BolaSkor.com - Tim nasional Italia merilis daftar pemain yang akan dibawa pada Piala Eropa 2020. Dari nama-nama yang menyembul, terdapat kejutan usai Roberto Mancini memanggil penyerang Sassuolo, Giacomo Raspadori. Bagian yang menjadi bahan diskusi kaum skeptis adalah sang pemain belum pernah tampil membela Gli Azzurri.

Giacomo Raspadori mendapatkan satu posisi di lini serang bersama beberapa pemain senior seperti Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Andrea Belotti, dan Federico Bernardeschi. Raspadori menyingkirkan striker lainnya seperti Moise Kean yang tampil impresif bersama Paris Saint-Germain pada musim ini. Selain itu, ada juga Matteo Politano yang kehilangan tempatnya.

Tentunya, Roberto Mancini tak asal mengambil keputusan. Mantan pelatih Machester City itu sabit punya pertimbangan matang di balik pemanggilan Giacomo Raspadori. Terlebih, sang striker belum punya pengalaman membela tim nasional senior. Raspadori juga tercatat sebagai pemain termuda di timnas Italia pada Piala Eropa kali ini.

Dekret Mancini tak lepas dari penampilan menawan Raspadori pada musim 2020-2021. Dari 27 laga di Serie A, striker 21 tahun itu mengemas enam gol plus tiga assist.

Menilik rapor biru Raspadori pada musim ini, satu di antara yang paling menonjol adalah brace ke gawang AC Milan. Sassuolo yang sempat tertinggal 1-0 terlebih dahulu, berbalik membawa pulang tiga poin dari San Siro.

Baca Juga:

Piala Eropa 2020: Kentalnya Aroma Serie A di Laga Pembuka

Daftar Skuad Timnas Italia pada Piala Eropa 2020: Kombinasi Muda dan Senior

Giorgio Chiellini Pensiun dari Timnas Italia Usai Piala Eropa 2020

Giacomo Raspadori

Tak pelak, nama Raspadori kian harum. Sang striker mulai banyak dibicarakan dalam forum. Apalagi, aksi sebelumnya pada duel melawan AS Roma juga bikin kagum.

Hingga saat ini, Raspadori merupakan pemain termuda Sassuolo yang mencetak gol pada pertandingan pertama sebagai starter. Penyerang yang dikaitkan dengan Inter Milan itu membukukan catatan tersebut pada musim lalu ketima melawan Lazio.

Untuk bisa mendapatkan Giacomo Raspadori yang mengilap saat ini, Sassuolo harus mengutus pemandu bakatnya blusukan ke turnamen lokal pada 2009. Ketika itu, Raspadori membela tim muda Progresso.

Sejatinya, pilihan pemandu bakat Sassuolo bukanlah Giacomo Raspadori. Pemain yang membuat jatuh hati adalah kakak dari Raspadori, Enrico Raspadori. Namun, pada akhirnya, I Neroverdi memutuskan memboyong keduanya.

Sassuolo bergerak cepat karena Bologna juga menginginkan Raspadori. Dalam sekali lempar pancing, Sassuolo mendapatkan dua ikan.

Kemudian, duo Raspadori itu pun menempa kemampuan olah bola di akademi Sassuolo. Keduanya sama-sama menempati peran sebagai striker.

"Sassuolo menelepon saya ketika berusia 10 tahun setelah melihat saya beraksi di sebuah turnamen. Kakak saya juga tampil. Dia adalah panutan yang memotivasi saya untuk selalu memberikan yang lebih," sebut Raspadori seperti dilaporkan Gazzetta dello Sport.

Selama periode itu, Giacomo Raspadori banyak menimba ilmu dari sang kakak yang terpaut usia tiga tahun tersebut. Raspadori pengin punya kemampuan kaki kanan seperti kakaknya.

"Dia menggunakan tangan kanan, sedangkan saya tangan kiri. Jadi, saya berlatih untuk belajar menendang dengan kedua kaki. Sekarang, saya merasa lebih presisi dengan kaki kiri dan lebih bertenaga menggunakan kaki kanan."

Sayangnya, kakak beradik itu tak bisa selamanya dalam satu gerbong. Enrico harus meninggalkan Sassuolo setelah dilepas menuju Sasso Marconi. Sebelumnya, ia sempat dipinjamkan ke SPAL U-19.

"Enrico bangga dengan yang saya capai dan dia tidak pernah menunjukkan rasa iri. Dia adalah orang pertama yang saya bandingkan dengan diri saya setelah pertandingan," ungkap sang striker.

