BolaSkor.com - Wakil Ketua Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF), Tran Quoc Tuan melihat kesulitan menjalankan dua laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala Asia 2023 putaran kedua pada Maret. Mengingat dua pertandingan hanya berjarak lima hari.

Ia memberikan contoh Malaysia. Sesuai jadwal, Timnas Malaysia harus bertandang ke Uni Emirat Arab (UEA) pada 25 Maret. Sedangkan 30 Maret, Malaysia sudah harus menjamu Vietnam.

Tentu hal ini berbenturan dengan aturan karantina yang diterapkan. Malaysia sebelumnya memberlakukan aturan karantina selama 10 hari dari luar negeri.

"Jika mematuhi aturan pencegahan pandemi di negara bersangkutan, maka tidak ada waktu yang cukup melakukan karantina," kata Tran Quoc Tuan dikutip dari Tienphong.

Baca Juga:

Timnas Indonesia Senior Akan Dipersiapkan, Massa Otot Jadi Perhatian

Timnas UEA Hadapi Irak, Shin Tae-yong Lakukan Pemantauan

"Vietnam bisa mengontrol pandemi COVID-19 dengan baik. Oleh karena itu, kami bisa menyelenggarakan event olahraga dan sepak bola seperti V-League (Liga Vietnam). Namun di banyak negara lain, pandemi masih rumit. Kami telah bertukar pendapat secara internal untuk AFC supaya punya rencana komprehensif," jelas Tran Quoc Tuan yang juga bagian Komite Kompetisi AFC.

Menurut Tran Quoc Tuan, AFC mempelajari rencana penyelenggaraan secara terpusat di suatu negara. Namun ada kerumitan selain faktor teknis.

AFC perlu mempertimbangkan faktor lain seperti keuangan, pendanaan, kemitraan untuk menyelenggarakan sisa kualifikasi secara terpusat.

Hal senada sebelumnya juga disampaikan Sekjen Federasi Sepak Bola Thailand (FAT), Patit Supaphong. "Dengan format kandang dan tandang, itu mungkin tidak selesai dalam sebulan."

"Regulasi masing-masing negara tidak sama. Misalnya Thailand harus dikarantina 14 hari. Kalau keluar harus dikarantina 14 hari. Ketika persaingan selesai, Timnas Thailand harus 14 hari lagi saat kembali. Artinya hanya satu pertandingan memakan waktu hampir sebulan."

"Jadi menurut saya jika digelar pada Juni, maka harus memakai format terpusat seperti Liga Champions Asia 2020 memilih Qatar. Tentu harus ada kesepakatan antar timnas di satu grup, setuju atau tidak," kata Patit dikutip dari Khaosod.