BolaSkor.com - Istilah 'the next' dalam perbandingannya dengan nama-nama legendaris seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan pemain top lainnya sudah biasa ada dalam dunia sepak bola. Jika tidak 'the next' maka itu 'titisan'.

Intinya, perbandingan selalu dibuat setiap kali membahas pemain-pemain legendaris dengan suksesor yang notabene pemuda bertalenta, berkualitas, dan punya tipikal bermain yang sama. Sudah bosan dengan istilah itu? Bisa jadi.

Faktanya tidak semua pemain dengan embel-embel 'the next' itu sukses dalam karier sepak bola, beberapa di antaranya tak kuat dengan tanggung jawab perbandingan nama besar, sebut saja seperti Alen Halilovic atau Marko Marin.

Baca Juga:

Transformasi Barcelona, Seketika Jadi Kandidat Juara LaLiga 2020-2021

Tak seperti Wijnaldum, Jalan Barcelona Rekrut Depay Lebih Berliku

Deretan Pemain yang Mencetak 20 Gol Musim Ini: Messi Menyusul

Meski begitu tak ada lelahnya publik membandingkan pemuda-pemuda berbakat dengan istilah 'the next' karena dalam perbandingan itu ada harapan, harapan agar generasi baru dapat menggantikan pendahulunya.

Setelah sempat muncul the next Lionel Messi dari Kroasia, Jerman (dan bahkan dari Indonesia), kini istilah itu muncul dari Austria, mengakar kepada pemain berusia 17 tahun dengan nama lengkap Yusuf Demir.

Melejit di usia muda

Yusuf Demir

Lahir di Vienna, Austria pada 2 Juni 2003, Yusuf Demir langsung memulai karier sepak bolanya dengan klub tertua di Vienna, akademi First Vienna pada 2010 dan tiga tahun setelahnya pada usia 10 tahun gabung akademi Rapid Vienna.

Usianya 10 tahun tapi Demir langsung masuk ke skuad U-13 dan kemudian U-16. Kariernya melejit cepat di usia muda dengan kesuksesan terpilih jadi pemain termuda yang memenangi penghargaan Pemain Terbaik U-19 turnamen Mercedes-Benz Junior di Jerman pada 2019.

Kala itu usianya baru berumur 15 tahun dan Rapid finish sebagai runner-up di bawah Liverpool. Setahun setelahnya Demir memenanginya lagi dan kali ini Rapid menjadi juara dengan kemenangan 4-0 atas RB Leipzig.

"Dia memiliki potensi yang luar biasa. Sangat menyenangkan melihatnya bermain sepak bola," kata Steffen Hofmann, legenda Rapid Vienna dan produk akademi Bayern Munchen yang melatihnya di tim U-16 Rapid.

"Dalam setiap sesi latihan Anda bisa melihat dari detik pertama betapa luar biasanya dia. Saya belum pernah melihat pemain seperti dia pada usia ini."

Performa hebat di usia muda pada level tim muda klub membawa Demir ke timnas Austria U-15 dan U-17 dengan catatan: 19 gol dari 22 pertandingan.

Sesuai aturan FIFA selama belum membela timnas senior Demir masih dapat memilih membela timnas senior Austria atau Turki, negara yang mengalir dalam darahnya.

"Dalam hal ini (pilihan soal negara yang dipilih Demir) tidak ada alasan untuk mengubahnya," tutur agen Demir, Emre Ozturk berbicara kepada Spox.

Pemalu yang mengagumi Lionel Messi

Lionel Messi

Pada usia 16 tahun 196 hari Yusuf Demir jadi pemain termuda sepanjang masa yang memainkan debutnya di Rapid pada Desember 2019. Demir masuk sebagai pemain pengganti Veli Kavlak, talenta yang juga diprediksi punya masa depan cerah tapi tak memenuhi ekspektasi, sebab Kavlak kini tak punya klub.

Kombinasi cedera dan pandemi virus corona sempat menghambat perkembangannya, tapi setelah sepak bola berlangsung kembali Demir menjadi pemain andalan Dietmar Kuhbauer di Rapid. Pada usia 17 tahun status itu sungguh spesial.

Melihat permainannya dengan kaki kidal Emre Ozturk tak segan membandingkannya dengan satu nama: Lionel Messi. Dan sang pemain juga mengaguminya, tak heran julukannya adalah Lionel Messi dari Austria.

"Yussi sangat kreatif, menggiring bola dan memiliki kaki kiri yang hebat. Teknik dan visinya luar biasa. Dengan cara dia bermain, dia sangat mirip dengan Messi," terang Ozturk.

"Yussi adalah penggemar berat Messi," tambah Ozturk. "Dia menyukai semua yang harus dilakukan Messi. Dia terbiasa bermain dengan kausnya. Tapi sekarang dia punya miliknya sendiri: Demir, nomor 48."

Ozturk banyak berbicara mewakili Demir, menimbulkan pertanyaan mengapa Demir tak banyak berbicara?

Ozturk menjelaskan bahwa kliennya sangat pemalu dan bukan pemain yang banyak berbicara. "Dia anak yang sangat pendiam. Bukan pemain yang banyak bicara. Itu sebabnya dia tidak suka memberikan wawancara."

Pemalu tapi uniknya keluarga Demir dan mereka yang tinggal di Turki tergila-gila dengan sepak bola. "Seluruh keluarga dan rekannya, semua di sekitarnya tergila-gila dengan sepak bola," imbuh Ozturk.

Gaya Main

Yusuf Demir berkaki kidal

Kaki kidal, gelandang kreatif yang dapat bermain di banyak posisi di posisi ofensif dengan kemampuan mengeksekusi bola mati. Hal itu memicu perbandingannya dengan Messi, terutama setelah Demir mengagumi megabintang Barcelona itu.

Kontrak Demir akan berakhir pada Juni 2022 dan saat ini klub-klub top Eropa terus memantau perkembangannya, salah satunya klub Messi, Barcelona.

"Dia ingin bermain untuk Barcelona suatu hari nanti, tapi kami tidak memikirkannya ketika dia mengambil langkah selanjutnya," kata Ozturk.

"Kemungkinan besar Jerman. Kami sudah melakukan kontak dengan beberapa klub. Telepon saya berdering setiap beberapa hari dan tim potensial baru menjawab."

Karier Yusuf Demir dengan julukan Lionel Messi-nya Austria baru dimulai. Menarik untuk dinanti masa depan Yusuf Demir, akankah ia menjadi 'the next' gagal lainnya atau 'the next' sesungguhnya.