BolaSkor.com - Chelsea mengambil keputusan memecat sang pelatih, Frank Lampard, setelah serangkaian hasil buruk. Namun, menurut gosip yang berkembang, Lampard sempat bersitegang dengan Marina Granovskaia sebelum dimakzulkan. Pertanyaannya, siapakah Marina Granovskaia dan bagaimana perannya di The Blues?

Chelsea menunjuk Frank Lampard sebagai pelatih pada awal musim lalu. Ia menggantikan Maurizio Sarri yang angkat kaki ke Juventus.

Pada saat itu, Chelsea tak mendapatkan Lampard dengan mudah. Alasannya, manajer 42 tahun tersebut masih terikat dengan Derby County.

Setelah negosiasi yang berliku, kesepakatan tercapai. Lampard menjadi pelatih Chelsea dengan durasi kontrak tiga tahun.

Namun, pada musim keduanya, Lampard harus lengser dari kursi pelatih. Hasil buruk diyakini menjadi penyebab sang legenda didepak.

Baca juga:

Thomas Tuchel Bisa Hadirkan Masalah Baru di Chelsea

Ikut Bersimpati, Jose Mourinho Berikan Pesan Menohok untuk Lampard

Dipecat Chelsea, Frank Lampard Bangga dan Kecewa

Marina Granovskaia

"Ini merupakan keputusan yang sangat sulit dan bukan pilihan yang dianggap enteng oleh pemilik dan dewan klub," bunyi pernyataan di laman resmi Chelsea.

"Kami berterima kasih kepada Frank atas apa yang dia capai ketika menjabat sebagai pelatih kepala klub. Namun, hasil dan penampilan baru-baru ini tidak memenuhi harapan klub dan membuat klub di papan tengah tanpa jalur yang jelas untuk memperlihatkan perkembangan."

"Tidak pernah ada waktu yang tepat untuk berpisah dengan legenda klub seperti Frank, tetapi setelah pertimbangan dan pertimbangan yang panjang diputuskan perubahan diperlukan sekarang untuk memberikan waktu kepada klub guna meningkatkan kinerja dan hasil musim ini."

Menilik posisi The Blues di klasemen sementara Premier League, memang ada sebuah anomali. Chelsea hanya menempati posisi kesembilan setelah mengoleksi 29 poin dalam 19 laga.

Selain itu, dari 57 pertandingan bersama Chelsea di Premier League, Lampard hanya menuai 28 kemenangan. Laga lainnya berakhir dengan 11 imbang dan 18 kalah.

Lampard kian cocok menjadi dalang hasil minor karena Chelsea melakukan belanja besar-besaran pada bursa transfer awal musim ini. Total, Chelsea menghabiskan 222 juta euro untuk membeli pemain. Kai Havertz, Ben Chilwell, Timo Werner, dan Hakim Ziyech adalah sebagian amunisi baru.

Pemilik Chelsea, Roman Abramovich, tak ketinggalan buka suara. Ia memastikan Lampard tetap berstatus legenda Chelsea.

"Ini adalah keputusan sangat sulit bagi Klub. Paling tidak karena saya memiliki hubungan pribadi yang sangat baik dengan Frank dan saya sangat menghormatinya," terang Abramovich.

"Dia adalah pria dengan integritas tinggi dan memiliki etika kerja tinggi. Namun, dalam situasi saat ini kami yakin yang terbaik adalah mengganti manajer," imbuhnya

"Atas nama semua orang di Klub, dewan, dan secara pribadi, saya ingin berterima kasih kepada Frank atas pekerjaannya sebagai pelatih kepala. Saya berharap dia sukses di masa depan."

"Dia adalah ikon penting dari klub hebat ini dan statusnya di sini tetap tidak berkurang. Dia akan selalu disambut hangat kembali di Stamford Bridge," ulas sang pemilik.

Marina Granovskaia

Belakangan, mencuat isu jika hasil di lapangan bukan satu-satunya penyebab Lampard dipecat. Namun, Lampard terlibat perselisihan dengan sang direktur, Marina Granovskaia.

