BolaSkor.com – Sepak bola merupakan sebuah sistem yang berjalan seirama bak roda yang menggerakkan mesin. Apabila salah satu roda itu rusak maka keseimbangan dalam sistem itu terganggu. Pun demikian di sepak bola. Kesuksesan tidak akan ada jika tak ada sinergi di dalam klub.

Sinergi itu dibangun berdasarkan chemistry atau kerja sama dari pemilik klub lalu ke manajemen yang di dalamnya ada CEO, Direktur Olahraga, staf kepelatihan yang dipimpin kepala pelatih atau manajer, baru skuad dengan pemain-pemain di dalamnya.

Pemain atau pelatih biasanya mendapatkan banyak sorotan karena mereka paling sering menampakkan diri ke publik, namun dewasa ini Direktur Olahraga juga sering disorot karena kaitannya erat dengan transfer pemain.

Baca Juga:

Akhiri Dominasi PSG, Lille Juara Ligue 1 2020-2021

Ironi PSG: Gagal di Eropa, Kini Terancam Kehilangan Takhta Domestik

Profil Jonathan David, Wonderkid dari Kanada Penerus Tradisi Lille

Luis Campos

Direktur Olahraga terkenal yang banyak menghiasi media seperti Paolo Maldini, Leonardo, Monchi, Txiki Begiristain, Marc Overmars. Namun ada satu nama yang luput dari daftar itu tapi tenar di Eropa, khususnya Prancis. Dia adalah Luis Campos.

Ketika berbicara kesuksesan Monaco dan Lille dalam memenangi titel Ligue 1 dalam sedekade terakhir di tengah dominasi kekuatan uang PSG (Paris Saint-Germain), Luis Campos adalah The Invisible Man atau manusia ‘misterius’ di balik kesuksesan itu. Dia mastermind di baliknya.

Melatih Dulu sebelum Jadi Direktur Olahraga

Lahir di Fao Esposende, Portugal pada 6 September 1964, kota kecil di kawasan pesisir pantai berpenduduk 3.000 jiwa, Luis Campos bermain sepak bola di usia muda sebelum belajar di edukasi fisik di Universitas Porto. Jalur yang ditempuhnya seperti Jose Mourinho dan Carlos Queiroz.

Dari situ karier kepelatihan dimulai sebagai pelatih muda klub lokal AS Esposende, lalu setelah lulus berhenti bermain sepak bola dan bergabung dengan SC Espinho – lalu bermain di level teratas Portugal – sebagai pelatih kebugaran.

Dari Espinho, Uniao de Leiria, Campos menjadi asisten pelatih dan pada usia 27 tahun menjadi manajer klub. Kualitas klub yang dilatihnya tidak buruk-buruk amat, tetapi sayangnya Campos lebih dikenal sebagai pelatih gagal yang tak mampu menyelamatkan tim dari degradasi.

Vitoria de Setubal dan Varzim gagal dibawanya bertahan hingga ia punya julukan Luis Campas, Campa dalam bahasa Portugal memiliki arti ‘kuburan’. Meski begitu pemain yang pernah dilatihnya Ali El Omari tidak melihat Campos sebagai pelatih yang buruk.

Luis Campos dan Jose Mourinho

"Dia sangat lugas, dia pekerja keras, dia bersemangat tentang sepak bola dan dia memiliki sisi manusia yang membantu untuk mendapatkan yang terbaik dari para pemain," kata Ali El Omari, yang bermain di bawah Campos di Gil Vicente dan Beira-Mar.

"Dia meninggalkan kesan yang baik dengan sebagian besar pemain yang pernah bekerja dengannya."

Usai pergi dari Beira-Mar pada 2005 Campos sempat tak lagi melatih dan mulai mengajar serta berinvestasi di restoran pinggir pantai, Esposende, tapi sepak bola selalu ada di benak pikirannya.

