BolaSkor.com - Setiap era sepak bola memiliki ceritanya masing-masing. Contohnya seperti catenaccio di Italia, total football ala Belanda, atau tiki-taka Spanyol yang dikembangkan oleh Barcelona.

Saat ini pun demikian. Pelatih-pelatih dari Jerman tengah populer di Eropa karena prestasi mereka dalam beberapa tahun terakhir, sebut saja seperti Hans-Dieter Flick, Thomas Tuchel, Jurgen Klopp, hingga Julian Nagelsmann.

Kesamaan dari mereka dengan gaya main sepak bola yang berbeda adalah penerapan pressing (menekan lawan). Pressing dilakukan dalam fase bertahan dengan upaya merebut bola dari lawan, memaksa lawan melakukan kesalahan.

Mantan pelatih AC Milan, Arrigo Sacchi, melihat pressing sebagai hal fundamental atau penting dalam dunia sepak bola modern. Dia mencontohkan Real Madrid arahan Carlo Ancelotti di semifinal Liga Champions melawan Manchester City.

Pengalaman Ancelotti menjadi faktor penting saat melawan City, termasuk dengan pertaruhannya memainkan pemain muda menggantikan pemain senior. Akan tapi Madrid juga memainkan serangan balik cepat dan juga intens melakukan pressing.

Baca Juga:

Real Madrid Dinilai Tak Layak Masuk Final Liga Champions

7 Fakta Menarik Usai Real Madrid Singkirkan Manchester City di Semifinal Liga Champions

Dikritik karena Ingin Melawan Real Madrid, Mohamed Salah Heran

“Ancelotti menang melawan City seperti yang dia lakukan melawan PSG dan Chelsea, dengan comeback yang terinspirasi oleh pergantian pemain,” tutur Sacchi dikutip dari Football-Italia.

“Dia mengganti beberapa juara dengan para pemain muda yang menjadikan antusiasme sebagai kualitas terpenting mereka. Dia menggantikan semua gelandang di babak kedua: Casemiro, Luka Modric dan Toni Kroos. Bahkan Karim Benzema di perpanjangan waktu."

“Dia bertaruh pada kesegaran Rodrygo, Marco Asensio dan Eduardo Camavinga. Dia membalikkan keadaan berkat Rodrygo, yang mencetak dua gol penentu ketika Manchester City tampaknya telah mengamankan tempat di final."

“Setiap gol datang dari tekanan, mungkin berkat energi para pemain muda dan serangan balik yang cepat," imbuh Sacchi.

Dari performa Madrid itu dengan cara mereka melakukan pressing kepada City, Sacchi menilainya sebagai contoh untuk ditiru tim-tim Italia agar sukses di Eropa.

“Itulah yang harus dilakukan tim kami untuk mengejar kesuksesan di Eropa. Menekan memberi keberanian dan menakuti lawan, memaksa mereka melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan dengan baik: bertahan," imbuh Sacchi.

“Klub asing jauh lebih baik menyerang daripada bertahan. Manchester City membuktikannya dalam dua leg. Karena itu, kami harus menekan mereka untuk menang."

"Sayangnya, setiap klub Italia menggunakan satu atau bahkan dua orang tambahan di belakang, seringkali hanya untuk menjaga satu penyerang lawan. Seperti ini, mereka kehilangan seorang pria di lini tengah dan kehilangan kesempatan untuk mendominasi permainan," pungkas dia.