian Khusus dengan Inter Milan

5 Pemain Kondang Eropa dengan Waktu Bermain Kurang dari 1.000 Menit di Kompetisi Liga

Mauro Icardi dan 4 Skandal Perselingkuhan di Dunia Sepak Bola

Radja Nainggolan

"Dia anak bocah di ruang ganti pemain, dia banyak bercanda, jika ada makan malam dengan 50 orang maka dia akan mentraktir mereka semua, dia sangat murah hati dalam hidup, dia punya hati yang besar, kemudian dia seringkali jatuh dalam perangkap-perangkap kecil," tutur Conti di Calciomercato.

Terlepas dari kecenderungan Nainggolan yang kerap bermasalah dengan situasi non-teknis, Conti mengakui dari segi kualitas teknik dan mentalitas, serta karakter yang kuat, Nainggolan termasuk yang terbaik.

"Kenangan paling terindah? Pernah sekali, meskipun tidak pernah bermain di Serie A, suatu hari dia masuk ke ruang ganti dan berkata 'Bagaimana bisa saya tidak bermain di sini?'," tambah Conti.

"Saya memberitahunya dia salah, tapi dia membuat saya memahaminya sebanyak dia percaya kepada dirinya sendiri, aspek ini selalu ada pada dirinya sepanjang karier, meskipun kesulitan dalam sepak bola, dia selalu mampu bereaksi."

"Dari sisi teknik dia pemain hebat, dia akan merebut 100 bola per laganya, untuk seorang pengatur serangan memiliki dirinya dekat sangatlah membantu, dia bisa melakukan segalanya dalam peran di lini tengah, dia melakukan segalanya dengan baik karena dia punya kemampuan fisik yang merusak dan dia telah berkembang dari sisi umpan silang dan melakukan tendangan; saya pikir dia pemain yang komplit," pungkas Conti.