BolaSkor.com - Crotone gagal bertahan di Serie A setelah hanya mengoleksi 22 poin dalam 37 pertandingan. Namun, di tengah musim yang getir tersebut, Crotone memiliki kebanggaan dalam diri Simy Nwankwo.

Memiliki nama lengkap Simeon Tochukwu Nwankwo, Simy lahir di Nigeria pada 29 tahun lalu. Ia mengawali karier profesional di tim Portugal, Portimonense Futebol SAD sebelum akhirnya bergabung dengan Crotone pada musim 2016-2017. Harga Simy ketika itu tak lebih dari 1 juta euro atau lebih tepatnya 850 ribu euro.

Crotone memboyong Simy sebagai bagian dari upaya bertahan di Serie A. Pada musim debut, sang striker mengemas tiga gol dari 21 penampilan di Serie A.

Gol yang dikreasikan Simy turut membantu Crotone tetap bertahan di kasta tertinggi. Pada musim keduanya, Simy mendulang tujuh gol plus satu assist dalam 23 pertandingan. Itu artinya, ketajaman Simy kian terasah.

Sayangnya, kali ini nasib Crotone berbeda. Pitagorici turun kasta dan harus kembali berkutat di Serie B.

Baca juga:

'Melawan Arus' ala Phil Foden di Manchester City

Perjalanan Brendan Rodgers, dari Operator Forklift Jadi Pemenang Titel Piala FA

Profil Sven Botman, Calon Bek Baru Liverpool Jebolan Akademi Ajax

Simy Nwankwo

Meski demikian, Simy tetap setia bersama Crotone. Ia menjadi bagian penting dalam keberhasilan Crotone promosi pada musim ini. Simy mencetak 20 gol di Serie B 2019-2020. Striker 29 tahun itu pun menjadi top skorer Serie B.

Rupanya, ketajaman Simy tidak luntur meskipun level yang dihadapi naik kelas. Simy tetap rajin mencatatkan namanya di papan skor ketika menghadapi kontestan Serie A lainnya. Sejauh ini, torehannya adalah 20 gol dan tiga assist.

Catatan 20 gol untuk penyerang yang memperkuat tim sekelas Crotone pantas mendapatkan acungan jempol. Meskipun, jumlah tersebut masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan pemimpin klasemen pencetak gol sementara, Cristiano Ronaldo (29 gol).

Simy pun melewati jumlah gol penyerang-penyerang dengan nama lebih besar seperti Zlatan Ibrahimovic, Lautaro Martinez, Duvan Zapata, dan Andrea Belotti.

Dalam mencetak gol, Simy didukung dengan postur tinggi menjulang (198 sentimeter). Dengan begitu, ia memiliki kekuatan di duel udara.

"Tinggi saya yang hampir dua meter memberikan keuntungan dan juga kerugian. Dengan kaki dan kepala, saya bisa mencapai tempat yang orang lain tidak bisa," papar Simy.

"Namun, pada ruang sempit saya tahu jika bukan Lionel Messi. Ketika mendapatkan bola, saya harus menembaknya," sambung sang striker.

Ada gula ada semut, mencuat gosip Simy tidak akan ikut Crotone turun ke Serie B. Sebab, sejumlah tim siap menampung Simy. Hal tersebut bisa dimaklumi mengingat penampilan sang striker yang mengagumkan.

Satu di antara tim yang paling tertarik adalah Lazio. Biancocelesti membutuhkan penyerang baru untuk melapisi Ciro Immobile. Selain Lazio, sejumlah klub Premier League dikabarkan turut memonitor.

Simy Nwankwo

Simy pun siap menyambut tantangan berikutnya. Apalagi, kontraknya di Crotone hanya satu musim lagi.

"Saya sudah berada di Italia selama lima tahun. Italia adalah liga terberat untuk para penyerang," tegas Simy kepada Sky Sports.

"Crotone adalah tempat fantastis. Orang-orang dan klub memberikan saya segalanya dan ini adalah momen terbaik dalam karier. Saya pikir, sekarang waktunya untuk memberi lebih banyak lagi," paparnya.

Untuk mencapai tangga karier seperti saat ini, Samy bukannya tak menemui pil pahit. Ia sempat menjadi korban tindakan rasial dari suporter di media sosial.

"Saya akan senang jika putri Anda meninggal karena kanker pankreas," tulis satu di antara komentar di media Sosial Simy.

Simy mencoba menanggapinya dengan kepala dingin. Apalagi, ia mendapatkan dukungan dari pemerintah Crotone. Bahkan, purti Simy yang masih balita sudah mendapatkan gelar warga kehormatan.

"Anda bisa melihat itu datang dari orang-orang bodoh. Kita tidak bisa lagi membiarkan pelecehan rasial dan kebencian menjadi hal yang normal di sepak bola Italia," tegas Simy kepada BBC.

Selain serangan rasial, Simy juga mendapatkan cobaan lainnya soal peluang memperkuat tim nasional Nigeria. Pelatih Nigeria, Gernot Rohr, mengindikasikan Simy tak masuk rencananya.

"Seperti yang saya katakan sebelumya, saya tidak pernah mengikuti perkembangannya. Namun, saya yakin tahun depan dia harus pergi dan bermain dalam tim yang lebih kuat daripada Crotone," jelas Gernot Rohr pada Europa Calcio.

Untuk bisa memperkuat Super Eagles, Simy saling sikut dengan penyerang lainnya yang punya gaya main mirip dengannya.

"Namun, persaingannya sangat besar. Kami memiliki (Victor) Osimhen, (Kelechi) Iheanacho dari Leicester dan (Paul) Onuachu dari Genk yang sangat mirip dengan Simy dalam hal fitur dan fisik," ungkap Rohr.

Kini, Simy sudah ditunggu tantangan selanjutnya. Namun, dengan modal capaian 20 gol, Simy siap menjadi striker yang menonjol.