Bersama dengan mantan pelatih lainnya Americo Magalhaes, Campos membuat sistem Training to Play (T2P), perusahaan yang memberikan peralatan, DVD sesi latihan, dan peranti lunak taktik untuk klub sepak bola hingga itu mengarahkan Campos kepada Jose Mourinho.

Namanya mulai terangkat kembali dan Mourinho membawa Campos ke dalam staf kepelatihannya di Real Madrid. "Saya diundang karena Jose Mourinho mengerti bahwa saya memiliki kompetensi untuk bekerja dengannya,” tutur Campos.

Mulai Bekerja sebagai Direktur Olahraga

Mengais banyak ilmu dari pelatih, asisten pelatih, pelatih kebugaran, hingga Mourinho, Campos meninggalkan Madrid pada 2013 menuju AS Monaco. Pada awalnya dia menjadi penasihat Presiden Monaco, Vadim Vasilyev namun pada 2014 menjadi Direktur Olahraga.

Seluruh ilmu itu dimanfaatkan dengan baik oleh Campos. Eks asisten pelatih Mourinho yang berteman dengan Campos, Aitor Karanka tahu betul antusiasme Campos dengan sepak bola.

Luis Campos di Monaco

"Dia sudah lama berkecimpung di sepak bola di berbagai bidang: pemandu bakat, pelatih, direktur olahraga," tutur Karanka soal Campos.

"Dan dia sangat antusias dengan pekerjaannya. Gairahnya adalah kuncinya. Jika Anda menghabiskan satu jam bersamanya, Anda dapat yakin bahwa selama satu jam dia akan berbicara tentang sepak bola."

Perjalanan Campos sebagai Direktur Olahraga Monaco pun dimulai. Meski pada awalnya merekrut nama-nama matang pengalaman seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, dan Joao Moutinho, ‘mata elang’ Campos mulai terlihat berikutnya.

Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Fabinho, Thomas Lemar, Benjamin Mendy datang ke Monaco dan mereka kemudian dijual dengan harga tinggi usai memenangi Ligue 1 pada musim 2016-2017 di bawah arahan Leonardo Jardim.

"Luis bekerja dengan sangat detail. Dia sangat gigih dan selalu mencari informasi sebanyak yang dia bisa temukan," kenang Jose Morais, yang merupakan salah satu asisten Mourinho di Madrid.
"Dia pria dengan ide-ide yang cukup dinamis untuk mewujudkan sesuatu. Dia seperti wirausahawan."

Setidaknya dari penjualan mereka Monaco mengeruk keuntungan sebesar satu juta milyar euro. Selepas meninggalkan warisannya di Monaco Campos pindah ke Lille pada 2017.

Luis Campos di Lille

Di balik layar Ocampos membantu Christophe Galtier dari Lille yang berjuang keluar zona degradasi, lolos Kualifikasi Liga Champions, hingga juara Ligue 1 2020-2021.

Rekrutannya? Jose Fonte, Zeki Celik, Nicolas Pepe, Rafael Leao, Thiago Mendes yang kemudian dijual dengan harga tinggi dan menjadi pondasi awal Lille. Andil Campos tidak dilupakan oleh Galtier.

"Mengalahkan PSG dalam perebutan titel Ligue 1 sangatlah hebat. Kepada ibu yang tengah berada di pusat rehabilitasi, saya mengirimkan kepada Anda rasa cinta," tutur Galtier dikutip dari Get France Football.

"Ayah yang ada di atas sana, titel Ligue 1 ini untuk Anda. Titel ini sangatlah hebat. Luis Campos (eks Direktur Olahraga Lille) adalah arsitektur tim ini. Saya tak bisa memberitahu Anda betapa saya mencintai skuad ini. Saya sangat mencintai mereka."

Kini Campos tak lagi bekerja sebagai Direktur Olahraga Lille. Akan tapi dengan kejeniusan dan kejeliannya melihat bakat pemain dan merekrutnya murah, bukan tidak mungkin Campos akan