Timnas Italia

Sementara itu, Giacomo Raspadori terus merangkai mimpi bersama Sassuolo hingga akhirnya menembus tim senior. Debut Raspadori bersama Sassuolo adalah pada laga terakhir Serie A 2018-2019 melawan Atalanta. Pada duel yang dimenangi La Dea dengan skor 3-1 itu, Raspadori hanya memiliki kesempatan tampil selama satu menit.

Pelatih Sassuolo, Roberto De Zerbi, turut berperan di balik karier Raspadori yang bersinar. Sang juru taktik memberikan kesempatan unjuk gigi untuk Raspadori. Tak hanya itu, De Zerbi juga meletakkan batu pertama dalam proyek menjadikan Raspadori sebagai kapten masa depan Sassuolo.

"Itu adalah keputusan yang mudah karena sebenarnya sudah terpikirkan oleh saya sejak lama untuk memberikan jabatan tersebut. Dia tumbuh di sini dan saya punya fotonya di ponsel saya ketika Raspadori menjadi kapten di tim akademi," tegas De Zerbi seperti dinukil Football Italia.

"Jika bertahan dalam waktu yang lama, saya yakin Raspadori akan menjadi kapten dan maskot Sassuolo. Itu hanya tinggal menunggu sang pemain matang," tambahnya.

Meski terikat erat dengan Sassuolo, Raspadori memilih Inter Milan sebagai klub yang diidolai. Penyerang kelahiran Bentivoglio, Italia, itu menyukai Nerazzurri sejak bocah.

"Bola pertama saya adalah Nerazzurri. Itu adalah hadiah dari ibu dan ayah saat saya ulang tahun pertama. Mereka memilih warna secara acak," kenang Raspadori.

"Tidak ada seorang pun di keluarga saya yang peduli dengan Inter. Namun, begitulah cara saya menjadi penggemar. Hari ini, katakanlah saya tetap menjadi simpatisan," timpalnya.

Raspadori pun punya sejumlah kesempatan menuju akademi Inter Milan. Sayangnya, takdir berkata lain.

"Ketika Inter dan Roma menginginkan saya saat usia 14 tahun, orang tua saya memberikan kebebasan untuk memilih. Saya menolak kedua klub itu karena saya pikir Sassuolo akan lebih tepat untuk pertumbuhan. Faktanya, saya tidak salah memutuskan bertahan."

"Selain itu, saya telah mengikuti audisi untuk Inter Milan dan mereka memberikan tiket untuk pertandingan kontra Palermo. Saya pergi ke San Siro bersama ayah," celoteh Raspadori.

Soal gaya main, Giacomo Raspadori, mencoba menyerap ilmu dari beberapa striker yang juga punya postur tubuh kecil sepertinya. Ia sadar, tak mudah untuk menjadi penyerang tengah, tetapi tidak didukung tubuh tinggi menjulang. Sebagai catatan kaki, tinggi Raspadori hanyalah 172 sentimeter.

"Sergio Aguero adalah penyerang favorit saya. Sepertinya, saya mirip dengannya. Dia mencetak gol dalam berbagai hal dan pada area penalti sangat berbahaya. Dia selalu menemukan celah menembak ke gawang. Aguero juga tahu bagaimana membuat tim bermain."

Giacomo Raspadori

Selain menjadi ujung tombak, striker yang mendulang tiga gol dalam delapan pertandingan bersama Italia U-21 tersebut juga bisa digeser ke posisi sayap kiri. Raspadori juga sempat memainkan peran sebagai second striker. Berdasarkan catatan statistik WhoScored, Raspadori membukukan rata-rata 0,9 tembakan per pertandingan. Sementara itu, akurasi umpannya mencapai 82,6 persen per pertandingan.

"Saya juga menyukai Carlos Tevez karena tekadnya. Dia bertarung dengan segala cara. Antonio Di Natale pun membuat saya terkesan. Hasil di atas segalanya adalah penguasaan bola yang sempurna," papar sang striker.

Sementara itu, dari Inter Milan, penyerang fovorit Raspadori adalah Samuel Eto'o. Raspadori meneladan sikap Eto'o yang tak banyak bicara, tetapi memberikan gelontoran gol.

"Pada usia 10 tahun, saya jatuh cinta dengan Samuel Eto'o yang membawa Inter Milan meraih treble. Saya menyukainya karena dia adalah pemimpin yang pendiam di lapangan. Dia tidak banyak berbicara, tetapi membawa rekan satu tim dengan memberikan contoh."

Bisa dikatakan, Giacomo Raspadori adalah anomali di sepak bola. Meskipun belum punya pengalaman tampil di level senior, Raspadori mendapatkan panggilan memperkuat Italia di Piala Eropa 2020. Kini, bola berada di kaki Raspadori untuk membuktikan Roberto Mancini tak keliru.