BolaSkor.com - Pandemi Virus Corona (COVID-19) yang terjadi di dunia membuat aktivitas olahraga dihentikan. Tak kecuali kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 di Indonesia.

Presiden Persebaya Surabaya, Azrul Ananda, pun angkat bicara soal hal ini. Menurutnya, ada tiga syarat yang bisa buat sebuah liga kuat menghadapi krisis finansial di tengah terhentinya kompetisi.

Tiga syarat versi Azrul itu adalah pertama liganya harus sehat. Kedua klub dan tim peserta sehat jika liganya sehat. Ketiga adalah klub sehat sehingga pemainnya nyaman. Urutan itu menurut dia tidak boleh dibolak-balik.

“Kalau urutannya tidak seperti itu terus terjadi pergolakan, plus kalau kena krisis unprecedented seperti pandemi Virus Corona sekarang ini, bisa lebih bertahan hidup dan memikirkan program ke depan,” kata Azrul.

“Semua hak siar atau pemasukan liga lain dikumpulkan jadi satu, lalu klub-klub mendapat pembagian hasil (salah kalau disebut subsidi),” katanya.

Menurutnya, kalau liga yang maju, pembagian hasil inilah yang jadi revenue utama klub. Bukan sponsor di jersey, bukan penjualan tiket pertandingan.

“Liga-liga besar, di banyak olahraga, pemasukan dari liga ini bisa jadi mayoritas, lebih di atas 50 persen,” ujarnya.

Baca Juga:

Wawancara Eksklusif Koko Ari Araya: Next Anang Ma'ruf Terinspirasi Andik hingga Dilirik Shin Tae-yong

Bek Persebaya Surabaya Maksimalkan Waktu di Tengah Pandemi Corona untuk Pemulihan Cedera

Azrul mengatakan membahas business model baru saat ini memang tidak memungkinkan. Butuh waktu, jadi solusinya mungkin pada cost control. Biaya-biaya liga harus lebih dicermati satu-satu, supaya uangnya bisa lebih ke klub, sebagai pengisi acara. Cost control juga harus ada regulasinya untuk klub peserta liga.

Dia mencontohkan regulasi cost control untuk regulasi gaji pemain. Menurut dia hal itu terjadi di banyak liga terbesar di dunia.

"Regulasi itu bisa memaksa klub lebih disiplin dan menginjak bumi. Paling baik kalau menetapkan berapa gaji maksimal pemain berdasarkan sistem yang baik (masa bermain, statistik, dan lain-lain). Sekarang ini di Indonesia masih tidak rasional, masih sangat "how high can you go" dan itu tidak sehat sama sekali,” ujarnya.

Azrul menambahkan, saat ini di atas 70 persen pengeluaran klub adalah gaji pemain. Ribuan penonton, yang mungkin gajinya paspasan, mau mengeluarkan uang untuk menonton pertandingan, dan kebanyakan uangnya lantas ke gaji pemain. Klub hanya jadi tempat lewat. Padahal, kalau ada apa-apa, yang disalahkan justru klub. Jadi, wajar kalau bicara soal cost control, gaji pemain harus paling dipelototi.

Menurut Azrul, tak perlu terlalu ekstrem dulu membuat regulasi soal gaji pemain. Namun bisa lebih dulu diterapkan lewat pembatasan. Misalnya, berapa jumlah pemain muda. Saat ini memang sudah ada aturannya tetapi kurang ditegaskan. Berapa maksimal total jumlah anggota tim baik pemain, pelatih, maupun staf.

“Dan mungkin yang juga punya efek domino adalah mengurangi total jumlah pemain asing. Kalau sekarang empat asing, ya jadi dua atau tiga misalnya,” tuturnya.

Pembatasan jumlah pemain asing tak hanya berdampak pada cost, tetapi juga berdampak pada prestasi tim nasional. “Sekarang ini, klub-klub Liga 1 sangat bergantung pada pemain asingnya. Khususnya pada posisi kunci. Striker, playmaker, bek tengah. Hampir semua,” tuturnya.