BolaSkor.com - Bukan Louis van Gaal namanya jika setiap ucapannya tidak memicu kontroversi dan tegas. Julukan The Iron Tulip diberikan kepadanya karena ketegasannya dalam melatih serta mendidik pemain.

Baru ini pelatih timnas Belanda menuturkan komentarnya mengenai Piala Dunia 2022 yang dihelat di Qatar. Menurut mantan pelatih Bayern Munchen dan Manchester United itu memainkan Piala Dunia di Qatar merupakan hal yang konyol.

Van Gaal (70 tahun) dengan tegas menilai Piala Dunia di Qatar tak jauh dari uang dan keuntungan komersil untuk FIFA. Dia menilai motif utama FIFA memainkan Piala Dunia di Qatar karena dua hal tersebut.

“Sekarang, semua orang tahu bahwa saya menganggap itu (Piala Dunia 2022 di Qatar) konyol,” tegas Van Gaal sebagaimana dilansir dari Guardian.

“Sungguh menggelikan bahwa kami akan bermain di sebuah negara – bagaimana cara FIFA mengatakannya? Untuk mengembangkan sepak bola di sana. Itu omong kosong. Tapi itu tidak masalah – ini tentang uang, kepentingan komersial. Itulah motif utama FIFA."

Baca Juga:

Play-off Piala Dunia 2022: Haruskah Portugal Bermain Tanpa Cristiano Ronaldo?

Jadwal dan Informasi Seputar Play-off Piala Dunia 2022

Hadapi Makedonia Utara, Italia Dapat Dukungan Penuh Pemain ke-12

Tak berhenti sampai di situ Van Gaal bahkan lebih lanjut mengutarakan alasannya tak mau menerima tawaran bekerja di FIFA, meski punya pengalaman di UEFA.

“Mengapa Anda berpikir bahwa saya bukan anggota komisi FIFA, dengan keahlian UEFA saya?” imbuh Louis van Gaal.

“Karena saya selalu (menjaga) jarak dengan organisasi semacam ini. Itu tidak benar, tetapi saya dapat mengatakan ini secara langsung tentang Qatar – tetapi itu tidak membantu dunia untuk menyingkirkan masalah ini.”

Van Gaal juga berada dalam komisi di antara Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) yang bertemu setiap bulannya untuk mengevaluasi hak asasi manusia di Qatar. Dia menegaskan KNVB tak pernah setuju Piala Dunia dihelat di Qatar.

“KNVB tidak pernah mendukung penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar dan tentu saja tidak menyetujui cara pekerja migran diperlakukan di sana," urai dia