BolaSkor.com - Membicarakan sepak terjang Manchester City musim ini tidak lepas dari kejeniusan Pep Guardiola. Manajer asal Spanyol kembali membuktikan kapasitasnya, memberikan sentuhan kepada tim yang diasuhnya untuk memainkan sepak bola ofensif dan tentunya, menghibur penonton.

Guardiola telah membuktikannya bersama Barcelona dan Bayern Munchen. Kini, ia melakukannya di musim kedua bersama Man City, setelah kegagalan total dari sisi meraih trofi di musim perdananya di Inggris. Berkat sentuhan Guardiola, Man City telah meraih titel Piala Liga, dan berpotensi menambah koleksi trofi tim di ajang Liga Champions serta Premier League.

Magis yang diperlihatkan Guardiola dalam menyulap skuat Man City tak akan bisa terjadi, apabila ia tidak memiliki pemain yang diinginkannya di dalam skuat. Guardiola cukup dimanjakan oleh Man City yang selalu memenuhi tuntutan pemain pilihannya. Termasuk salah satunya, pembenahan di lini belakang, khususnya untuk pasangan bek tengah.

Posisi bermain tersebut cukup unik, karena Guardiola kerapkali merotasi pasangan bek tengah Man City. Ia bisa melakukannya karena memiliki kedalaman yang cukup baik, yang terdiri dari: Vincent Kompany, Nicolas Otamendi, John Stones, dan rekrutan anyar musim dingin dari Athletic Bilbao, Aymeric Laporte. Belum lagi pemain muda asal Inggris, Tosin Adarabioyo.

Bek-bek tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, dengan gaya bermain yang juga berbeda. Atas pertimbangan itulah, Guardiola sering melakukan rotasi untuk pasangan bek tengah. Pola pikirnya ini terbilang unik. Sebab, kebanyakan manajer atau pelatih, cenderung mempertahankan duet bek tengah yang sama dari satu laga ke laga berikutnya, karena ingin kerjasama dan kombinasi keduanya kian padu. Contohnya: Manchester United di era Sir Alex Ferguson, yang memiliki duet bek terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris, pada diri Steve Bruce-Gary Pallister dan Nemanja Vidic-Rio Ferdinand.

Perubahan yang dilakukan Guardiola terlihat saat melawan Chelsea di Premier League. Guardiola memiliki Kompany dan Stones untuk mendampingi Otamendi, namun, ia memilih Laporte. Padahal, bek asal Spanyol baru bergabung dari Bilbao Januari lalu.

Mengenai pemilihannya itu, Guardiola angkat bicara: "Chelsea terkadang bermain dengan 5-4-1 atau 5-3-2. Jika mereka bermain dengan 5-3-2, mungkin kami akan membangun serangan dengan tiga pemain dan bertahan dengan tiga bek. Jika kami bertahan dengan tiga pemain di belakang, di kiri, ada Laporte, karena kaki kirinya, jauh lebih baik ketimbang Otamendi, contohnya, atau John Stones."

"Dengan Laporte, saya dapat menggunakan kedua sistem dan membangun serangan lebih baik. Itulah mengapa, saya menggunakannya di laga tersebut. Mungkin di laga lainnya, ada lagi yang lainnya. Contohnya, terkadang saya memainkan Nico dan Vincent, karena mereka sangat hebat memenangi duel. Secara bertahan, memenangi duel, keduanya sempurna. Di beberapa laga saya membutuhkannya. Di laga lain, saya butuh pemain yang dapat membangun serangan," terang Guardiola.

Guardiola tidak asal berbicara. Statistik juga membuktikan, jika Laporte memiliki akurasi operan terbaik kedua sebagai bek tengah, dengan akurasi mendekati 94,6 persen berbanding 91,8 Kompany dan 91,9 Otamendi. Di urutan pertama, ada Stones dengan akurasi 96,3 persen.

Selain itu, Laporte juga memiliki presisi ketika melepaskan operan jarak jauh, baik itu mendatar atau lambung. Ia memiliki tingkatan sebanyak 1,0, yang berarti, kecil kemungkinan baginya melakukan operan yang tidak akurat. Jadi, Guardiola bisa mengandalkannya, juga dengan Stones, jika ia membutuhkan bek yang dapat membangun serangan dari belakang dengan operan-operannya.

Kemudian, ketika menghadapi tim dengan penyerang-penyerang jangkung yang memiliki keunggulan duel bola udara, seperti Romelu Lukaku di Man United misalnya, maka Guardiola dapat mengandalkan Otamendi dan Kompany. Dihitung per 90 menit pertandingan, Kompany memenangi 2,7 duel bola udara berbanding 2,6 Otamendi.

Kemewahan yang dimiliki Guardiola inilah yang membuat Man City seimbang. Baik ketika berbicara lini bertahan atau penyerangan. Di Premier League saat ini, Man City menjadi tim tertajam dengan torehan 83 gol, serta penilik pertahanan terbaik dengan hanya kebobolan 20 gol. Oleh karenanya, wajar jika Man City disebut sebagai tim terbaik Eropa saat ini.