Marina Granovskaia geram dengan keputusan Lampard menyingkirkan Kepa Arrizabalaga dari posisi penjaga gawang utama. Lampard lebih memilih Edouard Mendy.

Menurut The Athletic, Marina Granovskaia memiliki pandangan dari segi bisnis. Ia menilai, menempatkan Kepa di bangku cadangan tidak baik karena harga sang kiper akan terus merosot. Padahal, Chelsea menjadikan Kepa kiper termahal dunia ketika memboyong dari Athletic Bilbao.

Lebih lanjut, telinga Marina Granovskaia juga panas karena Lampard terus merengek untuk didatangkan gelandang West Ham United, Declan Rice. Padahal, Granovskaia tidak menyukai penampilan Rice.

Legenda sepak bola Inggris, Michael Owen, telah melihat tanda-tanda ada udang di balik batu dari situasi pemecatan Lampard. Apalagi, Chelsea dikenal sangat kental dengan unsur politik.

"Saya yakin ada cukup banyak politik yang terjadi di belakang layar di Chelsea. Sulit menganggap itu sebagai kejutan karena sudah menjadi bagian klub," ujar Owen kepada Mirror.

Kalau sudah begitu, Lampard salah memilih lawan bertarung. Di balik paras cantik yang dimiliki Granovskaia, ia merupakan pemimpin yang tak segan mendepak orang tidak sejalan. Apalagi, ia berstatus tangan kanan Abramovich.

Marina Granovskaia sudah menjadi orang kepercayaan Roman Abramovich lebih dari 20 tahun lalu. Granovskaia pertama kali bersua sang taipan ketika bergabung dalam perusahaan minyak Rusia yang baru saja diakuisisi pada 1997.

Granovskaia dengan cepat mencuri hati Abramovich dengan kinerjanya yang jempolan. Perusahaan minyak yang dibeli tersebut berhasil dijual 250 kali lipat pada tujuh tahun kemudian.

Tidak heran, Abramovich memboyong Granovskaia saat membeli Chelsea pada 2003. Wanita keturunan Rusia dan Kanada tersebut kembali mendapatkan poin positif dari Abramovich seiring dengan prestasi The Blues yang terus bergerak ke kanan.

Marina Granovskaia lebih banyak bekerja dalam diam. Sang wanita jarang sekali muncul ke hadapan media untuk memberikan pernyataan. Bahkan, ia hanya sesekali menghiasi laman resmi Chelsea.

Menempati posisi sebagai direktur olahraga, Marina Granovskaia punya gagasan jangka panjang yang baik. Lulusan Universitas Negeri Moskwa M.V. Lomonosov itu merupakan otak dari kesepakatan antara Chelsea dengan klub Belanda, Vitesse Arnhem, dalam mengembangkan pemain muda.

Selain itu, Marina Granovskaia juga menjadi inisiator di balik langkah Chelsea memindahkan tempat latihan ke Cobham pada 2007. Hingga saat ini, tempat tersebut dinilai sebagai satu di antara yang terbaik di Inggris.

Sementara itu, di dalam lapangan, prestasi Chelsea juga menuju ke arah yang lebih baik. Chelsea memenangi gelar Premier League, Piala FA, Piala Liga Inggris, Liga Europa, hingga Liga Champions.

Semua tinta emas tersebut memperkukuh posisi Marina Granovskaia di Stamford Bridge. Namun, Granovskaia masih belum berhenti menunjukkan kebolehannya dalam bernegosiasi.

Marina Granovskaia menampilkan kemahirannya ketika menjalin kesepakatan dengan Nike pada 2017. The Blues mendapatkan 60 juta euro dari kerja sama tersebut yang akan berlangsung hingga 2023.

Marina Granovskaia

Sementara itu, untuk urusan jual beli pemain, Chelsea juga mempercayakan pada Marina Granovskaia. Wanita 45 tahun tersebut menjadi lokomotif yang menentukan arah pergerakan The Blues di bursa transfer. Bahkan, manajer Chelsea pun berada dalam bagan di bawah Marina untuk urusan transfer.

Contohnya adalah para era kepemimpinan Maurizio Sarri. Pelatih asal Italia itu tidak bisa menentukan ke mana arah transfer Chelsea. Semua kendali dipegang Granovskaia.

"Aktivitas transfer Chelsea tidak ditentukan oleh Maurizio Sarri. Sarri sudah pernah menyatakan dia terlibat sangat minim dalam urusan transfer," ujar reporter Sky Sports, Kaveh Solhekol, seperti di lansir Express.

"Ya, dia memang memberikan masukkan. Namun, kita dapat melihat dalam kasus Antonio Conte. Dia sangat frustrasi karena tidak bisa mengontrol aktivitas transfer klub."

Menurut Solhekol, Granovskaia tidak segan turun gunung bernegosiasi dengan para agen. Granovskaia akan sibuk dengan teleponnya pada bursa transfer.

"Di Chelsea, banyak hal yang dikontrol Granovskaia. Dia adalah orang yang bernegosiasi dan berbicara dengan para agen."

"Granovskaia adalah sosok penting di balik layar pembelian pemain Chelsea. Dia selalu menelepon selama 18 jam sehari," kata sang reporter.

Keberanian Granovskaia dalam mengambil keputusan di bursa transfer terbukti saat menggaet Fernando Torres dari sang rival, Liverpool, pada 2011. Saat itu, The Blues menggelontorkan dana hingga 50 juta pounds.

Marina Granovskaia kembali unjuk gigi dalam bernegosiasi ketika membawa Diego Costa dari Atletico Madrid. Penyerang asal Spanyol tersebut sedang dalam puncak performa dengan hanya terpaut satu gol dari top skorer LaLiga 2013-2014, Lionel Messi.

Bahkan, ketika direktur teknis Chelsea, Michael Emenalo, mengundurkan diri pada 2017, para perwakilan klub dan agen langsung menuju Granovskaia untuk melakukan bisnis. Hingga lebih dari setahun, The Blues memutuskan tidak mencari pengganti Emenalo.

Marina Granovskaia

Sebelum Lampard, Antonio Conte dan Thibaut Courtois juga merasakan akibatnya jika berseberangan dengan Granovskaia. Keduanya pergi karena keputusan wanita 42 tahun tersebut.

"Pada Maret, Granovskaia dan saya mengadakan pertemuan di mana saya mengindikasikan ingin pergi. Bermain di London dengan jadwal Premier League yang ketat tidak memungkinkan untuk bertemu anak-anak saya yang tinggal di Madrid," tutur Courtois kepada HLN.

"Apakah Anda menemukan sesuatu? Granovskaia bertanya pada saya. Yakin adalah jawaban saya ketika itu. Kemudian, dia berkata kalau begitu kami akan membiarkanmu hengkang dan akan mencari penggantinya," jelas Courtois.

Courtois yang merasa sudah mendapatkan lampu hijau pun mulai bernegosiasi dengan Real Madrid. Namun, Chelsea mendadak tidak mengizinkannya pergi.

Tidak terima akan hal itu, Courtois memutuskan mogok latihan sebelum direstui bergabung Madrid pada tenggat bursa transfer. Tindakan Courtois tersebut membuat namanya tercoreng di hati suporter Chelsea.

Meski kerap ada di pusaran keributan, tetapi Granovskaia tetap wanita yang berprestasi. Menurut Forbes, ia menempati peringkat kelima untuk urusan wanita paling berpengaruh dalam dunia olahraga pada 2018.

Padahal, ketika masa kecilnya, guru-guru Marina Granovskaia sering menganggapnya sebagai "tikus abu-abu", sebuah eufemisme di Rusia untuk menggambarkan seorang pemalu, membosankan, dan tidak menonjol. Namun kini, ia bak macan yang siap menerkam siapa pun yang berani melawan.

Sekali lagi, Marina Granovskaia membuktikan diri sebagai orang yang berkuasa. Ia bisa membuat Frank Lampard kehilangan asa. Biarpun wanita, Marina Granovskaia memang perkasa.